Sumak Helena Sirén Gualinga (lahir 27 Februari 2002) adalah seorang aktivis lingkungan dan hak asasi manusia asal Ekuador yang berasal dari komunitas adat Kichwa Sarayaku di Pastaza, Ekuador. Ia dikenal luas karena perannya sebagai juru bicara untuk komunitasnya dan perjuangannya melawan eksploitasi minyak di wilayah Amazon.[1]
Kehidupan Awal dan Latar Belakang Keluarga
Helena Gualinga lahir dan besar di komunitas Kichwa Sarayaku. Keluarganya memiliki sejarah panjang dalam perjuangan melawan perusahaan minyak dan pemerintah Ekuador untuk melindungi tanah adat mereka. Ibunya, Noemí Gualinga, adalah mantan presiden Asosiasi Perempuan Kichwa, sementara kakaknya, Nina Gualinga, juga merupakan aktivis lingkungan terkemuka. Ayahnya, Anders Sirén, adalah seorang profesor biologi asal Swedia-Finlandia. Gualinga menghabiskan sebagian besar masa remajanya di Pargas dan Turku, Finlandia, tempat ia tinggal bersama ayahnya.[2]
Ia telah menyatakan bahwa pengalaman tumbuh di lingkungan yang penuh gejolak ini telah memberinya perspektif unik dan menjadikannya lebih termotivasi untuk bertindak.
Aktivisme Lingkungan dan Peran Publik
Helena Gualinga menjadi juru bicara bagi komunitas Sarayaku dan aktif menyoroti konflik antara komunitasnya dan perusahaan minyak. Ia berpartisipasi dalam berbagai demonstrasi dan konferensi internasional, termasuk UN Climate Action Summit 2019 di New York. Dalam konferensi tersebut, ia bersama ratusan aktivis muda lainnya berunjuk rasa di luar markas PBB.[3][4]
Pada COP25 di Madrid, Spanyol, ia menarik perhatian internasional saat berbicara secara terbuka tentang keprihatinannya terhadap pemerintah Ekuador yang memberikan izin ekstraksi minyak di tanah adat. Ia menekankan bahwa dampak krisis iklim seperti kekeringan dan kebakaran hutan sudah dirasakan langsung oleh masyarakat adat. Bersama para aktivis muda lainnya, ia mendirikan gerakan "Polluters Out" yang menuntut agar Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) menolak pendanaan dari perusahaan bahan bakar fosil.[3][4]
Selain aktivisme, Gualinga juga muncul dalam berbagai media. Ia menjadi subjek utama dalam film dokumenter berjudul Helena Sarayaku Manta (Helena dari Sarayaku) yang mendokumentasikan kehidupan dan aktivismenya. Pada April 2022, ia juga tampil di majalah Vogue dalam sebuah artikel tentang seni lukis wajah tradisional Kichwa Sarayaku. Dengan suaranya yang lantang, Gualinga terus menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda, untuk berjuang demi keadilan iklim dan hak-hak masyarakat adat.[3][4]
↑Her sister, Patricia; But within her community, there’s almost universal recognition that Noemí Gualinga is the one person everyone can turn to for help; Known as the “mother of the jungle, ” she’s been particularly busy this year (2020-12-13). "'She goes and helps': Noemí Gualinga, Ecuador's mother of the jungle". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-26.