Sejarah Hollókő bermula pada abad ke-13, setelah invasi Mongol, ketika sebuah kastil dibangun di bukit terdekat. Nama Hollókő berasal dari gabungan kata "holló", yang berarti gagak, dan "kő", yang berarti batu.[3] Desa Hollókő mengalami beberapa kebakaran karena sebagian besar bangunan hingga awal abad ke-20 masih menggunakan atap jerami yang mudah terbakar. Setelah kebakaran terakhir pada tahun 1909, rumah-rumah dipulihkan ke bentuk aslinya dengan dinding dari bata tanah liat dan atap genteng. Desa ini mempertahankan struktur abad pertengahan tradisional, dengan jalan tunggal panjang yang dibagi menjadi petak-petak sempit tegak lurus. Di tengah permukiman berdiri Gereja Katolik Roma dengan menara kayu dan atap genteng, dibangun pada tahun 1889. Sekitar 60 bangunan di desa ini dilindungi sebagai contoh rumah petani tradisional, dengan atap pelana bertingkat dan beranda berornamen kayu terbuka. Tata letak rumah mengikuti gaya Palóc abad ke-17, biasanya terdiri dari tiga ruangan, yaitu ruang makan dan ruang memasak yang juga digunakan sebagai tempat tidur di musim dingin, dapur yang terhubung dengan lumbung untuk menyimpan hasil pertanian sekaligus kamar tidur orang tua, dan ruang tamu di bagian depan yang juga digunakan oleh pemilik rumah. Seiring bertambahnya anggota keluarga, rumah-rumah diperluas ke belakang, membentuk bangunan seperti yang dapat dilihat saat ini. Desa ini masih berfungsi sebagai permukiman hidup, dengan beberapa rumah menampilkan perabot, dekorasi, dan peralatan tradisional, termasuk praktik kerajinan tekstil di beberapa bangunan. Beberapa fasilitas tambahan di desa mencakup kantor pos dan taman kanak-kanak.[4]