Imaduddin Utsman al-Bantani (lahir 15 Agustus 1976) adalah seorang ulama, pendidik, dan penulis asal Indonesia yang dikenal karena penelitiannya tentang nasab Ba'alawi yang menyebabkan mendapatkan pencekalan ceramah di Banyuwangi. Saat ini, ia merupakan Ketua Komisi FatwaMajelis Ulama Indonesia Provinsi Banten. .
Kehidupan awal dan pendidikan
Imaduddin lahir di Kampung Cempaka, Kresek, Kabupaten Tangerang pada tanggal 15 Agustus 1976.[1] Ayahnya, Sarman merupakan keturunan dari Pangeran Wijayakrama. Sementara ibunya, Syu’arah merupakan keturunan dari Raden Aria Wangsakara.[2] Nama Utsman" diambil dari nama kakek dari pihak ibunya, sedangkan "al-Bantani" merujuk pada asal daerahnya, Banten.[1]
Ia bersekolah di SDN Kresek III dan melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kresek. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Ashhabul Maimanah. Pendidikan sarjana ia lakukan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin dengan meraih gelar sarjana agama. Imaduddin melanjutkan studi magister ke Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) dan meraih gelar Magister Agama.[3]
Karier
Imaduddin memulai karier di Nahdlatul Ulama sejak 2006 menjabat sebagai Ketua Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Kresek hingga 2011. Pada 2018, ia diangkat sebagai Wakil Katib Pengurus Wilayah NU (PWNU) Provinsi Banten. Sejak tahun 2020 hingga 2024, ia menjabat sebagai Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Banten, sebuah badan yang mengelola pondok pesantren di bawah naungan NU. Ia juga menjadi penasihat Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Provinsi Banten dan Rijalul Ansor Kabupaten Tangerang. Pada tahun 2022, ia menjabat sebagai sebagai anggota Lembaga Bahtsul Masail untuk periode 2022 hingga 2024. LBM adalah badan yang bertugas membahas isu-isu keagamaan dan merumuskan fatwa atau panduan hukum Islam untuk anggota NU.[4]
Perdebatan terkait nasab Ba 'Alwi
Ba 'Alwi mengaku memiliki nasab yang tersambung kepada Muhammad melalui jalur keturunannya yang bernama Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa an Naqib (w. 400 Hijriah). Imaduddin membantah keabsahan nasab tersebut dikarenakan keberadaan Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa an Naqib tidak terkonfirmasi dalam kitab kitab nasab primer yang mu'tabar dari abad ke 5 hingga ke 9 hijriah ,di mana ulama-ulama ahli nasab pada masa tersebut secara konsisten tidak mencatat nama Alawi dan Ubaidillah sebagai keturunan dari Ahmad bin Isa. Mereka baru tercatat sebagai keturunan Muhammad setelah 651 tahun dari wafatnya Ahmad bin Isa tanpa sanad yang tersambung (mutassil).[5][6][7] Pembantahan ini dimulai dengan penerbitan Menakar Kesahihan Nasab Habib di Indonesia yang menarik kecaman dari Rabithah Alawiyah, organisasi keturunan Ba 'Alwi.[8] Atas dasar ini, pada tahun 2024, ia mendapatkan pencekalan ceramah di Kabupaten Banyuwangi.[9]
Publikasi
2021: Dari Banten Kusebut Namamu - dipublikasikan oleh Deepublish di Indonesia.[10]
2021: Raden Aria Wangsakara: sejarah pendiri Tangerang - dipublikasikan oleh Nahdlatul Ulum Banten di Indonesia.[11]
2021: الفكرة النهضية في اصول وفروع اهل السنة والجماعة -Pemikiran ke-Nu-an tentang pokok pokok ahli sunnah waljamaah dan cabang cabangnya- dipublikasikan oleh Nahdlatul Ulum Banten di Indonesia.[12]
2021: Buku Induk Fikih Islam Nusantara - dipublikasikan oleh Deepublish di Indonesia [13]
2022: المناهج الصفية في شرح الألفية -Metode metode pilihan dalam menerangkan kitab alfiyyah- dipublikasikan oleh Nahdlatul Ulum Banten di Indonesia [14]
2023: Habaib keturunan nabi, benarkah? - dipublikasikan oleh CV. Oncor Semesta Ilmu di Indonesia [15]
2024: Ulama Nusantara menggugat nasab palsu: jawaban K.H. Imaduddin Utsman al-Bantani terhadap buku Hanif Alatas, dkk- dipublikasikan oleh Lakeisha di Indonesia.[16]
