Gunung Pengsong terbentuk dari batuan hitam dan ditumbuhi pepohonan yang lebat. Gunung Pengsong dibuka sebagai objek wisata pada 1996. Disini terdapat Pura Gunung Pengsong yang merupakan pura pertama dan tertua di Lombok dan merupakan warisan dari Kerajaan Karangasem. Jalur pendakian berupa tangga yang berjumlah kurang lebih 275 anak tangga. Disana juga terdapat mata air bernama Mata Air Tirta Mumbul Sari yang disucikan oleh Umat Hindu.[1]
Jika sedang cerah, Gunung Agung dan Gunung Rinjani dapat terlihat dari bukit ini.
Disini terdapat beberapa Pura, yaitu Petirtaan, Pura utamanya yang terletak dipuncak, Gedong, Majapahit, dan Gunung Sari.
Sejarah
Di Puncak Gunung Pengsong, terdapat Pura Gunung Pengsong dibangun pada 1514 oleh Ida Betara Wayan Sebali, seorang pandita Hindu dari Geria Pendem, Karangasem, Bali.[2] Di tengah Pura Gunung Pengsong terdapat sebuah batu ceper berukuran besar. Batu tersebut menandakan posisi tertinggi Gunung Pengsong. Untuk naik ke Puncak Gunung Pengsong, Pengunjung harus mendaki 275 anak tangga dan jalan kecil sempit dan menanjak di antara bebatuan sejauh 25 meter barulah tiba di puncak gunung tempat Pura Gunung Pengsong berdiri. Di area Gunung Pengsong terdapat banyak Monyet Abu ekor panjang yang menjadi penghuni Gunung Pengsong sejak dahulu. Monyet-monyet ini dikeramatkan dengan sebutan Jro Sedahan. Banyak Umat Hindu datang kesini setiap hari raya Galungan dan Kuningan.
Nama Gunung Pengsong berasal dari kata "Kepeng Song" Atau Uang bolong yang dijadikan alat tukar saat zaman penjajahan. Saat penjajah Jepang pergi, Uang bolongnya konon banyak ditanam dikawasan ini.[3]
Gunung Pengsong juga dikenal dengan nama Gunung Pangsung. Nama Pangsung berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya " tempat untuk meminta berkat ".[4]
Gunung Pengsong dijadikan cagar budaya pada tahun 1996 oleh Pemerintah Lombok Barat.