Gumantan adalah ritual pengobatan secara tradisional yang dilakukan oleh dukun kepada sejumlah pasien yang merupakan kearifan lokal masyarakat MelayuIndragiri. Gumantan sebenarnya adalah nama sejenis kayu yang menjadi bahan penting dalam pengobatan tradisional ini.
Serupa dengan Gumantan, bagi kalangan Suku Talang Mamak, disebut dengan Bulian. Bulian juga nama kayu yang terdapat di hutan-hutan kawasan perkampungan Talang Mamak.
Terdapat beberapa tujuan pelaksanaan Gumantan / Bulian ini, Antara lain untuk menolak hal-hal buruk yang dianggap mengganggu bagi pasien. Juga dalam upaya menjaga keseimbangan hidup dengan alam. Tradisi ini dimaksudkan juga untuk tetap menjaga hubungan baik dengan makhluk gaib, yakni saling tidak mengganggu, justru diharapkan alam gaib itu membantu pasien dalam melaksanakan tahapan kegiatan kehidupan sehari-harinya. Upacara ini juga wujud bersyukur kepada Tuhan.[1]
Manfaat dari Gumantan/Bulian diantaranya mengobati orang sakit, membantu ibu melahirkan, mengobati kumantan (dukun Gumantan) dan menolak wabah penyakit.
Persiapan Gumantan / Bulian
Ritual pelaksanaan Gumantan atau Bulian dimulai dengan pemangku adat, keluarga persukuan dari orang yang akan diobati (pasien), monti rajo (dukun utama) dan orang sekampung melakukan musyawarah untuk kesepakatan melaksanakan Gumantan/Bulian serta menentukan jadwalnya.[2]
Setelah musyawarah putus, tuo longkap (tokoh suku), pebayu, serta monti rajo dan perwakilan aparat desa bersama dengan Gumantan/Bulian menentukan jenis upacara dan mengumumkan agar seluruh masyarakat mengumpulkan biaya, dan kebutuhan lainnya untuk upacara tersebut.
Sementara itu, kaum perempuan dan remaja membersihkan rumah bakal tempat upacara serta memasak makanan untuk menjamu seluruh peserta upacara adat tradisi ini.
Dukun dan rombongan segera ke hutan meramu kayu Gumantan/Bulian, mencari rotan, pucuk kepau, atau pelepah pohon kelubi,
Pebayu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, yaitu puan (rangkaian daun kelapa muda yang dihiasi bunga-bunga), dame (damar), dian (lilin besar dari sarang lebah), gonto (sejenis lonceng), pending (sabuk khas Melayu), kain kesumbo, tanjak, mangkuk putih, padi, dan mayang.
Ritual Pelaksanaan
Pada waktu yang sudah ditentukan, ritual pelaksanaan Gumantan/Bulian dimulai dengan Bujang Bulian menabuh Gondang Ketobung.
Gumantan (dukun) duduk bersila di atas tikar pandan. Dia dikerudungi dengan kain kesumbo, tanjakpun sudah terpasang. Selanjutnya dukun membunyikan gonto, dan membaca mantra. Dalam kondisi kerasukan, Gumantan/Bulian menari di atas tikar putih yang digelar pebayu, dia terus-menerus melantunkan mantra, dan melakukan perjalanan spiritual.
Gumantan/Bulian akan meminta obat secara spiritual kepada akuan (makhluk gaib) dan segera mengobati orang sakit dengan mantra atau ramuan.
Pengobatan diakhiri dengan memberikan persembahan kepada akuan dan makan bersama.
Gumantan dan Bulian biasanya dilakukan malam hari dan bisa berakhir menjelang subuh, tergantung kepada jumlah pasien serta kondisi kejiwaan Gumantan/Bulian. Jika dia senang hati, sembari makan hidangan akan bebual, ini bisa memakan waktu yang lama.