Biografi
Han Qinhu lahir pada 538 di Kabupaten Dongyuan, Prefektur Henan (sekarang Xin'an, Henan). Ayahnya, Han Xiong, adalah seorang jenderal terkemuka di Dinasti Zhou Utara, mengabdi sebagai jenderal besar dan gubernur di delapan provinsi. Ia bertubuh besar dan kuat, memiliki tampang seperti seorang pahlawan, pemberani dan gagah, dan juga banyak akal. Sejak kecil, ia banyak membaca buku dan memiliki pemahaman umum tentang karya-karya klasik dan berbagai aliran pemikiran. Pada masa Dinasti Qi Utara, Han Qinhu menjabat sebagai Kepala Sungai, Panglima Besar, Jenderal Kereta Perang dan Kavaleri, Guru Besar Tiga Kantor, dan Kepala Kantor Pertahanan Baichao. Ia kemudian dipindahkan ke posisi Kepala Kantor Pertahanan Hongchao.[2] Yuwen Tai, Kaisar Taizu dari Zhou Utara, sangat mengagumi Han Qinhu atas kepintarannya dan memperkerjakannya sebagai Prefek Xin'an. Ia kemudian mewarisi gelar Adipati Xinyi dari ayahnya dan kemudian diangkat menjadi Tuan Agung Istana atas percapaian militernya.
Ketika Kaisar Wu melancarkan ekspedisi untuk menaklukkan Qi Utara, Han Qianhu membujuk Dugu Yongye, yang mempertahankan Jinyongcheng di Luoyang, untuk menyerah. Kemudian ia berbaris ke Fanyang dan mengalahkannya, sehingga ia mendapatkan pangkat Shangyitong dan gelar gubernur Yongzhou. Ketika Dinasti Chen dari Dinasti Selatan menyerbu Guangzhou, Han Qinhu, sebagai komandan pasukan, mengalahkan mereka dan kemudian menemani Yuwen Xin dalam menenangkan Hezhou. Ketika Adipati Sui Yang Jian (kemudian Kaisar Wen dari Dinasti Sui) menjadi perdana menteri dan merebut kekuasaan nyata di Zhou Utara, Han Qianhu menjadi gubernur Hezhou. Jenderal-jenderal Chen, Zhen Qing, Ren Bannu, dan Xiao Moha sering menyerbu Jiangbei, tetapi Han Qinhu mengalahkan mereka setiap kali.
Pada 581, Yang Jian merebut kekuasaan dan mendirikan Dinasti Sui dan berharap untuk menyatukan Tiongkok dengan menyerang Dinasti Chen di Jiangnan. Mengenal bakat militer dan literatur Han Qinhu, Kaisar Wen mengangkatnya menjadi panglima pasukan Luzhou atas saran Gao Jiong dan menugaskannya untuk menguasai Dinasti Chen. Pada 588, Sui berperang melawan Chen. Han Qinhu memimpin sebanyak 500 pasukan elit mengarungi Sungai Yangtse pada malam hari di Caishi dan kemudian menguasai Gushu (Dangtu, Anhui masa kini) dalam setengah hari. Setelah itu, ia maju untuk menguasai Xinlin. Para tetua di Jiangdong mengenal reputasi Han Qinhu dan membelot ke sisinya. Pasukan Chen mengalami kemunduran hebat. Han Qinhu menangkap Fan Xun secara hidup-hidup, dan memukul mundur Gao Wenzou, seorang pejabat istana Chen, kembali ke Jiankang (Nanjing masa kini). Jenderal Chen Tian Duan dan Lu Shizhen juga menyerah dihadapan Han Qinhu. Han kemudian maju ke Jinling. Pada saat yang sama, He Ruobi baru menguasai Zhongshan (sebelah timur Jiankang). Han Qinhu kemudian bekerja sama dengan Du Yan yang diperintahkan oleh Pangeran Jin Yang Guang (yang kemudian menjadi Kaisar Yang dari Sui) untuk menyerang Jiankang dengan 20,000 tentara. Saat mendengar bahwa Han Qinhu akan menyerang, penjaga di Gerbang Zhuque menjadi ketakutan dan dengan mudah Han Qinhu memusnahkan mereka. Jenderal Chen Ren Zhong setelah dikalahkan oleh He Ruobi menyerah kepada Han Qinhu, menyebabkan moril tentara Chen semakin hancur. Han Qinhu kemudian memimpin tentara untuk menjarah istana dan berhasil menangkap Chen Shubao, kaisar Chen terakhir dan Chen dipenjarakan oleh He Ruobi. Namun, He Ruobi dan Han Qinhu sama-sama bersikeras ingin diakui oleh Kaisar Wen sebagai tokoh yang berjasa dan keduanya berantam. Pada akhirnya, Kaisar Wen mendamaikan keduanya dan mengakui kedua tokoh sebagai tokoh yang berjasa. Namun, ketika Kaisar Wen mencapai Jiankang, ia mendapatkan laporan bahwa pasukan Han Qinhu menjarah istana Chen, maka Kaisar Wen tidak memberi Han Qinhu hadiah.
Kemudian, saat seorang utusan Göktürk menghadapi Kaisar Wen, Kaisar Wen memanggil Han Qinhu untuk berdiri di sampingnya. Kaisar Wen kemudian berkata kepada utusan itu, "Pria ini telah menawan Kaisar dari negara Chen". Utusan itu takut sampai tidak bisa bertatap muka dengan Han Qinhu. Han kemudian diberi gelar Adipati Shougguang dan tanah sebesar 1,000 kepala rumah tangga. Ia ditempatkan di Jincheng sebagai panglima tertinggi pasukan yang bersiap menghadapi invasi suku-suku asing, dan segera menjadi panglima tertinggi Liangzhou. Ia segera dipanggil kembali ke ibu kota, Chang'an. Ia meninggal karena sakit pada tahun 592, pada usia 55 tahun. Ia digantikan oleh putranya, Han Shi'e. Han Shi'e kemudian berpartisipasi dalam pemberontakan Yang Xuangan dan menjadi seorang jenderal. Setelah Yang Xuangan dikalahkan, Han Shi'e juga ditangkap, tetapi ia menawarkan minuman keras kepada para prajurit pengawal, dan berhasil melarikan diri saat mereka mabuk. Han Shichan melarikan diri ke para bandit dan tidak pernah terlihat lagi. Li Jing dari Dinasti Tang adalah putra dari salah satu saudara perempuan mereka.