Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: "Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku," sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan.[5]
Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.[6]
Firman Allah menentukan siapa yang akan memasuki perhentian Allah. Firman ini merupakan pedang tajam yang menusuk sampai ke dalam hati sanubari manusia untuk mengetahui apakah pikiran dan motivasi orang itu rohani atau tidak. Pedang ini bermata dua, yang memotong untuk menyelamatkan kehidupan orang atau yang menghukum orang untuk mengalami kematian kekal (bandingkan Yohanes 6:63; 12:48). Oleh karena itu, tanggapan terhadap Firman Allah seharusnya lebih mendekatkan orang beriman kepada Yesus sebagai Imam Besarnya (Ibrani 4:14-16).[7]
Ayat 14
Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.[8]
"Imam Besar Agung...Yesus": Setelah Kristus sendiri menanggung hukuman atas dosa-dosa umat manusia dengan mempersembahkan hidup-Nya sebagai korban, Ia masuk sorga di mana Ia melayani di hadapan Allah demi orang percaya. Pelayanan Yesus sebagai Imam Besar (bandingkan Ibrani 2:17) meliputi enam bidang:
2) Yesus menjadi pengantara perjanjian baru yang lebih baik supaya semua "yang telah terpanggil dapat menerima bagian (warisan) kekal yang dijanjikan" (Ibrani 9:15–22), dan dapat senantiasa menghampiri Allah dengan penuh keyakinan (Ibrani 4:16; 6:19–20; 7:25; 10:19–22; lihat Yohanes 17:1 mengenai doa Yesus selaku Imam Besar).
3) Ia berada di sorga di hadapan Allah untuk memberikan kasih karunia Allah kepada kita yang percaya (Ibrani 4:14–16). Oleh kasih karunia ini yang diberikan kepada kita melalui Dia, Kristus memperbaharui kita (Yoh 3:3) dan mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas kita (Kisah Para Rasul 1:4; Kisah Para Rasul 2:4,33).
4) Yesus bertindak selaku perantara di antara Allah dengan semua orang yang telah melanggar hukum Allah dan mencari pengampunan serta pemulihan hubungan dengan-Nya (1 Yohanes 2:1–2).
5) Jabatan imam yang diduduki oleh Yesus adalah untuk selama-lamanya. Sebagai imam Ia turut merasa dengan orang-orang percaya dalam pencobaan serta menolong dalam keperluan mereka (Ibrani 2:18; 4:15-16).
6) Yesus hidup selama-lamanya untuk senantiasa menjadi perantara bagi mereka yang dengan iman "datang kepada Allah" oleh Dia (Ibrani 7:25). Akhirnya, Ia akan menyempurnakan keselamatan orang percaya (lihat Ibrani 7:25 dan Ibrani 9:28).[7]
Ayat 15
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.[9]
Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.[10]
Karena Kristus dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan orang beriman (Ibrani 4:15), orang itu dapat dengan penuh keberanian menghampiri takhta sorgawi, karena mengetahui bahwa doa dan permohonannya diterima dan diinginkan oleh Bapa di sorga (bandingkan Ibrani 10:19–20). Tempat itu disebut "takhta kasih karunia" karena dari takhta itu mengalir kasih, pertolongan, kemurahan, pengampunan, kuasa rohani, pencurahan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, buah roh, dan semua yang diperlukan oleh orang beriman dari Allah. Salah satu berkat terbesar dari keselamatan ialah bahwa Kristus kini merupakan Imam Besar orang-orang beriman yang membuka jalan langsung ke hadapan Dia sehingga orang beriman selalu dapat meminta bantuan yang diperlukan.[7]
Referensi
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 979-415-905-0.