Nama lengkapnya adalah Hassan bin Tsabit bin Mundzir al-Khazraji al-Anshari, ia biasa disebut Abu Walid dan bergelar Sya'īr ar-Rasūl (Penyair Rasul),[1] ibunya bernama al-Furai‘ah binti Khalid.[2] Ia hidup selama 60 tahun pada masa jahiliyah dan selama 60 tahun pada masa Islam. Ia menjadi penyair kaum Anshar pada masa jahiliah dan menjadi penyair Muhammad pada masa Islam.[1] Muhammad meletakkan sebuah panggung kecil di Masjid Nabawi hanya untuk Hassan bin Tsabit. Di panggung kecil bahwa Hassan membanggakan Muhammad dengan sya'ir-sya'irnya". Hassan termasuk satu di antara tiga penyair Anshar yang gigih membela Muhammad dengan syairnya. Kedua penyair lainnya adalah Ka‘ab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah.
Muhammad meminta Hassan untuk menemui Abu Bakar untuk mempelajari nasab kaumnya. Abu Bakar kemudian mengajarinya pohon nasab bangsa Arab seraya menyebutkan siapa-siapa saja yang harus dicerca dan siapa-siapa saja yang tidak boleh dicerca.[3] Muhammad berkomentar tentangnya, "Sesungguhnya Jibril masih terus mendukungmu selama engkau membela Allah dan Rasul-Nya."
Ketika Pertempuran Khandaq, Hassan ikut bersembunyi bersama para wanita di benteng kecil, dimana ia mengaku ia tidak memiliki keberanian untuk berperang fisik. Hassan ikut didera cambuk karena ikut menyebarkan berita hadis ifki yang menuduh Aisyah berzina setelah ekspedisi Muraisy penaklukan Bani Musthaliq.
Ketika utusan Muqauqis datang dengan membawa Maria untuk Nabi Muhammad, sementara saudara Maria, Sirin, diberikan Muhammad kepada Hassan bin Tsabit.[4]
Kematian
Dikatakan bahwa Hassan berumur sekitar 100 tahun, dan meninggal pada 53 H/672 M pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan.[5]
Referensi
123Mursi, Muhammad Sa'id (2007). Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. hlm.144–146. ISBN979-592-387-0.