Setelah sukses dengan jalur kereta api Madiun–Ponorogo, SS kemudian melanjutkan pembangunan jalur Ponorogo. Kali ini, pembangunan jalur ini dibagi menjadi 2 (dua) segmen, segmen pertama; Ponorogo–Sumoroto dengan panjang 7km dibuka pada tanggal 1 Desember 1907 dan segmen kedua; Sumoroto – Badegan dengan panjang 10km dibuka pada 1 Agustus 1922 sehingga total panjang kurang lebih 17km. Jalur ini berlokasi di kiri (setelah Stasiun Ponorogo sampai Stasiun Sumoroto) Jalan Raya Ponorogo–Wonogiri dan bergeser ke kanan dari Stasiun Sumoroto sampai Stasiun Badegan. Sesampainya di Stasiun Sumoroto terdapat jalur cabang menuju Kecamatan Parang. Jalur tersebut merupakan jalur lori yang digunakan untuk mengangkut batu gamping dan kayu jati.[1][2][3][4]
Jalurnya dibongkar oleh pekerja romusaJepang pada tahun 1943[6] dan bahkan nama-nama stasiun di jalur ini tidak tercatat dalam daftar stasiun yang dibuat oleh DKA tahun 1950.
Jl. Nias dahulu merupakan lokasi belokan rel kereta dari Stasiun Ponorogo menuju Stasiun Badegan, jalur ini ditutup dan di bongkar pada masa penjajahan Jepang.
Jalan Nias yang dahulunya merupakan bekas jalur KA Ponorogo–Badegan. Arah foto menuju Stasiun Ponorogo.
Jalan lurus ke depan dahulunya merupakan jalur kereta api Ponorogo–Badegan. Arah foto menuju Stasiun Badegan.
Kondisi jalur yang telah menjadi jalan kampung, tampak di depan jalur berbelok kiri memasuki area Stasiun Sumoroto.
Kondisi jalur yang telah menjadi jalan kampung, belakang arah fotografer mengarah ke Stasiun Badegan.
Sisa abutment yang berada sebelah barat Stasiun Sumoroto, kanan foto rel akan menyebrangi Jalan Raya Ponorogo-Wonogiri.