Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu adalah film dramaromantis Indonesia tahun 2024 yang disutradarai oleh Kuntz Agus berdasarkan novel berjudul sama karya Pidi Baiq. Film produksi MVP Pictures ini dibintangi oleh Adinia Wirasti, Ajil Ditto, dan Hanggini, dengan alur cerita tentang dilema seorang calon seniman asal Sumatera Barat saat dirinya mulai dekat dengan seorang wanita yang jauh lebih tua pada masa kuliahnya di Yogyakarta, mengingat dia telah bertunangan dengan seorang wanita di kampungnya
Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu tayang perdana di bioskop Indonesia pada 21 November 2024 dan ditayangkan di Netflix pada 3 April 2025.[1][2]
Plot
Sadali—seorang pemuda asal Bukittinggi, Sumatera Barat—memutuskan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang kuliah dengan mengambil jurusan seni rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebelum berangkat ke Pulau Jawa, Sadali dijodohkan dengan gadis cantik bernama Arnaza. Pertama dikenalkan, keduanya sudah jatuh hati dan saling menyukai. Kedua belah keluarga pun kemudian memutuskan untuk menggelar acara pertunangan dulu sebelum Sadali pergi. Di Jogja, Sadali tinggal di rumah kos yang ternyata menjadi satu dengan cafe dan galeri seni milik Mera, pencinta seni berusia jauh lebih tua yang sudah memiliki seorang putri hasil pernikahannya dengan seorang WNA bernama Smith.
Dari awal mengenal Mera, Sadali sudah merasa jika hatinya punya ikatan aneh dengan gadis itu. Perasaan Sadali terus membuncah ketika ia semakin mengenal Mera. Mereka juga kerap menghabiskan waktu bersama. Perasaan cinta dibalut kekaguman dengan sosok wanita yang tidak hanya cantik, tetapi juga menginspirasi apalagi keduanya punya jiwa seni yang sama. Seringnya menjalani waktu bersama membuat benih-benih cinta di antara Sadali dan Mera tumbuh, walaupun keduanya masih ragu-ragu untuk memulai hubungan. Mera sendiri mengaku sedang dalam proses perceraian dengan Smith, akibat adanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai anak Smith. Kedekatan Mera dan Sadali sendiri membuat Smith menuduh mereka berdua menjalin hubungan perselingkuhan. Suatu hari Sadali ditangkap polisi akibat mencoret-coret sebuah bis. Mera menebus dan menjemputnya di kantor polisi, di mana mereka berciuman setelah sampai di rumah.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Sadali mengirim sebuah surat ke Bukittinggi yang menyatakan bahwa dia telah menemukan cita-cita dan harapan baru dan belum bisa pulang ke Bukittinggi untuk beberapa saat. Setelah akhirnya pulang ke kampung halamannya, Sadali pun berkata jujur kepada kedua orang tuanya bahwa dia telah menemukan wanita yang dia cintai dan tidak bisa menikah dengan Arzana. Mengetahui hal tersebut, Mera meminta Sadali agar tidak membatalkan pernikahannya dan memutuskan hubungannya dengan Sadali.
Di adegan tengah kredit, saat sedang berada di sebuah bar, Arzana memanggil Sadali yang sedang duduk bersama temannya, yang kemudian disapa balik oleh Sadali.
Film ini diadaptasi dari buku kumpulan kutipan populer karya Pidi Baiq. Tim penulis skenario, Titien Wattimena dan Pidi Baiq sendiri menganggapnya sebagai tantangan karena harus membangun struktur cerita naratif dari buku yang sebenarnya bukan novel utuh.[3] Proses produksi juga melibatkan workshop pelatihan untuk Ajil Ditto guna memastikan adegan melukis dan karya seni yang ditampilkan di layar terlihat otentik.[4] Proses pengambilan gambar utama film ini dilakukan di Yogyakarta dengan latar bangunan-bangunan yang sesuai dengan atmosfer cerita film yang berlatar tahun 1998.[5][6]