Jabar Juwes adalah sebuah kesenian pertunjukan tradisional yang berasal dari Dusun Tengahan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian ini muncul pada tahun 1962 sebagai reaksi atas kejenuhan masyarakat terhadap kesenian lain dan menampilkan tokoh-tokoh lawak bernama Jeber dan Juwes. Pertunjukan ini mengangkat cerita dari Serat Menak, yang menceritakan kisah kepahlawanan Amir Hamzah.[1][2]
Latar belakang
Sejarah
Kesenian Jabar Juwes berkembang di Dusun Tengahan, Desa Sendang Agung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bentuk awal kesenian ini telah muncul sekitar tahun 1962, sementara kelompok “Jeber Jues” secara resmi didirikan pada 4 Januari 1980 di Dusun Tengahan XII. Pada tahun 2019, Jabar Juwes ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Sleman melalui Surat Keputusan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Nomor 103617/MPK.E/KB/2019.[3]
Kesenian ini lahir sebagai respons atas kejenuhan masyarakat terhadap bentuk-bentuk pertunjukan tradisional yang sudah mapan, seperti Kethoprak, Wayang Wong, dan Wayang Golek. Kreativitas Bapak Darmo Suwito dan Kepala Dukuh Tengahan, Bapak Harjo Suprapto, menjadi faktor utama dalam terbentuknya format pertunjukan Jabar Juwes. Dua tokoh sentral dalam pertunjukan ini, yakni Jeber dan Juwes, berperan sebagai pelawak yang menghadirkan humor spontan dan situasional, sehingga menjadi unsur hiburan yang paling ditunggu oleh penonton.[2]
Penamaan Jabar Juwes berakar dari tokoh utama bernama Jabur atau Jeber, seorang pelawak yang mampu menarik perhatian penonton. Seiring berkembangnya pertunjukan, masyarakat menilai bahwa sosok pendamping bernama Juwes merupakan pasangan yang tidak terpisahkan dari karakter Jabur. Perpaduan kedua nama tersebut kemudian mengukuhkan istilah Jabar Juwes sebagai identitas kesenian ini.[1][2]
Pementasan
Pertunjukan Jabar Juwes umumnya mengadaptasi kisah-kisah Menak, yakni cerita yang bersumber dari Serat Menak. Naskah ini mengisahkan perjalanan kepahlawanan Amir Ambyah, atau Wong Agung Jayangrena dari Mekah, serta hubungannya dengan Prabu Nursiwan dari Medayin. Narasi tersebut merupakan bentuk transformasi sastra dari Hikayat Amir Hamzah dalam tradisi Melayu.[4]
Iringan
Pada awal tahun 1980-an, abaraJuwes n gamelan laras slendro sebagai pengiring. Namun, kini pengiringnya menggunakan laras slendro dan laras pelog.[7] Hal ini disebabkan karena banyaknya jenis dan mengikuti perkembangan zaman. Laras pelog digunakan pada saat lawak berupa lelagon. Gamelan ini terbuat dari besi dan kuningan. Gamelan yang dimaksud antara lain saron, saron penuserus, demung, bonang penuserus, bonang barung, kempul, kendhang, keprak, dan kecrek.[8] Namun, terkadang gamelan yang digunakan hanya gamelan slendro saja.[2]