I Nyoman Gunarsa (15 April 1944–10 September 2017) adalah seorang pelukisIndonesia yang dikenal melalui karya-karya ekspresif bertemakan budaya Bali, terutama figur penari Legong. Ia merupakan salah satu tokoh dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia dan pendiri Sanggar Dewata Indonesia.
Latar belakang
Sejak muda, Nyoman telah menunjukkan bakat besar dalam seni lukis. Ia menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan kemudian mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1970, bersama sejumlah perupa Bali lainnya, ia mendirikan Sanggar Dewata Indonesia, yang menjadi wadah bagi para seniman dengan semangat mengekspresikan identitas Bali dalam bahasa seni modern.[1]
Sebagai pelukis produktif, Nyoman Gunarsa aktif mengadakan pameran tunggal di berbagai negara, antara lain Malaysia, Australia, Belanda, Jepang, Singapura, Prancis, Monako, dan Amerika Serikat. Karya-karyanya yang ekspresif dan sarat warna menggambarkan dinamika budaya Bali melalui gaya yang khas dan energik. Sejumlah karya pentingnya kini menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia dan koleksi negara, termasuk Calon Arang (1968), Balinese Offerings (1981), Open Ceremony I–IV (1973–1978), dan Wayang (Mandalangi).[1]
Penghargaan
Reputasi dan dedikasi Nyoman dalam dunia seni rupa membawanya meraih beberapa penghargaan, termasuk Pratisara Affandi Adi Karya Art Award (1976), Karya Terbaik Biennale III dan IV Jakarta (1978 dan 1980), Lempad Prize (1980), Medali Perak Biennale I Seni Lukis Yogyakarta (1988), Dharma Kusuma Cultural Award dari Pemerintah Daerah Bali (1994), dan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia (2003).
Selain itu, beberapa karya Nyoman Gunarsa juga diikutsertakan dalam pameran keliling Galeri Nasional Indonesia, seperti Ziarah di Yogyakarta (2015), Bumi Tadulako: Mareso, Maroso Rupa di Palu (Sulawesi Tengah), dan Spirit Khua Jukhai di Lampung (2017). Melalui pameran-pameran tersebut, pengaruh artistiknya terus dikenang dan diapresiasi.
Meninggal dunia
I Nyoman Gunarsa meninggal dunia pada 10 September 2017. Sepeninggalnya, ia dikenang sebagai "Si Tangan Emas" yang turut memberikan kontribusi bagi perkembangan seni rupa di Indonesia.[1]