Impor minyak bumi dari Rusia sebelumnya merupakan salah satu aspek utama ketergantungan energi Uni Eropa (UE). Namun sejak invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022, UE secara bertahap mengurangi impor minyak dari Rusia melalui serangkaian sanksi, batasan harga, dan strategi diversifikasi. Pada tahun 2025, proporsi impor minyak bumi dari Rusia secara drastis menurun dibanding periode sebelum konflik.
Pada awal 2020-an, Rusia menjadi salah satu pemasok minyak terbesar bagi UE. Sebelum invasi ke Ukraina, Rusia mencakup sekitar sepertiga hingga lebih dari seperempat impor minyak mentah UE, dengan jumlah harian sekitar 2,2 juta barel per hari (bpd) untuk minyak mentah dan 1,2 juta bpd untuk produk minyak olahan.[1]
Volume Impor dan Penurunan
Jika melihat data historis, dapat dijabarkan berdasarkan data per tahun atau kuartal sebagai berikut:
2019–2021: Impor minyak Rusia masih tinggi—menurut data Eurostat, impor minyak mentah dan produk olahan dari Rusia mencapai sekitar 95 juta ton pada 2022.[2]
Awal 2022 hingga Februari 2023, impor turun drastis: dari sekitar 15,19 juta ton menjadi sekitar 1,88 juta ton dalam setahun—penurunan hampir 90%.[3]
Kuartal II 2023, volume impor bahan bakar minyak dari Rusia menurun 82% menurut Eurostat (dari 8,7 juta ton menjadi 1,6 juta ton).[4]
Per Desember 2023, impor minyak mentah dari Rusia tercatat sekitar 912 ribu ton per bulan—realisasi terendah dalam catatan historis sejak 2009. [5][6]
2024: Impor meningkat sedikit, misalnya sekitar 1,084 juta ton pada Desember 2024 .[6][7]
2025: Secara keseluruhan, impor minyak dari Rusia turun 86% dari awal 2022 ke awal 2025, sehingga proporsi suplai minyak Rusia turun dari 28,74% menjadi hanya 2,01%.[8]
Tabel Data Impor Minyak Bumi UE dari Rusia
Ringkasan data historis impor minyak UE dari Rusia
Periode
Ukuran
Cakupan Produk
Nilai
Satuan
Catatan
Sumber
Rata-rata 2019–2021 (bulanan)
Impor total minyak mentah + produk minyak dari Rusia (rata-rata bulanan)
Minyak mentah (CN 2709) + produk minyak olahan (CN 2710)
**Share impor minyak dan produk minyak Rusia per negara (Maret 2023 vs rata-rata 2019–2021)**
Negara
Rata-rata 2019–2021 (%)
Maret 2023 (%)
EU-27 (rata-rata)
23,4
2,3
Belgia
21,7
0
Bulgaria
6,9
6,3
Ceko
31,4
39,2
Denmark
18,2
0
Jerman
30,3
0,5
Estonia
40,9
1,0
Irlandia
4,9
0
Yunani
23,4
0
Spanyol
11,3
0
Prancis
16,7
0
Kroasia
0,0
0
Italia
11,5
0,2
Siprus
1,1
0
Latvia
36,0
21,5
Lithuania
56,2
0,4
Luksemburg
0
0
Hungaria
38,7
42,5
Malta
5,4
0
Belanda
25,1
0,9
Austria
5,0
0
Polandia
58,7
4,6
Portugal
7,8
0
Rumania
18,0
0,9
Slovenia
4,1
0
Slowakia
78,9
59,0
Finlandia
70,5
0
Swedia
10,6
0
Negara-negara UE yang Masih Mengimpor Minyak Rusia
Beberapa negara tertinggal dalam pengurangan impor karena ketergantungan infrastruktur:
Negara-negara rute Southern Druzhba seperti Hungaria, Slowakia, dan Ceko masih menerima minyak melalui jalur pipa hingga Juli 2025, melalui derogation atau pengecualian sementara.[13][14][15]
Ceko menyatakan pada 2025 bahwa mereka telah menghentikan impor minyak dari Rusia, setelah meningkatkan kapasitas jalur pipa TAL (Italia–Jerman) menjadi 8 juta ton per tahun.[14]
Hungaria dan Slowakia masih menerima minyak melalui rute pipa dan menjadi titik terpenting yang membuat pengecualian ini tetap diberlakukan—hingga sekitar pertengahan 2025.[16][17]
Kebijakan UE untuk Mengurangi Ketergantungan
Sanksi dan Larangan Impor
UE memberlakukan larangan impor minyak mentah dan produk olahan via laut dimulai Desember 2022 untuk minyak mentah, dan Februari 2023 untuk produk olahan.[13] Larangan ini mencakup sekitar 90% dari impor minyak Rusia ke UE.[13][18]
Mekanisme Batas Harga (Price Cap)
UE bersama Koalisi G7+ menerapkan batas harga untuk minyak Rusia:
Minyak mentah: US$ 47,6 per barel (per Juli 2025).[13]
Produk premium: US$ 100 per barel; produk diskon (fuel oil, naphtha): US$ 45 per barel.[13]
Ini bertujuan menekan pendapatan Rusia sekaligus menjaga stabilitas pasar energi global.
Strategi REPowerEU
Pada 6 Mei 2025, Komisi Eropa mengajukan Roadmap REPowerEU melalui sanksi paket yang diperkenalkan sejak invasi Rusia ke Ukraina, Uni Eropa melihat rebound impor gas Rusia pada tahun 2024. Atas dasar hal tersebut, roadmap tersebut untuk menghapus ketergantungan terhadap energi Rusia secara bertahap yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan ekonomi Eropa.[19]
Rencana legislatif (17 Juni 2025) bertujuan mengakhiri impor gas dan minyak Rusia selambat-lambatnya akhir 2027. Cita-cita tersebut juga mencakup keamanan pasokan, transisi energi bersih, dan kemandirian energi.[20]
Celah dan Jalur Alternatif
Meski ada larangan, beberapa jalur tidak langsung tetap dijalankan. EU mengimpor sekitar EUR 3 miliar produk minyak dari pelabuhan Turki (Ceyhan, Mersin, Ereğlisi) pada 2023–Februari 2024, meski sebagian besar berasal dari Rusia, memanfaatkan celah hukum.[21] Pada Q1 2024, EU mengimpor lebih dari 1,2 juta ton produk minyak dari fasilitas yang menggunakan minyak Rusia—kemungkinan besar sebagian besar berasal dari Rusia.[22]
Dampak Ekonomi dan Geopolitik
Pengurangan impor secara drastis memengaruhi anggaran Rusia, karena UE dulunya menyumbang sekitar €71 miliar minyak (2021) bagi Rusia—€48 miliar minyak mentah dan €23 miliar produk olahan.[23] Larangan, batas harga, dan pembatasan finansial membantu menurunkan pendapatan Rusia dari energi, serta mendorong diversifikasi sumber energi di dalam UE.[24]
↑Centre for Research on Energy Clean Air (CREA); Center for the Study of Democracy (CSD). A Kremlin pit stop: EU imports EUR 3 bn of oil products from Turkish ports handling Russian oil, 15 Mei 2024.
↑destruction, We expose how the industries fuelling the climate crisis profit from; Back, Stand with the People Fighting. "EU increases imports of Russian oil through Azeri back door". Global Witness (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-26.