Di Bali, harimau-harimau terakhir tercatat pada akhir tahun 1930-an. Beberapa individu kemungkinan bertahan hidup hingga tahun 1940-an dan mungkin 1950-an. Populasi ini diburu hingga punah secara lokal dan habitat alaminya dialihfungsikan untuk kebutuhan manusia.[4]
Nama dalam bahasa Bali untuk harimau ini adalah harimau bali dan samong.[5]
Sejarah taksonomi
Pada tahun 1912, ahli zoologi Jerman Ernst Schwarz mendeskripsikan kulit dan tengkorak harimau betina dewasa dari koleksi Museum Senckenberg yang berasal dari Bali. Ia menamainya Felis tigris balica dan berargumen bahwa subspesies ini berbeda dengan harimau jawa berdasarkan warna bulu yang lebih terang serta tengkorak yang lebih kecil dengan lengkung zigomatik yang lebih sempit.[6]
Pada tahun 1969, kekhasan harimau bali mulai dipertanyakan, karena analisis morfologi dari beberapa tengkorak harimau asal Bali menunjukkan bahwa variasi ukurannya serupa dengan tengkorak harimau jawa. Rona dan pola belang pada bulunya juga tidak memiliki perbedaan yang signifikan.[7]
Perbandingan sekuens DNA mitokondria dari 23 spesimen museum harimau bali dan harimau jawa dengan subspesies harimau yang masih hidup lainnya mengungkapkan adanya kemiripan genetik yang erat antara harimau-harimau di Kepulauan Sunda. Takson-takson ini membentuk kelompok monofiletik yang khas dan berjarak sama dari populasi harimau di daratan utama Asia.[3]
Pada tahun 2017, Satuan Tugas Klasifikasi Kucing dari Kelompok Spesialis Kucing merevisi taksonomi Felidae, dan saat ini mengakui populasi harimau bali dan jawa yang telah punah, serta populasi harimau sumatra sebagai P. t. sondaica.[2]
Karakteristik
Harimau bali dideskripsikan sebagai harimau terkecil di Kepulauan Sunda.[6] Pada abad ke-20, hanya tujuh kulit dan tengkorak harimau asal Bali yang diketahui diawetkan dalam koleksi museum. Ciri umum dari tengkorak-tengkorak ini adalah bidang oksipital yang sempit, yang mana serupa dengan bentuk tengkorak harimau dari Jawa.[8] Kulit spesimen jantan yang diukur di antara pasak memiliki panjang 220 hingga 230cm (87 hingga 91in) dari kepala hingga ujung ekor; sementara panjang spesimen betina 190 hingga 210cm (75 hingga 83in). Berat pejantan berkisar antara 90 hingga 100kg (200 hingga 220pon), dan betina antara 65 hingga 80kg (143 hingga 176pon).[9]
Habitat dan ekologi
Sebagian besar spesimen zoologi harimau bali yang diketahui berasal dari Bali barat, tempat terdapatnya hutan bakau, bukit pasir, dan vegetasi sabana. Mangsa utama harimau bali kemungkinan besar adalah rusa jawa (Rusa timorensis).[10]
Kepunahan
Sebuah kelompok berburu dengan seekor harimau yang ditembak di Bali barat laut, November 1911
Kulit harimau bali yang diawetkan
Pada akhir abad ke-19, perkebunan sawit dan sawah irigasi mulai dibangun, terutama di lereng vulkanik utara Bali yang subur dan jalur aluvial di sekeliling pulau. Perburuan harimau dimulai setelah Belanda berhasil menguasai Bali.[10]
Selama masa kolonial Belanda, perjalanan berburu dilakukan oleh para olahragawan Eropa yang datang dari Jawa. Mereka memiliki mentalitas berburu ala Victoria yang romantis namun membawa malapetaka, serta dilengkapi dengan senapan bertenaga tinggi. Metode perburuan harimau yang paling digemari adalah menangkap mereka dengan perangkap kaki dari baja yang besar dan berat, disembunyikan di bawah umpan berupa kambing atau kijang, lalu menembaknya dari jarak dekat. Seorang pembuat senjata api asal Surabaya dikonfirmasi telah membunuh lebih dari 20 ekor harimau hanya dalam beberapa tahun.[11]
