Andi Syamsuddin Arsyad atau lebih dikenal dengan Haji Isam (lahir 1 Januari 1977)[1] adalah pengusaha asal Kalimantan Selatan yang keturunan bangsawan Bugis. Ia memulai kariernya sebagai sopir angkutan kayu dan tukang ojek, sebelum akhirnya merambah ke sektor perkebunan, pertambangan, dan transportasi. Ia dikenal luas sebagai pemilik Jhonlin Group yang menguasai bisnis batubara, biodiesel, dan jasa logistik terpadu di Kalimantan.[2]
Haji Isam lahir di Batulicin, Kalimantan Selatan dari pasangan Andi Arsyad dan Wardatul Wardiyah. Ayahnya adalah pedagang tembakau asal Bone, Sulawesi Selatan, yang merantau ke Kalimantan Selatan, sedangkan ibunya berasal dari etnis Banjar.[3] Ia merupakan anak ke-6 dari 14 bersaudara—lima dari istri pertama ayahnya dan delapan dari ibunya.[4]
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA pada 1996, Haji Isam tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya dan memilih bekerja sebagai sopir truk kayu selama tiga tahun. Melalui pergaulannya dengan pengusaha lokal, ia belajar bisnis tambang batu bara dan pada 2003 mendirikan Jhonlin Baratama, yang kemudian berkembang menjadi Jhonlin Group.[4]
Bisnis
Perusahaan yang ia kelola kemudian berkembang pesat dengan memproduksi hingga 400 ribu ton batu bara per bulan. Ia memperluas bisnisnya ke sektor logistik (Jhonlin Logistik), pelayaran (Jhonlin Marine and Shipping), dan penerbangan (Jhonlin Air Transport).[5] Ia juga dikenal memiliki proyek besar di sektor pertanian melalui Jhonlin Agro Raya, yang bergerak di bidang biodiesel dan perkebunan kelapa sawit.
Pada tahun 2017, ia juga membangun pabrik gula dan kebun tebu seluas 20.000 hektare di Bombana, Sulawesi Tenggara melalui perusahaan Jhonlin Batu Mandiri, sebagai bagian dari proyek nasional swasembada gula.[6]
Haji Isam memiliki hubungan bisnis dengan pengusaha Timothy Savitri, yang dikenal sebagai rekan usaha melalui kepemilikan bersama di sektor properti bersama putranya, Jhony Saputra.[7] Timothy Savitri juga tercatat sebagai pengurus Kamar Dagang dan Industri serta dikenal berkiprah di sektor perdagangan dan impor bawang putih.[8] Kakaknya, Erna Lisa Halaby, terpilih sebagai Wali Kota Banjarbaru pada Pemilihan Wali Kota Banjarbaru 2024.[9]
Kekayaan
Menurut pemberitaan CNBC Indonesia, kekayaan Haji Isam diperkirakan sekitar Rp101 triliun, namun namanya belum tercantum dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes.[10] Ia disebut menggunakan Seacons Trading Ltd, perusahaan yang terdaftar di Kepulauan Virgin Britania Raya, untuk membeli Boeing Business Jet MAX 7 pada 2018. [11]
Kontroversi
Dugaan kriminalisasi rival bisnis
Haji Isam disebut-sebut terlibat dalam kasus kriminalisasi terhadap sejumlah pengusaha batu bara pesaingnya di Kalimantan Selatan. Di antaranya adalah Haji Bachrullah (KUD Gajah Mada) dan Haji Amir Nasarudin (Baramega Citra Mulia Persada) yang ditangkap karena menambang di kawasan hutan lindung tanpa izin. Setelah mereka dipenjara, lahan-lahan tersebut kemudian dikelola oleh Jhonlin Baratama, yang dipimpin oleh Haji Isam sebagai kontraktor. Haji Isam membantah keterlibatannya dalam proses hukum para pesaingnya dan menyatakan hanya menjalankan kerja sama resmi dengan pemilik lahan tambang. [12]
Hubungan dengan aparat penegak hukum
Haji Isam kerap dikaitkan memiliki kedekatan dengan sejumlah petinggi kepolisian, termasuk Bambang Hendarso Danuri. Sebuah manifest penerbangan menunjukkan bahwa Haji Isam dan beberapa pejabat kepolisian bepergian umrah bersama pada Februari 2010. Meskipun ia mengakui mengenal beberapa pejabat, Haji Isam membantah telah memanfaatkan hubungan tersebut untuk kepentingan bisnis. [12][13]