2026: Menakar Kesahihan Nasab Habib di Indonesia - dipublikasikan oleh Filosofis Indonesia Press di Indonesia . [17]
2026: Terputusnya nasab Habib kepada Nabi Muhammad SAW - dipublikasikan oleh CV Arta Media Nusantara . [18]
2026: Membongkar Skandal Ilmiyah Sejarah dan Genealogi Ba'alwi - dipublikasikan oleh CV Historie Media . [19]
2026: Mengapa Penting Mengetahui Habib Ba 'Alwi bukan keturunan Nabi Muhammad SAW - dipublikasikan oleh CV penerbit lakeisha . [20]
2026: Ruh al Mantiqi fi Syarhi as Sullami al Munawraq - dipublikasikan oleh CV Historie Media [21]
2026: Syarh al-Maimun fi Syarhil Jauhar al-Maknun fi 'Ilmil Balagah - dipublikasikan oleh CV Historie Media [22]
2026: Kasyf al Fadlihat al-'Ilmiyah Li Tarikh wa Nasab Ba'alwi - dipublikasikan oleh CV Historie Media [23]
2026: Minhaj al-Nassabin fi Ibtal Nasab Ba'alwi al-Mulsaq bi al-Alawiyyin - dipublikasikan oleh CV Historie Media [24]
2026: Minhaj at Tajdid fi Naqdi Riwayah fil Hadis wa at Tafsir wa at Tarikh wal Ansab Bi Ra'yin Jadid - dipublikasikan oleh CV Historie Media [25]
2026: I'anat al-Akhyar fi Jawab al-Syaikh Abdillah Mukhtar - dipublikasikan oleh CV Historie Media [26]
2026: Al-Anwar al-Bantaniyah fi Ikhtilafi Ulama al-Bashrah wa al Kufah - dipublikasikan oleh Penerbit Widya Bakti Nusa [27]
2026: Al-Jalaliyah fi al Qawaid al Fiqhiyah - dipublikasikan oleh Penerbit Arta Media Nusa [28]
2026: Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer - dipublikasikan oleh Penerbit Filosofis [29]
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2021). Raden Aria Wangsakara: sejarah pendiri Tangerang. Banten: Nahdlatul Ulum. ISBN978-623-97751-0-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2021). Al-fikrah al-nahdliyyah fii ushuul wa furuu' ahli sunnah wa al-jama'ah. Banten: Nahdlatul Ulum. ISBN978-623-97751-1-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2021). Buku Induk Fikih Islam Nusantara. Deepublish. ISBN978-623-02-3276-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman, Imaduddin (2026). Menakar Kesahihan Nasab Habib di Indonesia. ISBN978-634-7630-17-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman, Imaduddin (2026). Terputusnya nasab habib kepada Nabi Muhammad SAW. CV Arta Media Nusantara. ISBN978- 634-7539-73-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2026). Ruh al Mantiqi fi Syarhi as Sullami al Munawraq. ISBN978-634-7716-01-1.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2026). Syarh al-Maimun fi Syarhil Jauhar al-Maknun fi 'Ilmil Balagah. ISBN978-634-7716-11-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2026). Kasyf al Fadlihat al-'Ilmiyah Li Tarikh wa Nasab Ba'alwi. ISBN978-634-7727-01-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2026). Minhaj al-Nassabin fi Ibtal Nasab Ba'alwi al-Mulsaq bi al-Alawiyyin. ISBN978-643-7716-10-1.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Utsman al Bantani, Imaduddin (2026). Minhaj at Tajdid fi Naqdi Riwayah fil Hadis wa at Tafsir wa at Tarikh wal Ansab Bi Ra'yin Jadid. ISBN978-634-7716-09.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Imaduddin, Utsman al Bantani. I'anat al-Akhyar fi Jawab al-Syaikh Abdillah Mukhtar. CV Historie Media. ISBN978-634-7716-49-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Imaduddin, Utsman al Bantani (2026). Al-Anwar al-Bantaniyah fi Ikhtilafi Ulama al-Bashrah wa al-Kufah. ISBN978-634-05-1166-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Imaduddin, Utsman al Bantani (2026). Al-Jalaliyah fi al-Qawaid al-Fiqhiyah. ISBN978-634-7727-11-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Imaduddin, Utsman al Bantani (2026). Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer. ISBN978-634-7630-37-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)