Di pertemuan itu pula, Rudd memberi tahu Clinton bahwa Cina "paranoid" terhadap Taiwan dan Tibet, menyebut pemimpin Cina "subrasional dan sangat emosional" saat menanggapi Taiwan, dan menyatakan bahwa tujuan rencananya adalah pembentukan "Asia-Pacific Community" demi melemahkan kekuatan Cina di kawasan itu dan membatasi dominasinya di institusi diplomatik regional.[1]
Kontroversi politik
Senator AustraliaDon Farrell, seorang penengah faksi sayap kanan asal Australia Selatan, percaya bahwa Julia Gillard, Perdana Menteri Australia 2010-2013, mengejar jabatan perdana menteri setahun sebelum dukungan pribadi Rudd untuk pemilihannya dibatalkan.[2]
Perang Afghanistan
Rudd sangat kritis terhadap sekutu Eropa Australia di kampanye Afghanistan. Ia menuduh mereka "tidak punya strategi bersama untuk memenangkan perang atau memenangkan perdamaian" dan menyebut kontribusi Prancis dan Jerman dalam memerangi Taliban sebagai "festival tarian rakyat".[3]
Sebuah kawat tertanggal Oktober 2008 mencantumkan bahwa Rudd pernah memberi tahu rombongan anggota kongres A.S. di Australia bahwa "lembaga keamanan nasional di Australia sangat pesimis terhadap nasib jangka panjang Afghanistan".[4]
Perwakilan khusus Australia di Afghanistan dan Pakistan, Ric Smith (mantan sekretaris Departemen Pertahanan Australia) menggambarkan misi di Afghanistan dan pemerintah Afghanistan sebagai "bangku reyot berkaki tiga". Pada Desember 2009, Smith mempertanyakan apa yang bisa diselesaikan Kepolisian Federal Australia setelah dihadapkan dengan kekacauan di Kepolisian Nasional Afghanistan.[5]
Pejabat Australia yang menjadi sumber bagi kedutaan A.S. menyebutkan adanya pertentangan antara pejabat dan menteri tentang "tidak adanya kemajuan dari mereka".[3]
Hubungan Amerika Serikat–Australia
Senator Australia Mark Arbib (Partai Buruh Australia) secara rutin membina kontak dengan dan bertindak sebagai sumber 'terlindungi' dan kontak rahasia untuk pemerintah Amerika Serikat. Ia menyediakan informasi dari dalam dan mengomentari aktivitas pemerintah dan Partai Buruh kepada pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Canberra.[6][7][8]
"Kesalahan langkah" diplomatik Rudd kemungkinan besar muncul dari kecenderungannya membuat "pengumuman mendadak tanpa berkonsultasi dengan negara lain atau pejabat pemerintah Australia";
"Blunder besar" pemerintah mulai terjadi ketika Menteri Luar Negeri Stephen Smith mengatakan pada Februari 2008 bahwa Australia tidak akan mendukung dialog strategis antara Australia, A.S., Jepang, dan India untuk menghormati Cina (David Pearl, pejabat Kementerian Keuangan, memberi tahu diplomat A.S. pada tahun 2004 bahwa ia "sangat cerdas namun terganggu oleh masalah kebijakan luar negerinya sendiri dan informasi bahwa PM Rudd sangat mengawasi dirinya"); dan
Rudd adalah sosok yang "sangat suka mengawasi" dan "banyak pegawai negeri sipil senior, jurnalis, dan anggota parlemen yang mengkritik bahwa Rudd adalah seorang mikromanajer yang terobsesi mengendalikan siklus media alih-alih terlibat dalam pembuatan keputusan yang kolaboratif".[9]
Pada bulan November 2009, kedutaan A.S. menerbitkan penilaian lain bahwa:
Rudd mendominasi proses pembuatan keputusan kebijakan luar negeri, "sehingga menteri luar negerinya dibiarkan melakukan tugas seremonial dan mengabaikan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan".
"Melalui percakapan pribadi dengan kami, sejumlah diplomat asing lainnya tahu seberapa melencengnya DFAT," dan bahwa "Duta Besar IsraelYuval Rotem memberi tahu kami bahwa pejabat-pejabat senior DFAT menanyainya tentang apa yang hendak dikejar Rudd dan mengakui bahwa mereka sudah melenceng."[9]