Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(Juni 2025)
Guritan Besemah merupakan salah satu bentuk seni tutur tradisional dari masyarakat Besemah, yang mendiami wilayah Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Kesenian ini termasuk ke dalam bentuk sastra lisan daerah dan hingga kini masih dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya tak benda Indonesia yang telah diakui oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).[1]
Asal-usul dan Makna
Istilah guritan berasal dari kata dasar gurit, yang dalam bahasa daerah Besemah berarti cerita atau kisah. Seni tutur ini muncul dari kebiasaan masyarakat setempat pada masa lalu yang gemar bercerita secara lisan disertai iringan nada dan lagu sederhana. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi bentuk pertunjukan seni yang disebut Guritan Besemah.
Salah satu ciri khas dari Guritan Besemah adalah fungsinya yang serbaguna, karena dapat dipentaskan dalam berbagai suasana, baik saat duka maupun suka, khususnya yang memiliki dimensi religius atau sosial. Misalnya, guritan sering dituturkan dalam malam takziah, dimulai sejak malam pertama hingga malam ketiga setelah pemakaman. Selain itu, guritan juga dipentaskan pada saat musim panen, kenduri, atau acara syukuran lainnya.
Ciri Pertunjukan
Guritan Besemah ditampilkan oleh seorang penutur laki-laki berusia lanjut (biasanya berusia di atas 50 tahun), yang dianggap telah matang secara emosional dan memahami alur serta makna cerita secara mendalam. Pertunjukan dilakukan secara tunggal, dengan iringan alat musik tradisional sederhana yang disebut sambang. Saat tampil, penutur cenderung tidak menatap langsung ke arah penonton, melainkan memfokuskan ekspresi dan intonasi pada isi cerita yang disampaikan. Hal ini menjadikan penonton secara alami terpusat perhatiannya pada sosok penutur dan narasi yang dibawakannya.
Guritan Besemah umumnya dipentaskan pada malam hari, sejalan dengan adat dan tradisi masyarakat setempat yang mengaitkan malam sebagai waktu yang tepat untuk merenung dan mendalami pesan dalam kisah.
Tokoh dan Judul Cerita
Setiap cerita dalam Guritan Besemah memiliki tokoh utama yang disebut dengan istilah Lawangan. Terdapat lebih dari dua puluh enam judul guritan yang telah tercatat, dengan tokoh Lawangan yang bervariasi. Beberapa nama tokoh yang sering muncul dalam pertunjukan Guritan Besemah antara lain:
Araw Bintang
Lawangan Kute Pengadangan
Bengkung Peniwin
Lawangan Kisam Tinggi
Radin Suwane
Lawangan Kute Tanung Larang
Masing-masing guritan mengangkat tema-tema yang beragam, seperti nilai kepahlawanan, kejujuran, pengkhianatan, cinta, hingga nilai-nilai kehidupan dan ketuhanan.
Status Pelestarian
Guritan Besemah termasuk ke dalam bentuk sastra tradisional yang masih hidup dalam masyarakat. Meski menghadapi tantangan modernisasi, kesenian ini tetap dijaga oleh komunitas lokal, baik secara formal melalui dukungan pemerintah maupun secara kultural melalui transmisi antargenerasi. Kehadiran Guritan Besemah juga telah diarsipkan dalam berbagai situs kebudayaan nasional, termasuk Perpustakaan DigitalBudaya Indonesia.