Versi Serat Centhini
Kisah hidup Jaka Linglung diceritakan oleh Ki Jatipitutur, juru kunci Kasanga (di wilayah Gabus, Grobogan), kepada Jayengresmi. Ki Jatipitutur juga menyebutkan lima tempat lain di wilayah Kasanga yang berupa sumber lumpur, yaitu Bedhug, Kuwu, Crewek, Mandhikal, dan Sedang Ramesan.[1]
Cerita dimulai dari Aji Saka yang telah menjadi prabu di Medang Kamulan. Ia terbiasa berburu di hutan dan gunung tanpa diiringi prajurit. Pada suatu ketika, ia membunuh seekor ular raksasa yang sedang bertapa dengan panahnya sehingga dirinya menerima kutukan. Setelah itu, Aji Saka bertamu ke rumah Nyi Janda Kasiyan di Desa Sangkeh yang memiliki putri kecil bernama Rarasati. Saat ia tiba, Nyi Janda sedang mengawasi para wanita menumbuk padi dan putrinya yang beranjak remaja ikut menumbuk. Rarasati selalu diikuti induk ayam kesayangannya yang berwarna putih bersih. Aji Saka bernafsu saat melihat kemolekan Rarasati sehingga nutfahnya menetes ke tanah, demikian pula dengan Rarasati. Ayam katai peliharaan Rarasati memagut keduanya sementara Aji Saka pulang karena malu.[1]
Ayam katai Rarasati bertelur beberapa hari kemudian dan telurnya disimpan Nyi Janda di tempat penyimpanan beras. Ternyata beras di sana terus bertambah meskipun tiap hari ditanak. Selanjutnya telur tersebut diletakkan di lumbung hingga menetas seekor ular. Saat Nyi Janda melihat ular besar di dalam lumbungnya, ia berlari ketakutan hendak melapor kepada patih. Ular tersebut keluar dari lumbung menemui Rarasati sambil memanggilnya ibu, Rarasati juga berlari ketakutan. Akhirnya ular tersebut menjelaskan perihal dirinya yang merupakan putra dari Aji Saka dan Rarasati kemudian meminta untuk dibawa ke istana.[1]
Aji Saka murka karena ular naga tersebut mengaku sebagai anaknya, terutama karena dirinya masih perjaka dan belum menikah. Setelah diberi penjelasan oleh sang ular, Aji Saka menjadi malu kemudian mengutusnya ke laut selatan menghadapi buaya putih penjelmaan Dewatacengkar sebelum diakui sebagai anak serta mencarikannya tunangan. Ular naga melesat ke laut selatan dan berkelahi dengan buaya putih selama beberapa hari dan menang. Kemenangan tersebut disambut bahagia oleh Ratu Anginangin yang selanjutnya memberinya hadiah memerintah di laut selatan selama tujuh hari, menjodohkannya dengan putrinya Nyi Blorong yang cantik, bersedia menjadi tunangan Aji Saka, dan memberinya gelar Linglung Tunggulwulung. Ia diberi ramalan akan merajai makhluk halus di gunung-gunung. Setelah tujuh hari, Jaka Linglung memohon pamit untuk pulang, Ratu Anginangin melarangnya melalui jalan yang sama seperti ia berangkat. Akhirnya ia pulang dengan cara menembus bumi dan muncul ke permukaan untuk melihat apakah sudah sampai. Tempat ia keluar dari dalam bumi berubah menjadi berbagai sumber lumpur.[1]
Setibanya di istana, Aji Saka mengangkatnya menjadi Pangeran Adipati dan menyuruhnya tinggal di Tunggulwulung. Namun, Jaka Linglung menghabiskan seluruh unggas di kediamannya sehingga Aji Saka memanggilnya dan mengajarinya ilmu kasar halus. Ia kemudian bertapa menganga di hutan selama bertahun-tahun sampai seluruh tubuhnya ditumbuhi semak belukar dan tidak kelihatan lagi. Pada suatu hari, ada sembilan anak gembala yang hendak berlindung dari hujan. Delapan anak masuk ke dalam mulut Jaka Linglung yang dikira mereka gua, sementara yang seorang dilarang masuk. Anak tersebut memanjat punggung Jaka Linglung kemudian membacokkan kudi ke punggung yang dikiranya adalah tanah, Jaka Linglung segera mengatupkan mulutnya sehingga kedelapan anak gembala yang lain mati. Anak kesembilan berlari pulang ketakutan.[1]
Prabu Aji Saka yang mendengar berita tersebut menjadi marah dan memerintahkan untuk memasak mulut Jaka Linglung sehingga akhirnya mati di tempat. Ki Jatipitutur sebagai juru kunci Kasanga menjelaskan bahwa Jaka Linglung tinggal di bawah Kasanga dan terkadang memberikan pertanda (ramalan) melalui ledakan lumpur di Kasanga yang "tingginya melebihi gunung".[1]