Jajah Koswara (terkadang ditulis sebagai Yayah Koswara, 9 Desember 1941–17 Maret 2011) adalah seorang akademisi dan guru besar ilmu pertanian di IPB yang dikenal karena mengembangkan jagung hibrida di Indonesia. Beliau menjabat sebagai Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dari tahun 1989 hingga tahun 2002, di mana beliau mengembangkan skema hibah kompetitif dan sistem voucher.
Masa kecil dan pendidikan
Jajah lahir di Sumedang pada tanggal 9 Desember 1941. Kedua orangtuanya bekerja sebagai guru, sedangkan kakek dan neneknya bekerja sebagai petani. Jajah menggambarkan ayahnya sebagai pribadi yang tegas dan disiplin, sedangkan ibunya mengajarkannya keterampilan dasar rumah tangga dan membuka sekolah pelatihan menyulam untuk memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga.[1]
Sebagai seorang guru, orang tuanya harus berpindah tempat dari kota ke kota. Setelah menamatkan kelas 2 SD, Jajah mengikuti orang tuanya ke Bandung dan bersekolah selama beberapa tahun di sana. Dia kemudian melanjutkan studinya di sekolah menengah pertama di Bandung. Sebelum menamatkan SMP, orang tuanya pindah lagi ke Cirebon. Ia menamatkan pendidikan SMP di Cirebon pada tahun 1959.[1]
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Jajah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) sekaligus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung. Meski begitu, ia memilih jurusan pertanian di UI karena latar belakang keluarganya sebagai petani. Jajah terpilih menjadi ketua asrama mahasiswa dari tahun 1962 hingga 1963. Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1964, setelah fakultas pertanian UI memisahkan diri menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB).[2] Dia merupakan mahasiswa yang lulus paling cepat di angkatannya.[1]
Sebagai bagian dari program kerjasama antara IPB dan Universitas Wisconsin–Madison pada tahun 1970, sejumlah dosen IPB dikirim ke universitas tersebut untuk mengembangkan studi pascasarjana IPB. Jajah dan beberapa dosen IPB lainnya (termasuk menteri pertanian Soleh Solahudin) dikirim untuk belajar di universitas tersebut.[3] Ia memperoleh gelar magister dari universitas tersebut pada tahun 1973[4] dan gelar doktornya pada tahun 1975.[2] Pembimbing doktoralnya di universitas tersebut adalah John W. Pendleton[5] dan tesisnya berjudul Pengaruh Nitrogen dan Populasi Tanaman terhadap Produksi Jagung: Studi Periode Pematangan Gabah dari Lima Varietas Jagung di Indonesia.[6]
Karier akademis
Setelah menerima gelar sarjananya, Jajah pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1965 dan menjadi asisten peneliti agronomi di Universitas Negeri Iowa selama dua tahun. Dia kemudian kembali ke Indonesia dan mulai mengajar agronomi di almamaternya pada tahun 1967.[1]
Selama studi doktoralnya, Jajah memulai penelitiannya untuk mengembangkan varietas jagung hibrida. Ia juga memperkenalkan varietas jagung manis di Indonesia pada akhir tahun 1970-an dan mulai mengembangkan jagung muda yang sesuai dengan iklim pertanian Indonesia.[1] Menurut peneliti jagung M. Syukur, Jajah sering membawa potongan jagung manis rebus ke kelasnya untuk dicicipi oleh murid-muridnya.[7]
Varietas jagung hibridanya yang diberi nama IPB-4 berhasil dibudidayakan pada tahun 1985. Varietas jagung IPB-4 kemudian dibudidayakan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Pandeglang di Jawa Barat. Kontribusinya terhadap pertanian di Pandeglang membuatnya dianugerahi hadiah sebesar 3 juta rupiah dari DPD Golkar Jawa Barat. Dua tahun kemudian, tepatnya pada September 1987, ia menerima penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk varietas jagung IPB-4 miliknya.[2] Pada tahun 1993, ia menerima Penghargaan Ikatan Insinyur Indonesia dari Ketua Dewan Pembina Ikatan Insinyur Indonesia, B. J. Habibie, atas penemuannya. Universitas Wisconsin–Madison kemudian memberinya gelar doktor kehormatan atas penemuannya pada tahun 1991.[8]
Selama bertugas di IPB, Jajah menjabat sebagai Wakil Dekan II Fakultas Pascasarjana IPB dari tahun 1983 hingga 1989. Bersama Rektor IPB Andi Hakim Nasution dan akademisi ilmu pertanian Freddy Rumawas, ia mengembangkan Kegiatan Pengumpulan Kredit (KPK) antara mahasiswa pascasarjana pertanian IPB dengan Universitas Andalas.[9]
Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (1989–2002)
Pada 14 Maret 1989, Jajah dilantik sebagai Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, menggantikan suaminya, Oetit Koswara, yang memasuki masa pensiun pada tahun itu.[10] Dia menjabat sebagai direktur selama tiga belas tahun hingga 2002, di bawah tiga direktur jenderal yang berbeda dan enam menteri yang berbeda.[11] Jajah bertanggung jawab untuk memperkenalkan dan mengembangkan berbagai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, seperti skema hibah penelitian kompetitif, sistem voucher, dan program penelitiian di universitas untuk mahasiswa pascasarjana (URGE, University Research for Graduate Education). Pada tahun 2001, ia memperkenalkan Program Kreativitas Mahasiswa yang didanai pemerintah, yang terdiri dari kreativitas mahasiswa dalam penelitian, penerapan teknologi, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, dan penulisan ilmiah.[12]
