Hutan hujan Pegunungan Tengah adalah kawasan ekosistem hutan hujan tropis basah di Pulau Papua. Kawasan ekosistem ini mencakup Pegunungan Tengah Pegunungan Tinggi Papua, yang membentang sepanjang punggung pulau. Hutan hujan pegunungan di kawasan ekosistem ini berbeda dengan hutan dataran rendah di sekitarnya, dan menjadi habitat bagi banyak tumbuhan dan hewan endemik.
Geografi
Ekoregion ini mencakup hutan hujan pegunungan di Pegunungan Tengah, atau Cordillera Tengah, pada ketinggian antara 1.000 dan 3.000 meter. Pegunungan Tengah membentang ke timur dan barat melintasi Papua Nugini, dengan bagian barat pegunungan berada di Indonesia dan bagian timur di Papua Nugini. Pegunungan Tengah mencakup Pegunungan Weyland di ujung baratnya, Pegunungan Salju di Provinsi Papua Indonesia, Pegunungan Bintang yang membentang di perbatasan Indonesia–Papua Nugini, serta Dataran Tinggi Tengah dan Timur Papua Nugini.[3][4]
Semenanjung leher burung terletak di ujung barat Pegunungan Tengah. Ketinggian relatif rendah semenanjung ini (160 meter) memisahkan flora dan fauna pegunungan Pegunungan Tengah dari flora dan fauna dataran tinggi di Semenanjung Leher Burung dan Semenanjung Bomberai di sebelah barat.[5]
Daerah pegunungan secara umum memiliki karakteristik unik yang memengaruhi pola aliran air dan siklus hidrologis secara signifikan. Beberapa karakteristik ini meliputi; topografi yang curam, hujan lebat, potensi banjir bandang, dan berbagai sumber air penting.[6] Hidrologi kawasan pegunungan memiliki kaitan erat dengan konsep Daerah Aliran Sungai (DAS). Daerah Aliran Sungai adalah wilayah geografis di mana semua air hujan atau aliran air mengalir ke satu titik tertentu, biasanya sebuah sungai atau sungai utama.[7]
Beberapa daerah aliran sungai yang berhulu pada kawasan hutan hujan dataran tinggi Pegunungan Tengah (wilayah Indonesia). Sebagian memiliki muaranya di pesisir utara dan sebagian lagi di pesisir selatan Papua.[8]
DAS Sepik. Merupakan DAS lintas negara antara Indonesia dengan Papua Nugini, berpunggungan dengan DAS Digul di bagian selatan. Berbatasan dengan DAS Mamberamo di sebelah barat.
DAS Mamberamo. Merupakan DAS dengan bentangan terluas dari timur ke barat Papua hingga 525 km. Sebagian kawasan hulu bagian timur berada di Papua Nugini. Berpunggungan dengan 3 DAS kelompok belahan selatan, DAS Digul, DAS Eilanden serta DAS Lorentz. Sebelah timur berbatasan dengan DAS Wapoga dengan aliran utama bermuara di Teluk Cendrawasih. Di bagian utara DAS Mamberamo berbatasan dengan banyak DAS pesisir berukuran lebih kecil, salah satunya adalah DAS Sentani Tami di bagian paling timur yang merupakan DAS lintas negara.
DAS Binatabo. Merupakan DAS kurus dengan aliran utama bermuara di Teluk Cendrawasih. Berbatasan dengan banyak DAS lain seperti DAS Mamberamo serta DAS Wapoga.
DAS Siriwo. Aliran utama dari DAS ini juga bermuara di Teluk Cendrawasih serta berbatasan dengan DAS Binatabo di sebelah timur. Kawasan hulunya saling berpunggungan dengan hulu DAS Murpurka dan sebagian kecil DAS Laenutum yang aliran utamanya bermuara di Laut Arafuru. Dibagian barat berbatasan dengan DAS Wanggar, DAS Nabire serta DAS Makimi.
DAS Wanggar. Berbatasan dengan DAS Siriwo serta DAS Nabire di sebelah timur yang aliran utamanya sama-sama bermuara di Teluk Cendrawasih. Berbatasan dengan DAS Hamuku di sebelah barat. Berpunggungan dengan DAS Laenutum di bagian utara.
Mayoritas kawasan hutan hujan dataran tinggi Pegunungan Tengah ini adalah kawasan hutan lindung, hutan kawasan konservasi dan sebagian kecil hutan produksi yang dapat di konversi.[9]
Iklim
Iklim pegunungan bersifat lembap dan tropis. Curah hujan melebihi 2500mm per tahun di sebagian besar pegunungan, dan dapat melebihi 7000mm per tahun di daerah-daerah terbasah. Suhu rata-rata di pegunungan adalah 18°C, umumnya menurun seiring dengan ketinggian. Embun beku jarang terjadi di bawah ketinggian 2800 meter.[10]