Jajang (590–658) merupakan seorang biarawan yang lahir sebagai Kim Seonjong, ke dalam keluarga kerajaan Kim, di kerajaan Silla. Ia berjasa dengan mendirikan kuil Tongdosa pada tahun 646 M, dekat yang sekarang Busan, Korea Selatan, dan memainkan peran signifikan di dalam pengadopsian Buddhisme sebagai agama nasional Silla.
Latihan
Pada tahun 636 Jajang pergi ke Cina untuk belajar dibawah para master Buddha dari Dinasti TangCina,[1] for seven years[2] menjadi seorang taeguksa (Biarawan Nobel yang Agung) setelah kembali, menerima penghargaan tertinggi dari Ratu Seondeok.
Harta
Ketika Jajang kembali dari Cina ia diberikan sebuah pusaka suci yang tak ternilai harganya: sebuah fragmen dari tengkorak Sakyamuni Buddha, sebuah mangkuk pengemis dari kayu dan jubah monastik Buddha, dan 100 "sarira" Buddha (mutiara atau manik-manik seperti kristal yang konon ditemukan di antara abu kremasi guru spiritual Buddha).
Reputasi
Karena pikirannya yang tajam ia berulangkali diminta oleh Raja untuk menerima sebuah posisi yang bertanggung jawab di istana. Jajang berulangkali menolak permintaan tersebut hingga akhirnya Raja mengumumkan sebuah ultimatum: "Jika kau tidak menerima posisi pejabat yang aku berikan, aku akan memenggal kepalamu atas ketidakpatuhanmu." Jajang menjawab "Hamba lebih baik mati daripada menyimpan perintah Buddha selama satu hari daripada hidup selama seratus tahun melanggarnya." Raja melihat kebijakan di dalam jawaban Jajang mengizinkan Jajang untuk tetap tinggal sebagai seorang biarawan.[3]
Kuil-kuil
Jajang mendirikan banyak kuil namun Tongdosa, salah satu dari Kuil Tiga Mustika Korea, dianggap yang terpenting.
↑Adams, Edward (1983). Korea Guide - A Glimpse of Korea's Cultural Legacy. Seoul, South Korea: Seoul International Tourist Publishing Company. hlm.208.