Pandeman, Sera Bar., Kec. Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur 69466
Jenis
Galeri Keris dan Bengkel Pembuatan Keris
Koleksi
artefak keris dan tombak
Ukuran koleksi
200
Pendiri
Helmi
Kurator
Helmi
Pemilik
Helmi
Helmi Art Museum dan Besalen Santoso Sera adalah pusat pelestarian budaya keris yang berlokasi di Desa Sera Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Helmi Art Museum difungsikan sebagai ruang koleksi dan edukasi yang menampilkan berbagai jenis keris khas Sumenep. Museum ini menyajikan informasi mengenai sejarah keris, teknik pembuatannya, serta nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam tiap bilahnya. Di sisi lain, Besalen Santoso Sera merupakan bengkel kerja (besalen)[1] yang menjadi tempat produksi keris dan pusat pembelajaran bagi para empu dan panjak (perajin keris). Tempat ini juga berperan dalam mentransfer keahlian tradisional kepada generasi penerus.[2]
Peresmian
Kedua fasilitas ini diresmikan pada 31 Januari 2024 sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah dalam melestarikan warisan budaya perkerisan dan memperkuat identitas Sumenep sebagai salah satu pusat budaya keris di Indonesia. Peresmian Museum dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bersama Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo. Kehadiran mereka menandai komitmen pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan ekosistem perkerisan, baik sebagai warisan budaya maupun sumber daya ekonomi masyarakat.[2][3]
Sebagai bagian dari kegiatan peresmian, Pemerintah Kabupaten Sumenep menyerahkan sebanyak 102 sertifikat kompetensi kepada panjak, edukator keris, dan pangruti (penggiat dan pelestari keris) dari berbagai wilayah di Sumenep, termasuk Desa Aeng Tong-Tong dan Palongan yang dikenal sebagai sentra perkerisan nasional.
Bupati Sumenep menegaskan bahwa keberadaan museum dan besalen tersebut dimaksudkan tidak semata-mata sebagai tempat pajangan atau produksi, tetapi sebagai pusat edukasi dan pengembangan budaya keris yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Inisiatif ini juga dipandang sebagai langkah konkret dalam memperkuat peran strategis Sumenep dalam pelestarian seni pembuatan keris di tingkat nasional.
Koleksi
Museum ini menampilkan sekitar 200 jenis keris yang ditata rapi dalam etalase kaca, menyuguhkan pengalaman visual sekaligus edukatif bagi para pengunjung. Dari total koleksi tersebut, sebanyak 120 keris berasal dari Sumenep wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya keris di Indonesia. Sementara itu, 80 keris lainnya merupakan koleksi dari berbagai daerah di Nusantara, mencerminkan keragaman bentuk, motif, serta nilai historis yang melekat pada setiap bilahnya. Selain keris, pengunjung juga dapat menjumpai kesenian khas Sumenep lainnya, seperti topeng dalang. Di museum ini, terdapat lebih dari 70 jenis topeng yang menggambarkan berbagai karakter pewayangan, menambah kekayaan pengalaman wisata yang ditawarkan.[4]
Pemilik Helmi Art Museum, Helmi, menyatakan bahwa keris merupakan karya seni adiluhung yang tidak hanya dihasilkan melalui keterampilan teknis, tetapi juga melalui olah rasa dan pemahaman nilai budaya yang mendalam.[5] Ia menambahkan bahwa keris buatan empu Sumenep telah menembus pasar internasional, dan oleh karena itu penting untuk terus menjaga serta memperkenalkan seni pembuatan keris kepada khalayak yang lebih luas. Koleksi keris di museum ini merupakan koleksi pribadi dari Helmi[6]
Keberadaan Helmi Art Museum dan Besalen Santoso Sera diharapkan menjadi pusat edukasi, pelestarian, dan promosi seni budaya keris, sekaligus mendorong pertumbuhan kreativitas para perajin lokal dan memperluas pengakuan atas warisan budaya Sumenep baik di tingkat nasional maupun global.
Sertifikasi
Sertifikat Kompetensi Kurator Keris KKNI Level 7 dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) oleh Kurator sekaligus pendiri Museum, Bapak Helmi[7]