Heterotrigona itama adalah spesies lebah tanpa sengat dari famili Apidae yang tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Spesies ini dikenal sebagai "kelulut" atau kelulut hitam dan merupakan salah satu lebah yang paling penting dalam praktik meliponikultur di kawasan tersebut karena sifatnya yang jinak dan produktif.[1][2]
H. itama di pintu masuk koloni
Taksonomi
Spesies ini pertama kali dideskripsikan sebagai Trigona itama oleh Cockerell pada tahun 1918 dengan lokasi tipe di Singapura.[3] Pada tahun 1939, Schwarz memindahkannya ke dalam genus Heterotrigona.[4]
Deskripsi
Lebah pekerja H. itama berukuran sekitar 5–7 mm dengan tubuh berwarna hitam. Sayapnya transparan hingga sedikit gelap.[4]
Sarang dibangun menggunakan cerumen, yaitu campuran lilin dan resin, dengan struktur sisiran horizontal. Pintu masuk sarang biasanya berbentuk tabung atau corong.[5]
H. itama umumnya menghuni hutan tropis primer dan sekunder, tetapi juga mampu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan dan lahan pertanian, terutama jika tersedia sarang buatan.
Catatan dari Sulawesi merupakan laporan yang relatif baru dalam literatur ilmiah, yang menunjukkan bahwa distribusi Heterotrigona itama di Indonesia kemungkinan lebih luas daripada yang sebelumnya diketahui.[6]
Biologi
Sebagai lebah eusosial, H. itama hidup dalam koloni yang dapat terdiri dari ribuan individu. Pekerja mengumpulkan nektar, polen, dan resin dari berbagai jenis tumbuhan.[1]
Preferensi pakan dapat bervariasi tergantung ketersediaan flora lokal, termasuk spesies seperti Muntingia calabura dan anggota genus Garcinia.[8]
Peran ekonomi
Heterotrigona itama merupakan salah satu spesies utama dalam industri meliponikultur di Asia Tenggara. Di Indonesia, lebah ini mulai banyak dibudidayakan untuk produksi madu kelulut, propolis, dan sebagai agen penyerbuk tanaman pertanian.
Madu
Madu yang dihasilkan, dikenal sebagai madu kelulut, memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti polifenol dan flavonoid.[9][10]
Budidaya
Teknik budidaya H. itama mencakup pemindahan koloni dari habitat alami ke kotak sarang serta perbanyakan koloni melalui pembelahan. Pengembangan metode seperti produksi ratu secara in vitro juga telah diteliti.[11]
↑Cockerell, T. D. A. (1918). "Descriptions and Records of Bees". Annals and Magazine of Natural History. 9 (2): 384–390. doi:10.1080/00222931808562542.
12Schwarz, H. F. (1939). "The Indo-Malayan species of Trigona". Bulletin of the American Museum of Natural History (dalam bahasa Inggris). 76 (3): 83–141. Diakses tanggal 17 April 2026.