Gusti Asnan lahir pasca-penumpasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Tengah oleh pemerintah pusat. Pada masa-masa itu, banyak orang Minang yang mengadopsi nama-nama Jawa—dengan makna tersendiri—untuk menghindari diskriminasi orang-orang Jawa terhadap mereka. Menurut orang tuanya, nama ‘Gusti’ merupakan singkatan dari nama bulan kelahirannya, yaitu Agustus dan nama bidan yang membantu persalinan ibunya ketika melahirkannya, yakni Eti, sementara ‘Asnan’ adalah singkatan dari nama ibu dan ayahnya: Asyiah dan Syahminan.[1]
Gusti Asnan menghabiskan masa kecil bersama keluarganya di Lubuk Sikaping, Pasaman sampai tamat SMA sebelum akhirnya pindah ke Padang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Setelah tamat sarjana dari Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Unand pada tahun 1986, ia melanjutkan studi ke Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Bremen di Jerman. Pada tahun 1998, ia menyelesaikan program doktoralnya dengan disertasi "Trading and Shipping Activities: The West Coast of Sumatra, 1819–1906".[4][5]
Sejarawan Publik
Gusti Asnan merupakan sejarawan yang mula-mula memperkenalkan mata kuliah sejarah publik di Sumatra. Hal ini dibuktikan dengan ia menjadi pemateri dalam seminar kesejarahan dengan tema "Menanamkan Nilai-Nilai Ekspresi Sejarah dan Perkembangannya" yang diselenggarakan oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Sumatra Barat.[6] Sejarah publik lahir akan menurunnya minat siswa dan masyarakat terhadap sejarah yang dirasa berat dan cenderung monoton.[7] Sebagai salah seorang sejarawan publik, Gusti Asnan cukup aktif menulis sejarah di website pribadinya tanpa meninggalkan unsur-unsur akademis kesejarahan tetapi disajikan dengan bahasa yang ringan dan menarik pembaca di kalangan umum.[8]
Gusti Asnan beberapa kali diundang menjadi narasumber di radio[9] atau mengisi podcast-podcast bertema kesejarahan[10][11] serta beberapa kali pula diundang di televisi lokal maupun nasional.[12]
Karya
Buku Sejarah Kota Padang (1987) yang disusun oleh Mardanas Safwan, Ishaq Taher, Gusti Asnan, dan Syafrizal.