Sejarah
Istilah "hypercar" pertama kali digunakan pada awal 1990-an oleh Rocky Mountain Institute dalam proyek kendaraan konsep ramah lingkungan yang sangat efisien dan ringan. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan mobil dengan emisi rendah dan efisiensi energi yang tinggi, yang diwakili oleh konsep yang mereka sebut "Hypercar". Kendaraan dalam proyek ini didesain untuk menggabungkan teknologi canggih dengan performa yang sangat tinggi, meskipun dengan fokus pada keberlanjutan dan efisiensi bahan bakar, bukan kecepatan ekstrem seperti yang kita kenal sekarang.[2]
Namun, dalam konteks otomotif, istilah "hypercar" mulai dikenal luas pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, ketika mobil-mobil dengan performa luar biasa mulai muncul, seperti McLaren F1 (1992), yang sering dianggap sebagai pelopor dalam kategori hypercar. McLaren F1 menawarkan tenaga 618 HP dan mampu mencapai kecepatan maksimal 386 km/jam, yang pada saat itu merupakan rekor dunia. Mobil ini memiliki teknologi mutakhir dengan material serat karbon dan desain yang mengutamakan keseimbangan antara performa dan kenyamanan.[3]
Setelah McLaren F1, muncul beberapa hypercar lainnya yang semakin mempopulerkan istilah ini, terutama dengan hadirnya Bugatti Veyron pada tahun 2005. Bugatti Veyron dengan tenaga 1.001 HP dan kecepatan maksimum lebih dari 400 km/jam membuktikan bahwa mobil dengan performa luar biasa ini dapat diproduksi untuk konsumen, dengan harga yang sangat tinggi dan produksi terbatas. Veyron menjadi simbol dari kategori hypercar yang menggabungkan kecepatan, teknologi canggih, dan desain mewah dalam satu paket yang sangat eksklusif.[4]
Sementara itu, Bugatti Chiron yang menggantikan Veyron, memperkenalkan mesin W16 quad-turbocharged dengan tenaga 1.479 HP, menjadikannya salah satu mobil paling kuat dan tercepat di dunia. Chiron mampu mencapai kecepatan lebih dari 420 km/jam, dan dengan harga yang jauh lebih tinggi, ia mempertahankan statusnya sebagai salah satu hypercar paling eksklusif dan berperforma tinggi yang pernah ada.[5]
Sementara itu, mobil seperti Porsche 918 Spyder (2015), yang dianggap oleh banyak orang sebagai supercar, meskipun sangat berperforma tinggi dan menggunakan teknologi hybrid, tetap dikategorikan lebih rendah daripada hypercar. Dengan tenaga 887 HP dan kecepatan maksimal 340 km/jam, 918 Spyder masuk dalam kategori supercar karena meskipun memiliki tenaga luar biasa dan teknologi canggih, harganya dan performanya tidak berada pada level yang sama dengan mobil-mobil hypercar seperti Chiron atau Koenigsegg Jesko.[6]
Seiring berjalannya waktu, banyak produsen mobil lain mulai mengembangkan hypercar mereka sendiri, seperti Koenigsegg Agera, McLaren P1, Ferrari LaFerrari, dan Porsche 918 Spyder, yang semuanya menyajikan teknologi hybrid, desain aerodinamis canggih, dan tenaga mesin luar biasa untuk memberikan pengalaman berkendara yang tidak tertandingi. Era hypercar modern semakin berkembang dengan mobil-mobil seperti Aston Martin Valkyrie dan Mercedes-AMG One, yang memanfaatkan teknologi Formula 1 untuk menghadirkan performa ekstrem di jalan raya.[7]