Iblis (bahasa Arab:إبليسcode: ar is deprecated , iblīs) merupakan tokoh dalam ajaran Islam yang dipandang sebagai pemimpin para setan. Ia digambarkan sebagai makhluk yang dikuasai oleh ego dan nafsu berlebihan.
Menurut Al-Qur'an, Iblis diusir dari surga setelah menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam. Sebagai konsekuensi dari penolakannya, Iblis diberikan penangguhan usia hingga hari kiamat, yaitu sampai tiupan sangkakala pertama.[1]
Wujud dan bentuk
Kisah dengan Nabi Yahya a.s.
Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa Nabi Yahya a.s. pernah meminta Iblis untuk menampakkan wujud aslinya. Iblis menyetujui permintaan tersebut dengan syarat tidak ada seorang pun selain Nabi Yahya a.s. yang melihatnya. Pada hari berikutnya, Iblis datang sesuai kesepakatan dan menampakkan rupa yang sangat buruk.
Dalam kitab Ghawr al-Umur karya al-Hakim at-Tirmidzi disebutkan bahwa Iblis pernah mendatangi para nabi, mulai dari Nabi Nuh a.s. hingga Nabi Isa a.s. Dari semua nabi yang ditemuinya, Nabi Yahya a.s. adalah yang paling banyak diajak berbicara. Nabi Yahya a.s. kemudian meminta Iblis untuk menunjukkan wujud asli serta berbagai perangkap yang digunakan untuk menyesatkan manusia.
Iblis pun menampakkan diri dalam bentuk menyerupai hewan yang buruk rupa dan menakutkan.
Ciri fisik
Riwayat menyebutkan bahwa wujud Iblis digambarkan sebagai berikut:
Tubuh menyerupai babi, wajah mirip kera, dengan mata memanjang seperti mulut.
Tidak memiliki janggut, rambut di kepala jarang dan berdiri ke atas.
Memiliki empat tangan: dua di bahu dan dua di kening.
Jari berjumlah enam, hidung menghadap ke atas, serta memiliki belalai.
Pincang dan bersayap.
Di atas tubuhnya terdapat berhala Majusi, sementara di sekeliling bajunya terdapat enam jenis minuman berwarna-warni.
Memegang lonceng besar, dan di atas kepalanya terdapat telur dengan besi panjang di tengahnya.
Penjelasan Iblis
Ketika Nabi Yahya a.s. menanyakan alasan bentuknya sangat buruk, Iblis menjawab bahwa ia dahulu berasal dari golongan malaikat yang mulia. Ia pernah bersujud selama 400.000 tahun, namun menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s. Akibatnya, Allah murka dan melaknatnya, sehingga ia berubah rupa menjadi buruk dan jelek.
Asal mula
Iblis berasal dari golongan jin, keturunan dari al-Jin yaitu Abu Ja’an, yang disebut sebagai bapak seluruh jin (Banu Jaan). Tubuhnya berasal dari inti api, sementara ruhnya dari cahaya. Ia dapat terbang ke langit dunia hingga akhirnya diperintahkan turun ke bumi untuk berkembang biak dan mengalami kematian.
Menurut riwayat Ibnu Abbas r.a., jin pertama yang diciptakan Allah adalah Samum, tercipta dari nyala api neraka. Samum diberi kemampuan untuk tidak terlihat, menghilang di dalam air, serta kembali muda setelah menua. Keturunannya kemudian menjadi makhluk tak kasatmata.
Al-Qur'an menggambarkan dialog antara Allah dan Iblis terkait penangguhan usia hingga hari kiamat (Shaad 38:71–85). Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia, kecuali hamba Allah yang ikhlas.
Keturunan
Riwayat menyebutkan bahwa Iblis memiliki banyak keturunan, dengan jumlah yang sangat besar. Beberapa nama yang disebutkan antara lain:
Al-Syabru bin Iblis: bertugas menghapus kesabaran.
Al-Anwar bin Iblis: bertugas menjerumuskan dalam perzinahan.
Al-Saud bin Iblis: bertugas menyebarkan kebohongan dan isu palsu.
Al-Dasim bin Iblis: bertugas merusak hubungan perkawinan.
Az-Zalanbur bin Iblis: bertugas menjadi pengacau di pasar.
Al-Walhan bin Iblis: bertugas menimbulkan waswas dalam bersuci.
Al-Kanzab bin Iblis: bertugas mengganggu kekhusyukan dalam salat.
