Iskandar Widjaja (lahir 6 Juni 1986) adalah seorang pemain biola asal Indonesia kelahiran Jerman dan pemenang berbagai kompetisi internasional. Ia adalah cucu musisi Indonesia Udin Widjaja yang sangat terkenal pada era Presiden Soekarno karena lagu-lagu gubahannya.[1] Ia memiliki darah Tionghoa dan Medan dari Ibunya (Chin Widjaja) dan Belanda-Arab-Maluku dari Ayahnya (Ivan Hadar). Ia memulai berlatih piano sejak berusia tiga tahun setelah Ia dan ibunya menyaksikan sebuah konser musik klasik anak-anak di Jerman.[1]
Biografi
Iskandar Widjaja adalah salah seorang virtuoso biola paling menarik di dunia „perbiolaan" Sebagai "pemain biola kelas dunia" (Stuttgarter Zeitung) dan juga sebagai "bintang rock" (The Jakarta Post), ISKANDAR bisa menghubungkan berbagai macam genre musik.[1]
Ia adalah putra dari pasangan keturunan Arab-Belanda dan Cina-Indonesia serta membesar dalam lingkungan musik klasik kelas atas.
Pada usia 11 tahun, Ia diterima sebagai mahasiswa muda di Universitas Musik „Hanns Eisler“ di Berlin.
Iskandar aktif dalam proyek pendidikan untuk anak-anak di kawasan Asia-Pasifik yang bekerja sama dengan UNICEF[2] atau WWF. Bersama KOMPAS Gramedia dalam proyek Musik yang Membebaskan[3] serta "Yayasan Be Sharp", Ia mengadakan acara penggalangan dana untuk pembiayaan alat musik dan pelajaran bagi anak-anak jalanan, yatim piatu dan sekolah.[4]
Karir
Sebagai pemain tunggal, Iskandar juga sudah banyak memberikan konser bersama-sama dengan orkestra kelas dunia; dari Sydney Symphony ke Orchestre de la Suisse Romande, Philharmonic Muenchen, Konzerthausorchester Berlin dan Deutsches Symphonieorchester.[5] Selanjutnya Ia juga tampil di Warsawa dan Shanghai, dari Radio Symphonieorchester Wien ke Hong Kong Sinfonietta.
Pada saat yang bersamaan itu pula, Ia meniti karier showbiznya di wilayah Asia Timur yang menyebabkan Iskandar tampil secara berkala di stasiun televisi.[butuh rujukan] Selain itu, Iskandar juga menjadi wajah merek kopi kelas atas Indonesia, JJ Royal. Ia juga berkolaborasi dengan merek-merek seperti Volkswagen Group dan Tommy Hilfiger yang menandai dirinya sebagai pemain biola klasik modern sejati.[5] Ia pun mencapai status "trending topic" (topik yang sedang paling digemari) di Twitter.[6]
Iskandar juga sering muncul dalam acara-acara media massa, seperti Miss World atau Miss Earth, Piala Davis, EXPO di Milan, Fashion Week di Paris atau pemutaran perdana dunia suite untuk biola dan orkestra "Across the Stars" dari Star Wars di Konzerthaus Wina.
Selain piawai dalam memainkan musik klasik, Iskandar juga mengadakan konser dengan konsep "Bach dan Zen" dan bekerja sama dengan „mahaguru“ Zen serta bekerja sebagai komposer dan penulis lagu. Karangan kreasi musiknya tidak dapat diklasifikasikan dalam genre apa pun karena dipengaruhi oleh musik film, barok, pop, dan hip-hop.
Majalah alat musik gesek yang paling berpengaruh di dunia ("The Strad"), menggambarkan kepribadian Iskandar Widjaja yang penuh dengan energi sebagai „kekuatan alam sejati.“ Ia memainkan Stradivari "Stephens" 1690 dan JB Vuillaume 1875.
Gold Medal pada 1st International Hindemith Violin Competition
The First Federal Prize di Jugend Competition (Youth Making Music)
Best Bach dan Best Beethoven Sonata pada The 21st Concorso Violinistico Internazionale Andre Postacchini
Award dari The LOTTO Promotional Prize 2013 pada The Rheingau Music festival
Award dari Gubernur Berlin pada ajang Julius Junior Kategori Young Talent
Publikasi
2011 Bach 'N' Blues (Oehms Classics Musikproduktion GmbH, ASIN B0056DHCV6)
2018 Schumann Violin Sonate Nr. 2, Fantasie für Violine und Orchester op. 121, Christoph Eschenbach, Deutsches-Symphonieorchester Berlin (OehmsClassics Musikproduktion GmbH)
2018 Mercy (Edel/Neue Meister)
2019 "1001 nights at the harem" works by Fazil Say (Sony Classical)
2020 Spirited away (Single, Music video feat. Luna Maya)
2020 Hip Hop Symphony (Single)
2020 Papa (Single)
Kutipan
"Sebagai seorang pemain biola Iskandar Widjaja lima tahun yang lalu untuk pertama kalinya ke Indonesia, memainkan musik dan penonton mengabaikan etika musik klasik, bertepuk tangan setelah setiap lagu ... Ia tidak bisa merasa cukup."[9][7]