Hammad bin Abi Sulaiman (meninggal 120 H) adalah seorang ulama dan fukaha dari kalangan tabiin di Kufah. Ia berguru ilmu fikih dari para sahabat Muhammad dan para tabiin lainnya dan setelah itu ia menjadi guru di Kufah. Salah satu muridnya ialah Abu Hanifah yang kemudian juga menjadi pengajar ilmu fikih di Kufah. Setelah kematiannya, pengajaran fikih Hammad bin Abi Sulaiman awalnya diteruskan oleh Abu Hanifah.
Keislaman
Hammad bin Abi Sulaiman merupakan seorang tabiin. Ia memiliki beberapa catatan hadis dari para sahabat Muhammad yang menjadi guru dari para tabiin. Catatan-catatan tersebut ditulis dari mendengar perkataan para sahabat Muhammad. Hammad bin Abi Sulaiman juga menuliskan hadis-hadis yang didengarkannya dari para sahabat Muhammad.[1] Kedudukan Hammad bin Abi Sulaiman dalam Dunia Islam sebagai salah satu ulama terkemuka dari kalangan tabiin.[2]
Guru dan murid
Hammad bin Abi Sulaiman berguru ilmu fikih kepada Ibrahim bin Yazid an-Nakha'i dan Amir bin Syarahil Asy-Sya'bi.[3] Ketika Ibrahim an-Nakha'i meninggal, pengajaran ilmu fikihnya diteruskan oleh Hammad bin Abi Sulaiman.[4] Dalam pengajaran fikih, Hammad bin Abi Sulaiman termasuk Ahlur Ra’yi di Kufah.[5] Salah satu murid utama Hammad bin Abi Sulaiman ialah Abu Hanifah.[6] Abu Hanifah mempelajari ilmu fikih dari Hammad bin Abi Sulaiman selama 18 tahun hingga menjelang kematiannya.[7][8][9] Kecerdasan Abu Hanifah dalam ilmu fikih membuat Hammad bin Abi Sulaiman mempercayai dirinya untuk menggantikan perannya sebagai guru ketika ia berhalangan untuk memberikan pengajaran.[10] Selain itu, Hammad bin Abi Sulaiman mengizinkan Abu Hanifah memberikan fatwa mewakili dirinya.[11]
Kematian dan pengaruh
Hammad bin Abi Sulaiman meninggal pada tahun 120 H.[10] Setelah kematiannya, pengajaran fikih Hammad bin Abi Sulaiman awalnya diteruskan kepada anaknya yang bernama Ismail atas permintaan masyarakat yang berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman. Namun Ismail akhirnya digantikan oleh Abu Hanifah atas kesepakatan para pelajar karena Ismail lebih menguasai ilmu dalam bidang tata bahasa dan perkataan Arab dibandingkan dengan ilmu fikih.[4]
Referensi
Catatan kaki
↑Muslehuddin, Nurmaidah, dan Zahraini (Oktober 2021). Abdul Quddus (ed.). Pengantar Ilmu Hadits(PDF). Mataram: Sanabil. hlm.39–40. ISBN978-623-317-216-5. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Thaib, M. H., dan Hasballah, Z. (Juli 2012). Kumpulan Kisah Teladan(PDF). Medan: Perdana Publishing. hlm.272–273. ISBN978-602-8935-77-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Al-Mishri, Mahmud (2011). Yasir, Muhammad (ed.). Semua Ada Saatnya[Sa'atan Sa'atan]. Diterjemahkan oleh Somad, Abdul. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm.203. ISBN978-979-592-779-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Arake, Lukman (2018). "BAB III: Nama-nama Ulama Usul Fiqh dan Karangannya". Sejarah dan Aksiologi Ilmu Usul Fiqh(PDF). Gowa: Gunadarma Ilmu. hlm.107. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)