Pada tahun 1941, suaka margasatwa pertama yang kini menjadi Taman Nasional Bali Barat, didirikan di Bali barat, namun hal tersebut sudah terlambat untuk menyelamatkan populasi harimau bali dari kepunahan. Spesies ini kemungkinan besar telah musnah pada akhir Perang Dunia II. Beberapa ekor harimau mungkin sempat bertahan hidup hingga tahun 1950-an, tetapi tidak ada spesimen yang masuk ke koleksi museum setelah masa perang tersebut.[10]
Beberapa tengkorak, kulit, dan tulang harimau diawetkan di sejumlah museum. British Museum di London memiliki koleksi terbanyak, dengan dua kulit dan tiga tengkorak; institusi lainnya meliputi Museum Senckenberg di Frankfurt, Museum Sejarah Alam Negara Stuttgart, museum Naturalis di Leiden, dan Museum Zoologi Bogor, Indonesia, yang menyimpan sisa-sisa dari harimau bali terakhir yang diketahui. Pada tahun 1997, sebuah tengkorak muncul dalam koleksi lama Museum Sejarah Alam Hungaria dan kemudian dipelajari secara ilmiah serta didokumentasikan dengan baik.[12]
Harimau memiliki kedudukan yang jelas dalam kepercayaan cerita rakyat dan ilmu gaib masyarakat Bali. Hewan ini disebutkan dalam berbagai cerita rakyat dan digambarkan dalam seni tradisional, seperti pada lukisan Kamasan dari kerajaan Klungkung. Masyarakat Bali menganggap bubuk tumbukan kumis harimau sebagai racun yang ampuh dan tidak terdeteksi bagi musuh. Bayi di Bali diberi kalung jimat pelindung yang terbuat dari akar bahar dan "gigi harimau atau sepotong tulang harimau".[13]
Tari Barong tradisional Bali melestarikan sebuah sosok dengan topeng harimau yang disebut Barong Macan.[14]
123Kitchener, A. C.; Breitenmoser-Würsten, C.; Eizirik, E.; Gentry, A.; Werdelin, L.; Wilting, A.; Yamaguchi, N.; Abramov, A. V.; Christiansen, P.; Driscoll, C.; Duckworth, J. W.; Johnson, W.; Luo, S.-J.; Meijaard, E.; O'Donoghue, P.; Sanderson, J.; Seymour, K.; Bruford, M.; Groves, C.; Hoffmann, M.; Nowell, K.; Timmons, Z.; Tobe, S. (2017). "A revised taxonomy of the Felidae: The final report of the Cat Classification Task Force of the IUCN Cat Specialist Group"(PDF). Cat News (Special Issue 11): 66–68.
↑Hemmer, H. (1969). "Zur Stellung des Tigers (Panthera tigris) der Insel Bali". Zeitschrift für Säugetierkunde. 34: 216–223.
↑Mazak, V.; Groves, C. P.; Van Bree, P. (1978). "Skin and skull of the Bali Tiger, and a list of preserved specimens of Panthera tigris balica (Schwarz, 1912)". Zeitschrift für Säugetierkunde. 43 (2): 108–113.
123Seidensticker, J. (1986). "Large carnivores and the consequences of habitat insularization: ecology and conservation of tigers in Indonesia and Bangladesh". Dalam S. D. Miller; D. D. Everett (ed.). Cats of the World: biology, conservation, and management. Washington DC: National Wildlife Federation. hlm.1–41.
↑Vojnich, G. (1913). A Kelet-Indiai Szigetcsoporton[In the East Indian Archipelago]. Budapest: Singer és Wolfner.
↑Buzas, B. & Farkas, B. (1997). "An additional skull of the Bali tiger, Panthera tigris balica (Schwarz) in the Hungarian Natural History Museum". Miscellanea Zoologica Hungarica. 11: 101–105.
↑Covarrubias, M. (1937). Island Of Bali. New York: Alfred A. Knopf Inc. hlm.105.
↑Bandem, I. M. (1976). "Barong Dance". The World of Music. 1 (3): 45–52. JSTOR43563555.