Jafro memulai kegemaran berolahraga paralayang dimulai dari tempat tinggalnya, karena setiap hari menyaksikan olahraga ini. Selain itu, Jafro menilai bahwa paralayang merupakan olahraga yang ekstrem, memacu adrenalin, dan tidak banyak dilakoni di Indonesia. Hal itulah yang membuat Jafro tertarik untuk melakukannya.[3]
Anak kedua dari tiga bersaudara, pasangan Budi Sutrisno dan Suliasih ini mengaku memang hobi berolahraga paralayang sejak usia 16 tahun. Pilihannya menekuni olahraga ini sempat terkendala restu orangtuanya. Hal itu karena beberapa alasan, di antaranya biaya akomodasi yang mahal saat latihan. Setiap hari ia harus membayar tukang ojek untuk mengantarkannya ke atas gunung.
Kendati hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), namun Jafro mengukir prestasi dengan menjuarai berbagai kejuaraan paralayang hingga tingkat dunia. Usahanya berlatih olahraga ini setiap hari, membuatnya mengukir prestasi juara 3 Ketepatan Akurasi saat mengikuti kejuaraan untuk pertama kalinya di desanya. Hal itulah yang kemudian membuka hati kedua orangtuanya dan berubah memberikan support penuh untuk Jafro hingga kariernya terus berkembang.
Prestasi
2016
Emas - PON XIX - Lintas alam jarak terbatas perorangan