Penangguhan umur
Iblis diberikan penangguhan umur hingga kiamat pada tiupan sangkakala pertama, terdapat pada Al-Qur'an surah Al-Hijr:
Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. (Al Hijr 15:36-38)
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa Iblis kini berada di tengah lautan, dikelilingi oleh beberapa ular. Dari tempat itu ia mengendalikan aktivitas penyesatan terhadap manusia. Markas besar Iblis dikisahkan berada di samudra, dipilih karena luasnya yang mencapai tiga perempat permukaan bumi. Iblis membangun kerajaannya di laut dengan tujuan menandingi Arasy Allah yang berada di atas air di langit ketujuh.[2][3][4]
Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Iblis dan keturunannya tinggal serta berkumpul di tempat-tempat kotor, pasar, pesta, hiburan, dan lokasi maksiat.[5]
Kisah Iblis di neraka
Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa ketika penghuni neraka telah masuk ke dalamnya, disediakan mimbar, pakaian, mahkota, dan tali dari api untuk mengikat Iblis. Ia diperintahkan naik ke mimbar dan berbicara kepada penghuni neraka.
Iblis menyampaikan bahwa Allah telah menjanjikan kehidupan setelah mati, dengan manusia dibagi menjadi dua golongan: penghuni surga dan penghuni neraka. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kekuasaan atas manusia selain menggoda, dan dosa akibat mengikuti godaannya menjadi tanggung jawab manusia sendiri.
Setelah mendengar ucapannya, para penghuni neraka melaknat Iblis. Malaikat Zabaniah kemudian memukulnya dengan tombak api, menjatuhkannya ke dasar neraka paling bawah, tempat ia kekal bersama pengikutnya. Malaikat Zabaniah menegaskan bahwa tidak ada kematian atau kesenangan bagi mereka, melainkan kekekalan dalam siksa.
Kematian dan kehidupan
Iblis awalnya tinggal di surga dan dikenal sebagai ahli ibadah dengan nama Azazil al-Harits. Namun, karena kesombongannya terhadap Nabi Adam a.s., ia diusir dari surga dan menjadi makhluk terlaknat.
Iblis memohon kepada Allah agar umurnya ditangguhkan hingga hari kiamat, dan permohonan itu dikabulkan. Ia hidup sampai tiupan sangkakala pertama oleh Malaikat Israfil.
Riwayat menyebutkan bahwa pada hari kiamat, ketika manusia, jin, dan setan telah tiada, hanya malaikat yang tersisa. Allah memerintahkan Malaikat Izrail (Malaikat Maut) untuk mencabut nyawa Iblis dengan siksaan yang berlipat ganda, dibantu 70.000 Malaikat Zabaniah yang membawa rantai dari neraka.
Malaikat Maut turun dengan wujud mengerikan, menangkap Iblis, dan menimpakan siksaan berulang hingga ia sekarat. Iblis akhirnya mati di tempat ia dahulu diturunkan dan dilaknat.
Setelah kematian Iblis, Allah memerintahkan Malaikat Maut mencabut nyawa seluruh malaikat, termasuk dirinya sendiri, sesuai firman Allah bahwa setiap makhluk bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Referensi
↑"Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. Berkata iblis, ya Tuhanku (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman, (kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan." — QS al-Hijir, 35-38.
↑Rasulullah bersabda, “Iblis mempunyai singgasana di laut. Kemudian dia mengirim pasukannya (untuk menimbulkan pertikaian). Yang paling dekat dengan Iblis adalah mereka yang paling hebat dalam menciptakan pertikaian.” (Sahih Muslim, Hadits 5032).
↑Dari Jabir berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian menyebarkan bala tentaranya dan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar fitnahnya, salah satunya datang lalu berkata, saya telah melakukan ini dan ini, lalu iblis mengatakan, kamu tidak berbuat apa-apa. Kemudian datang yang lain dan mengatakan, tidaklah aku meninggalkan manusia sehingga dia berselisih dengan keluarganya, maka iblis mendekatkan dia hingga dia mengatakan, kamu adalah sebaik-baik teman.” (HR. Muslim)(Ibid, hal.207).
↑Imam Ahmad berkata bahwa telah bercerita kepadaku Yunus dari Hammad bin Salamah dari Ali dari Abu Nadhrah dari Abu Said bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ibnu Shayyad: “Apa yang kamu lihat? Dia menjawab, saya melihat singgasana di atas lautan yang dikelilingi oleh beberapa ular. Maka Rasulullah bersabda: dia telah melihat singgasana iblis.” (HR. Ahmad),
↑Anas bin Malik r.a. berkata, "Iblis telah bertanya pada Allah, katanya: "Wahai Tuhanku! Engkau telah memberikan anak Adam tempat kediaman untuk mereka berteduh dan berzikir kepada-Mu, oleh itu tunjukkanlah padaku tempat kediaman untukku." Firman Allah: "Tempat kediamanmu adalah di dalam kakus." "Wahai Tuhanku, Engkau telah berikan anak Adam berkumpul di masjid, di manakah pula tempatku berkumpul?" "Tempatmu berkumpul ialah di pasar-pasar, pesta, pusat membeli-beli, kelab malam, tempat hiburan serta majlis-majlis maksiat."