De Jong diangkat menjadi komandan detasemen dan kepala pemerintahan sipil pada bulan Maret 1941 di kota Kolonodale di pantai timur Sulawesi Tengah. Detasemen KNIL yang dipimpinnya terdiri dari sekitar enam puluh orang. Pada akhir Maret, De Jong berniat untuk menyerah, dan pada tanggal 27 ia bahkan menuju ke Manado bersama pasukannya untuk menandatangani penyerahan dengan Jepang. Sebuah peristiwa menggagalkan upaya ini, dan membuat De Jong serta pasukannya masih terus bertempur sebagai gerilyawan.[2]
Antara tanggal 9 Maret dan 9 Agustus 1942, De Jong dan rekan sesama komandan detasemen dari Poso, Letnan W.H.J.E. van Daalen, ditangkap setelah serangan Jepang di Kolonodale. Eksekusi de Jong dilaksanakan pada malam hari, tanggal 25 Agustus 1942 di Lapangan Sario Manado. De Jong dieksekusi bersama dengan van Daalen.[3]