Hwasong-15 (Hangul:《화성-15》형code: ko is deprecated ;Hanja:火星 15型code: ko is deprecated ; lit.Mars Tipe 15) adalah rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dikembangkan oleh Korea Utara. Rudal ini pertama kali diuji coba pada 28 November 2017, sekitar pukul 3 pagi waktu setempat. Hwasong-15 merupakan rudal balistik pertama yang dikembangkan oleh Korea Utara yang secara teoretis mampu menjangkau seluruh daratan Amerika Serikat.[1][2][3]
Deskripsi dan Spesifikasi
Hwasong-15 merupakan pengembangan lebih lanjut dari pendahulunya, Hwasong-14. Rudal ini memiliki ukuran yang lebih besar dengan panjang dan diameter yang meningkat sekitar 10 persen dibandingkan Hwasong-14. Tahap kedua rudal ini secara signifikan lebih besar dan menggunakan mesin baru yang jauh lebih kuat di tahap pertamanya.[4]
Dalam uji coba 28 November 2017, rudal ini diterbangkan dengan lintasan tinggi (lofted trajectory), mencapai ketinggian maksimum sekitar 4.475 km dan menempuh jarak 950 km selama 53 menit penerbangan sebelum jatuh di Laut Jepang. Jika diterbangkan dengan lintasan standar (minimum energy trajectory), para ahli memperkirakan rudal ini memiliki jangkauan lebih dari 13.000 km, cukup untuk mencapai Washington D.C. dan seluruh bagian daratan Amerika Serikat.[2][4]
Kendaraan Masuk Kembali (Reentry Vehicle)
Salah satu fitur penting dari Hwasong-15 adalah kendaraan masuk kembali (reentry vehicle/RV) yang lebih lebar dan tumpul dibandingkan dengan Hwasong-14. Bentuk yang lebih tumpul ini memiliki beberapa keuntungan:[4]
1. Stabilitas lebih baik - Bentuk tumpul memungkinkan hulu ledak ditempatkan lebih ke depan, menggeser pusat massa ke depan dan membuat RV lebih stabil saat masuk kembali ke atmosfer.
2. Perlindungan termal lebih baik - Bentuk tumpul menciptakan gelombang kejut yang lebih lebar di depan RV, membantu menjaga udara panas agar tidak mentransfer panasnya ke RV.
3. Tekanan aerodinamis lebih rendah - RV tumpul melambat lebih cepat di lapisan atmosfer atas yang tipis, sehingga mengalami tekanan dan pemanasan yang jauh lebih rendah saat memasuki atmosfer bawah yang tebal.
Diperkirakan bahwa RV Hwasong-15 mengalami tekanan puncak dan pemanasan hanya seperempat dari yang dialami RV Hwasong-14 jika diterbangkan dengan lintasan yang sama.[4]
Uji Coba dan Pengembangan
Uji coba 28 November 2017 diawasi langsung oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Media negara Korea Utara menggambarkan peluncuran ini sebagai "sukses" dan mengklaim bahwa rudal tersebut diluncurkan dari kendaraan peluncur baru yang "sempurna". Pyongyang menyatakan bahwa dengan uji coba ini mereka "akhirnya mewujudkan tujuan besar sejarah untuk menyelesaikan kekuatan nuklir negara".[3]
Namun, analis Barat masih memperdebatkan apakah Korea Utara telah sepenuhnya menguasai teknologi kendaraan masuk kembali yang diperlukan untuk mengirimkan hulu ledak nuklir ke target. Laporan pejabat AS menyebutkan bahwa RV dalam uji coba 28 November "mengalami masalah" dan "kemungkinan hancur" saat masuk kembali ke atmosfer. Meskipun demikian, para ahli mencatat bahwa tekanan pada RV dalam lintasan tinggi (lofted trajectory) lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan lintasan standar sejauh 13.000 km, sehingga RV mungkin dapat bertahan jika diterbangkan dalam lintasan standar.[4]
David Wright dari Union of Concerned Scientists menyatakan bahwa jika Korea Utara mampu mendemonstrasikan bahwa RV-nya dapat bertahan dari tekanan puncak dan pemanasan pada lintasan tinggi, maka seharusnya RV tersebut juga dapat bertahan pada lintasan standar. Mengingat perkiraan kemampuan rudal Hwasong-15, Korea Utara tampaknya memiliki opsi untuk memperkuat RV dan masih mampu mengirimkan hulu ledak ke jarak jauh.[4]
Respon Internasional
Uji coba Hwasong-15 memicu kecaman internasional dan sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperingatkan bahwa jika perang terjadi, "rezim Korea Utara akan dihancurkan sepenuhnya". Presiden AS Donald Trump kembali menggunakan julukan "Little Rocket Man" untuk Kim Jong-un dan menyebutnya "anak yang sakit".[3]
Tiongkok, sekutu utama Korea Utara, melalui editorial China Daily menyerukan agar kedua belah pihak (AS dan Korea Utara) menenangkan diri dan memperingatkan bahwa "waktu terus berdetak menuju salah satu dari dua pilihan: belajar hidup dengan Korea Utara yang memiliki senjata nuklir atau memicu situasi terburuk".[3]
Menteri Pertahanan AS saat itu, James Mattis, menyatakan bahwa uji coba ini merupakan "upaya berkelanjutan untuk membangun ancaman rudal balistik yang membahayakan perdamaian dunia, perdamaian regional, dan tentu saja Amerika Serikat".[2]