Pemerintahan
Awal Pemerintahan dan Pengaruh Stilicho
Ketika Theodosius I wafat pada tahun 395, Honorius yang baru berusia 11 tahun menjadi Kaisar Romawi Barat. Karena usianya yang muda, pemerintahan Honorius diawasi oleh seorang jenderal bernama Flavius Stilicho, yang bertindak sebagai wali dan pemimpin militer. Stilicho memainkan peran penting dalam mempertahankan Kekaisaran Romawi Barat dari ancaman eksternal, termasuk serangan Visigoth di bawah Alaric I.
Meskipun Stilicho berhasil mempertahankan kekaisaran dalam beberapa kesempatan, intrik politik di istana Honorius menyebabkan Stilicho dieksekusi pada tahun 408 atas tuduhan pengkhianatan. Setelah kematian Stilicho, situasi di Kekaisaran Romawi Barat memburuk.
Invasi Barbar dan Kejatuhan Roma (410)
Pemerintahan Honorius ditandai oleh masuknya suku-suku barbar ke wilayah kekaisaran. Visigoth, di bawah kepemimpinan Alaric I, menjadi ancaman utama. Pada tahun 410, Visigoth mengepung dan menjarah Roma, peristiwa yang mengguncang dunia Romawi. Kejatuhan Roma ini menjadi simbol kemunduran Kekaisaran Romawi Barat.
Selama peristiwa ini, Honorius dikritik karena tidak menunjukkan respons tegas. Ia tinggal di Ravenna, sebuah kota yang lebih terlindungi oleh benteng dan rawa, dan tidak mengambil tindakan langsung untuk menyelamatkan Roma.
Situasi Internal Kekaisaran
Selain ancaman eksternal, pemerintahan Honorius juga diwarnai oleh konflik internal. Pemberontakan terjadi di berbagai provinsi, termasuk di Britania, Galia, dan Hispania. Kekaisaran kehilangan kendali atas Britania pada awal abad ke-5 setelah pasukan Romawi ditarik untuk mempertahankan wilayah lainnya.
Di Gallia dan Hispania, berbagai kelompok barbar seperti Vandal, Alan, dan Suebi menetap di wilayah kekaisaran, yang semakin melemahkan kontrol pemerintah pusat.
Kehidupan Pribadi dan Keluarga
Honorius menikah dua kali, tetapi tidak memiliki keturunan dari kedua pernikahannya. Pernikahan pertamanya adalah dengan Maria, putri Stilicho, tetapi Maria meninggal muda. Pernikahan keduanya adalah dengan Thermantia, saudara perempuan Maria, yang juga berakhir tanpa keturunan.
Ketiadaan ahli waris langsung membuat suksesi menjadi masalah setelah kematian Honorius pada tahun 423. Pemerintahan dilanjutkan oleh sepupunya, Valentinianus III, yang menjadi Kaisar Romawi Barat berikutnya.