Sengketa dengan PT SILO di Pulau Laut
Pada 2018, Haji Isam dituduh berada di balik pencabutan izin tambang milik Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) oleh Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, yang juga merupakan kerabatnya. Sengketa terjadi karena adanya tumpang tindih lahan antara kebun sawit milik Multi Sarana Agro Mandiri (anak usaha Jhonlin Group) dengan lahan konsesi tambang milik SILO. Haji Isam membantah keterlibatannya dan menyatakan bahwa perusahaannya bekerja sama dengan BUMN Inhutani dan tidak terlibat dalam konflik tersebut. [14]
Kontroversi proyek gula di Bombana
Investasi Jhonlin Group dalam proyek kebun tebu dan pabrik gula di Bombana juga menuai kritik karena diduga merampas lahan penggembalaan milik masyarakat dan peternak lokal. Proyek ini dipercepat izinnya melalui dukungan langsung Menteri Pertanian saat itu, Amran Sulaiman, yang disebut-sebut sebagai sepupu Haji Isam. Kritik muncul karena wilayah yang digunakan tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bombana dan melibatkan pemanfaatan kawasan hutan dengan skema yang dipertanyakan. [15]
Dugaan gratifikasi kepada pejabat
Nama Haji Isam juga disebut dalam sidang kasus korupsi yang melibatkan Zainudin Hasan, adik dari Zulkifli Hasan, yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPR. Dalam dakwaan jaksa, disebutkan bahwa PT Jhonlin dan PT Baramega Citra Mulia Persada memberikan gratifikasi kepada Zainudin sebagai imbalan atas izin pinjam pakai kawasan hutan dari Menteri Kehutanan saat itu, Zulkifli Hasan. KPK diminta untuk menyelidiki dugaan suap korporasi dalam kasus ini. [16]
Kontroversi Entitas Offshore dan Praktik Penetapan Harga Ekspor
Dalam aktivitas ekspor batu bara dan lignit, beberapa perusahaan perantara yang terdaftar di yurisdiksi dengan transparansi rendah berperan sebagai pembeli utama dari batubara yang diproduksi oleh entitas‑entitas yang terkait dengan Haji Isam. Data perdagangan menunjukkan bahwa PT Jhonlin Group, bersama dengan PT Baramega Citra Mulia Persada dan Koperasi Unit Desa (KUD) Gajah Mada, hampir seluruhnya menjual batubara mereka kepada tiga perusahaan offshore, yakni:[17]
Ketiga entitas ini tercatat sebagai pembeli utama dalam aliran ekspor ke negara seperti China, India, dan Filipina, namun terdaftar di yurisdiksi yang minim keterbukaan informasi, sehingga struktur ini berpotensi digunakan untuk memindahkan nilai profit keluar negeri melalui penetapan harga yang tidak mencerminkan transaksi independen yang wajar.[17]
Praktik seperti itu — di mana produsen di Indonesia menjual komoditas ke perantara offshore pada harga relatif rendah, kemudian perantara menjual kembali dengan marjin tinggi — dapat menghasilkan keuntungan yang dicatat di luar negeri (transfer pricing), sehingga berpotensi mengurangi beban pajak dan penerimaan negara melalui under‑invoicing (penetapan harga ekspor lebih rendah dari harga pasar).[17]
Kehidupan pribadi
Ia menikah dengan Nursam, dan memiliki tiga anak. Anak pertamanya, Liana Saputri, menikah sama Putra Rizky Bustaman, dikenal juga sebagai Haji Putra 969, seorang pengusaha yang juga merupakan kolektor mobil mewah.[18] Haji Isam membangun sebuah gerai KFC di Batulicin khusus untuknya.[19]
Putranya yang lain adalah Jhony Saputra, yang mulai terlibat dalam manajemen perusahaan Jhonlin di usia muda, termasuk sebagai komisaris di beberapa entitas keluarga.[20]