Dara Petak (Ḍara Pĕṭak,Dhårå Pethak), menurut Pararaton, adalah satu-satunya istri Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yang berasal dari luar Jawa. Ia melahirkan seorang putra yang nantinya akan menjadi raja Majapahit kedua menggantikan Raden Wijaya.
Menurut kronik Tiongkok, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293, sehingga dapat diperkirakan pertemuan antara Raden Wijaya dan Dara Petak terjadi tanggal 4 Mei 1293.
Walaupun Dara Petak menjadi istri terakhir Raden Wijaya namun ia akhirnya dinobatkan sebagai Stri tinuheng pura, atau istri yang dituakan di istana. Kemungkinan karena kecakapannya dan satu-satunya istri raja yang memiliki putra. Sebelumnya Raden Wijaya sudah memperistri keempat putri Kertanegara seperti disebutkan dalam Negarakertagama.
Menurut prasasti Kertarajasa (1305), Tribhuwaneswari disebut sebagai ibu Jayanagara. Dari berita tersebut dapat diperkirakan, Jayanagara adalah anak kandung Indreswari alias Dara Petak yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari, permaisuri pertama. Pada tahun 1309-1328 Jayanagara bertahta menjadi Raja Majapahit menggantikan ayahnya, Raden Wijaya.
Kepustakaan
J.L.A. Brandes. 1896. Pararaton(Ken Angrok) of het Boek der Koningen van Tumapĕl en van Majapahit. Batavia: Albrecht & Co.
Boechari. 1985–86. Prasasti Koleksi Museum Nasional. Jakarta.
Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Wayan Jarrah Sastrawan. 2021. The Precarious Past: Historical Practices in Indic Java. Ph.D. dissertation. University of Sydney.