Kebajikan pokok atau kebajikan kardinal (bahasa Inggris:cardinal virtuescode: en is deprecated ) adalah empat nilai luhur dalam pikiran dan karakter menurut filsafat klasik. Keempatnya meliputi kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri. Seluruhnya membentuk sebuah teori etika kebajikan. Istilah "kardinal" berasal dari bahasa Latin cardocode: la is deprecated yang berarti 'poros'. Keempat kebajikan ini disebut "kardinal" karena semua kebajikan lainnya bernaung di bawahnya dan berporos pada keempat nilai tersebut.[1]
Kebijaksanaan (φρόνησιςcode: grc is deprecated , phrónēsis; Latin: prudentiacode: la is deprecated ; juga kearifan, sophia, sapientiacode: la is deprecated ), yaitu kemampuan untuk membedakan tindakan tepat yang harus diambil dalam situasi tertentu pada waktu yang tepat, dengan mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi; kecermatan.
Keadilan (δικαιοσύνηcode: grc is deprecated , dikaiosýnē; Latin: iustitiacode: la is deprecated ): juga dianggap sebagai kepatutan;[3] kata dalam bahasa Yunani untuk istilah ini juga memiliki makna kebenaran moral. also considered as fairness; the Greek word also having the meaning righteousness.
Keberanian (ἀνδρείαcode: grc is deprecated , andreía; Latin: fortitudocode: la is deprecated ): mencakup kesabaran, kekuatan, daya tahan, kegigihan, dedikasi, serta kemampuan untuk menghadapi ketakutan, ketidakpastian, dan intimidasi (keberanian, ketegasan, keberanian heroik, tekad). Secara khusus, kata ἀνδρείαcode: grc is deprecated (andreia), yang berkaitan erat dengan ἀνήρ (anēr; "laki-laki dewasa"), juga dapat diterjemahkan sebagai "kejantanan".
Penguasaan diri (σωφροσύνηcode: grc is deprecated , sōphrosýnē; Latin: temperantiacode: la is deprecated ): juga dikenal sebagai pengekangan diri, praktik pengendalian diri, pantang, kebijaksanaan dalam bertindak, dan moderasi yang mengendalikan hasrat. Plato menganggap sōphrosynē, yang juga dapat diterjemahkan sebagai kesehatan pikiran, sebagai kebajikan yang paling utama. Istilah sōphrosýnē sering digunakan dalam konteks minum minuman keras dan "mengetahui takaran yang tepat" guna menghindari perilaku kasar atau pertengkaran.