Raden Ayu Sri Sufinati Bintang Soedibjo (1927-1979), menikah dengan Drs. Raden Panji Purnomo Tedjokusumo Raden Ajeng Winarni Bintang Soedibjo (1929-1931), meninggal ketika bayi Raden Ayu Krisnani Bintang Soedibjo (1931-1980), menikah dengan GF. Mambu
Kemahiran Saridjah di bidang musik, terutama bermain biola, sebagian besar dipelajari dari ayah angkatnya, Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer,[6] seorang pensiunan Wakil KetuaHoogerechtshof (Kejaksaan Tinggi) di Jakarta pada masa itu, yang selanjutnya menetap di Sukabumi dan mengangkatnya sebagai anak. J.F. Kramer adalah seorang indo-Belanda beribukan keturunan Jawaningrat. Latar belakang inilah yang membuat Saridjah dididik untuk menjadi patriotis dan mencintai bangsanya.
Saridjah lahir sebagai putri bungsu dari dua belas orang bersaudara. Ayah kandung Saridjah adalah Mohamad Niung, seorang pelaut asal Bugis yang menetap lama di Sukabumi kemudian menjadi pengawal J.F. Kramer.[3] Selepas mempelajari seni suara, seni musik, dan belajar menggesek biola hingga mahir dari ayah angkatnya, Saridjah melanjutkan sekolahnya di Hoogere Kweek School (HKS) Bandung untuk memperdalam ilmunya di bidang seni suara dan musik.[6][7] Setelah tamat, ia kemudian mengajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Dari sinilah titik tolak dasar Saridjah untuk mulai mengarang lagu. Pada tahun 1927, ia menjadi Istri Raden Mas Bintang Soedibjo,[8] dan ia pun kemudian dikenal dengan panggilan Ibu Soed, singkatan dari Soedibjo.[2] Ibu Soed, ketika menciptakan lagu Nenek Moyangku seorang pelaut, terinspirasi dari ayah kandungnya yang berasal dari perantau pelaut dari Bugis.
Karier
Ibu Soed dikenal sebagai tokoh musik tiga zaman (Belanda, Jepang, dan Indonesia). Kariernya di bidang musik bahkan sudah dimulai jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Suaranya pertama kali disiarkan dari radioNIROM Jakarta periode 1927-1928.[9]
Setelah menamatkan pendidikan di Hoogere Kweek School-Bandung, Ibu Soed kemudian menjadi guru musik di HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna yang masih menggunakan Bahasa Belanda (1925-1941).[6][10] Ia prihatin melihat anak-anak Indonesia yang tampak kurang gembira saat itu. Hal ini membuat Ibu Soed berpikir untuk menyenangkan mereka dengan bernyanyi lagu ceria. Didorong rasa patriotisnya, Ibu Soed ingin mengajar mereka untuk menyanyi dalam bahasa Indonesia. Dari sinilah Ibu Soed mulai menciptakan lagu-lagu yang bersifat ceria dan patriotik untuk anak-anak Indonesia.
Saat aktif sebagai anggota organisasi Indonesia Muda tahun 1926, Ibu Soed juga membentuk grup tonil amatir yang dipentaskan untuk menggalang dana acara penginapan mahasiswaClub Indonesia. Aktivitasnya tidak hanya menonjol sebagai guru dan aktivis organisasi pemuda, tetapi juga berperan dalam berbagai siaran radio sebagai pengasuh siaran anak-anak (1927-1962).
Oleh karena reputasinya yang aktif dalam pergerakan nasional saat itu, pada tahun 1945 Ibu Soed pernah menjadi sasaran aksi penggeledahan oleh pasukan Belanda. Rumah Ibu Soed di Jalan Maluku No. 36, Jakarta,[11] saat itu sudah dikepung oleh pasukan Belanda, tetapi tetangga Ibu Soed yang seorang Belanda meyakinkan mereka bahwa mereka salah sasaran, karena profesi Ibu Soed hanyalah pencipta lagu dan suaminya hanyalah pedagang. Walaupun selamat dari penggeledahan tersebut, Ibu Soed dan seorang pembantu tetap harus bersusah payah membuang pemancar radio gelap ke dalam sumur.[12][13]
Ibu Soed juga dikenal piawai dalam seni batik. Atas karya dan pengabdiannya, ia menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari pemerintah Indonesia dan MURI.
Lagu-lagu Ibu Soed, menurut Pak Kasur, salah seorang rekannya yang juga tokoh pencipta lagu anak-anak, selalu mempunyai semangat patriotisme yang tinggi. Sebagai contoh, patriotisme terdengar sangat kental dalam lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu itu diciptakan Ibu Soed setelah melihat kegigihan Jusuf Ronodipuro, seorang pimpinan kantor RRI menjelang Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, di mana Jusuf menolak untuk menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar di kantor RRI, walaupun dalam ancaman senjata api pasukan Belanda.
