Ikan pemangsaBarakuda memangsa ikan yang lebih kecil
Ikan pemangsa atau ikan predator adalah ikan hiperkarnivora yang secara aktif memangsa ikan lain atau hewan air. Contohnya termasuk hiu, Xiphioidea, barakuda, aligator gar, tuna, Coryphaena, perch, dan salmon. Beberapa ikan omnivora seperti piranha perut merah terkadang juga bisa menjadi predator, meskipun mereka tidak secara ketat dianggap sebagai ikan predator utama.
Ikan predator beralih di antara jenis mangsa sebagai respons terhadap variasi kelimpahannya. Perubahan preferensi tersebut tidak proporsional dan diseleksi karena dianggap efisien secara evolusioner.[4] Ikan predator dapat menjadi hama jika mereka diperkenalkan ke dalam ekosistem di mana mereka menjadi predator puncak baru. Sebuah contoh, yang telah menyebabkan banyak masalah di Maryland dan Florida, dimana ikan gabus menjadi hama disana.[5]
Ikan predator seperti hiu, Xiphioidea, alligator gar, dan tuna merupakan bagian dari makanan manusia dan menjadi target perikanan, tetapi mereka cenderung mengkonsentrasikan raksa dalam jumlah yang signifikan di dalam tubuh mereka karena mereka berada di posisi tinggi dalam rantai makanan, terutama sebagai predator puncak, karena biomagnifikasi.[6]
Predator merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengelola perikanan, dan metode untuk melakukannya tersedia dan digunakan di beberapa tempat.[7]
Selain itu, keberadaan predator ini juga memungkinkan mangsanya untuk mengembangkan tindakan balasan melalui seleksi alam. Akibatnya, predator dan mangsa akan terkunci dalam perlombaan senjata evolusioner, masing-masing berusaha untuk mengungguli yang lain. Kehadiran predator ikan memainkan peran besar dalam ukuran, bentuk, dan kinerja renang kecebongkatak hijau. Kehadiran predator-predator ini di habitatnya menyebabkan kecebong mengembangkan tubuh kecil dan otot ekor besar agar dapat melarikan diri dari predatornya dengan lebih cepat dan efisien.
Beberapa ikan predator seperti hiu lamnidae, ikan marlin, tuna, ikan opah, dan ikan tenggiri kupu-kupu memiliki kemampuan endotermi kranial, yaitu kemampuan untuk meningkatkan suhu mata dan otak, yang membantu penglihatan dan fungsi saraf selama perubahan suhu lingkungan.[8]