Skema hibah penelitian kompetitif (1989–2002)
Salah satu pekerjaan utama Jajah sebagai direktur adalah pengembangan skema hibah penelitian kompetitif, yang diperkenalkan pada tahun 1988 oleh suaminya. Skema hibah tersebut didasarkan pada kesulitannya dalam menemukan sponsor untuk penelitian jagung hibridanya.[13] Sebelum skema tersebut diperkenalkan, penelitian di universitas negeri yang lebih besar didanai oleh biaya kuliah mahasiswa dan disebarkan secara merata di antara staf akademik. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang bertanggung jawab yang diperuntukkan bagi pengelolaan perguruan tinggi negeri, hanya menyediakan dana penelitian yang sedikit dan jarang.[12]
Pendanaan awal skema ini berasal dari Pinjaman Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD) untuk Proyek Pengembangan Pendidikan Tinggi dan dirancang setiap tahun selama tiga tahun. Skema tersebut mencakup sistem evaluasi dan pengawasan yang ketat, serta insentif bagi penelitian untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka di seminar nasional. Program tersebut kemudian diperpanjang selama tiga tahun dan tambahan $15 juta ditambahkan ke pendanaan. Keberhasilan skema awal tersebut menyebabkan skema tersebut ditetapkan sebagai Program Penelitian Multitahun Hibah Kompetitif, dengan proposal penelitian untuk program tersebut ditinjau oleh Dewan Riset Universitas dan hasil akhir penelitian dipresentasikan di hadapan pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta birokrat tingkat atas lainnya. Program hibah kompetitif memiliki dana per tahun terbesar dibandingkan dengan hibah penelitian yang disponsori pemerintah lainnya.[12]
Sistem voucher (1994–2002)
Sistem voucher digagas Jajah pada tahun 1994 atas permintaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro. Wardiman, yang prihatin dengan rendahnya kualitas UKM Indonesia dan minimnya tingkat kompetitifnya di pasar global, bermaksud untuk menciptakan sistem yang menghubungkan UKM dengan perguruan tinggi. Sistem voucher memungkinkan UKM untuk meminta voucher dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang dapat digunakan untuk meneliti produk mereka dengan menggunakan fasilitas universitas. Universitas kemudian dapat menukar voucher tersebut dengan penggantian dana penelitian.[12][14]
Jajah menggambarkan sistem ini sebagai "perubahan mendasar dalam sejarah penerapan teknologi tepat guna secara langsung pada usaha kecil dan menengah". Meski pagu anggaran tiap voucher ditetapkan 10-15 juta rupiah, tetapi realisasi penggantiannya jauh lebih rendah, sehingga mengundang keluhan dari perguruan tinggi. Wardiman menyatakan bahwa penggantian minimum dimaksudkan "sebagai dorongan agar lembaga lain dapat membantu UKM".[14]
Program URGE (1995–2001)
Jajah ditugaskan sebagai pemimpin proyek program penelitiian di universitas untuk mahasiswa pascasarjana (URGE),[15] yang juga didanai oleh IBRD dan pemerintah Indonesia. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas program pascasarjana di perguruan tinggi negeri dengan menghubungkannya dengan pengembangan kapasitas penelitian. Program ini merupakan program pertama dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia yang menyediakan dana dalam bentuk hibah blok.[12]
Program tersebut terdiri atas beberapa jenis hibah: Hibah Pusat, Program Hibah Tim untuk Penelitian Pascasarjana, Program Akademisi Muda, Program Pelatihan Pra-Sarjana Dalam Negeri, Program Sandwich, Program Jurnal Ilmiah, Program Seminar Penelitian Internasional, Program Keterkaitan Penelitian Internasional, dan Program Hibah Penelitian Kolaboratif Dalam Negeri. Program URGE dilaksanakan dari tahun 1995 hingga 1999, meskipun diperpanjang selama dua tahun hingga tahun 2001.[12]
Masa pensiun
Setelah menjabat sebagai direktur, Jajah kembali mengajar di Institut Pertanian Bogor.[13] Pada tahun 2004, sekelompok aktivis perempuan mencalonkannya sebagai calon kabinet Susilo Bambang Yudhoyono.[16] Ia resmi pensiun pada tahun 2007. Sebuah upacara pensiun, dilanjutkan dengan seminar nasional, diadakan untuk menghormatinya. Pada upacara tersebut, ia secara resmi menerbitkan autobiografinya yang berjudul Never Ending Life Lessons: There's Still a Long Way to Go.[13]
Jajah meninggal dunia pada dini hari 17 Maret 2011 di Rumah Sakit Karya Bakti Bogor.[17] Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Giri Tama, Parung, Bogor.[18]
Kehidupan pribadi
Jajah menikah dengan Oetit Koswara, guru besar IPB dalam ilmu tanah, pada tahun 1964. Pasangan ini memiliki dua orang anak.[1]
↑Pendleton, John W. (July 1974). Development of Food Crops in Indonesia. Conference on Indonesian Agricultural Development. Diakses tanggal 18 January 2025.