Pada tahun 1962, Ibu Soed menjadi utusan Presiden Soekarno dalam acara World Fair di New York, Amerika Serikat. Pada saat itu, Ibu Soed jatuh sakit akibat cuaca dingin di Amerika. Dari pengalaman tersebut, ia mendapat inspirasi untuk menciptakan lagu Tanah Airku sebagai bentuk kerinduan pada tanah airnya dimana ia merasa nyaman.
Ibu Soed banyak menciptakan lagu khusus untuk anak-anak. Ia memperkirakan telah menciptakan lebih dari 200 lagu, walau hanya separuh yang bisa terselamatkan dan bertahan sampai sekarang. Jauh sebelum meninggal, Ibu Soed sempat mengungkapkan perasaannya yang menyayangkan bahwa lagu anak-anak sekarang telah menjadi serba komersial.[note 2]
Komponis musik klasik terkemuka Ananda Sukarlan menciptakan berbagai karya virtuosik untuk piano solo berupa fantasies, variations, dan transformasi lainnya seperti toccata dari berbagai lagu Ibu Soed. Karya-karya ini sekarang dimainkan oleh banyak pianis Indonesia dan internasional di konser-konser dalam dan luar negeri, menjadi repertoire kompetisi piano nasional dan internasional, dan bahkan sudah menjadi bahan penelitian, tesis dan disertasi di berbagai universitas.
Daftar lagu ciptaan Ibu Soed
Anak Kuat
Berkibarlah Benderaku
Bendera Merah Putih
Burung Kutilang
Dengar Katak Bernyanyi
Desaku
Hai Becak
Indonesia Tumpah Darahku
Himne Kemerdekaan
Kapal Api
Kampung Halamanku
Kupu-kupu yang Lucu
Lagu Bermain
Lagu Gembira
Main Ular-Ularan
Menanam Jagung
Naik-Naik ke Puncak Gunung
Nenek Moyang
Pagi-pagi
Pergi Belajar
Tanah Airku
Teka-Teki
Tidur Anakku
Tik Tik Bunyi Hujan
Waktu Sekolah Usai
Naik Kereta Api
Kehidupan pribadi
Saridjah menikah dengan Raden Mas Bintang Soedibjo di bulan November 1925, dan pernikahan Ini dilangsungkan secara besar-besaran menggunakan adat Jawa di Pendapat Kabupaten Semarang. Raden Mas Bintang Soedibjo merupakan seorang bangsawan asal Semarang. Beliau merupakan putra dari Patih Semarang, Raden Mas Soedibjo, dan Raden Ayu Sapinah Notonegoro. Dari garis ibunya, Raden Mas Bintang Soedibjo juga merupakan cucu dari Bupati Kendal, Raden Mas Adipati Ario Kamal Notonegoro (memerintah 1891-1914), buyut dari Bupati Kendal, Pangeran Ario Notohamiprojo (memerintah 1857-1891), udeg-udeg (keturunan ke-6) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III (memerintah 1749-1788), dan gantung siwur (keturunan ke-7) dari Mangkunegara I (memerintah 1757-1795). Raden Mas Bintang Soedibjo juga merupakan seorang pengusaha. Sejak menikah dengan Raden Mas Bintang Soedibjo, Saridjah lebih dikenal dengan sebutan Ibu Soed.[2] Pada tahun 1954, suami Ibu Soed tertimpa musibah kecelakaan pesawat BOAC di Singapura.[3] Di usia tuanya, Ibu Soed hidup ditemani cucu dan cicitnya. Ia bertekad untuk tetap mencipta lagu dan membatik tanpa mempedulikan usia. Meskipun bukan pengusaha batik, ia ingin tetap menghargai nilai seni di balik budaya nasional tersebut. Di hari tuanya, ia juga masih gemar berolahraga jalan kaki setiap pagi sekitar tiga kilometer. Ibu Soed tutup usia pada tahun 1993, di usia 85 tahun.
↑Purnomo, E., Haerudin, D., Rohmanto, B., & Juih, J. (2017). Seni Budaya SMP/MTs Kelas VIII (Edisi Revisi). Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. ISBN 978-602-282-333-9.
↑Praten, M., Dewabrata, T., Farid, E., Efgeni, E., Faizah, N., Nurmawati, L., Permatasari, I., Subardini, N. N., Harahap, T. R., Putra, S. S. S., & Luthfiah, D. (2013). Kokikata 3 2013 (Majalah anak-anak). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. ISSN 2089-2918. (PDF di Repositori Kemendikdasmen).