Guido van Rossum adalah pemrogram berkewarganegaraan Belanda yang lebih dikenal sebagai pencipta dan "Benevolent dictator for life" (BDFL) dari bahasa pemrograman Python, yang artinya dia hanya akan memberikan keputusan akhir jika dibutuhkan, hingga 12 Juli 2018.[6][7] Dia tetap menjadi salah satu anggota Dewan Pengarah Python hingga 2019, lalu menarik diri dari pencalonan selanjutnya pada 2020.[8]
Riwayat awal dan pendidikan
Van Rossum dilahirkan dan dibesarkan di Belanda, di mana dia meraih gelar master di bidang matematika dan ilmu komputer dari Universitas Amsterdam pada 1982. Dia memperoleh medali perunggu pada 1974 di Olimpiade Matematika Internasional.[9] Dia memiliki seorang adik bernama Just van Rossum, yang dikenal sebagai desainer huruf dan pemrogram yang mendesain rupa huruf yang digunakan di tulisan logo "Python Powered".[10]
Van Rossum sekarang tinggal di Belmont, California bersama istrinya, Kim Snapp,[11] dan anak mereka.[12][13]
Karier
Sembari berkerja di Centrum Wiskunde & Informatica (CWI), Van Rossum menulis dan berkontribusi ke rutin glob() di BSD Unix pada tahun 1986[14][15] dan membantu menciptakan bahasa pemrograman ABC. Dia juga menciptakan Grail, sebuah penjelajah web tingkat awal yang ditulis dalam Python.[16]
Pada Desember 1989, Van Rossum sedang mencari sebuah proyek pemrograman yang akan membuat dirinya sibuk selama liburan natal selama kantornya tutup. Dia lalu memutuskan untuk membuat sebuah interpreter untuk "sebuah bahasa skrip baru yang akan menjadi penerus bahasa pemrograman yang dia bantu rancang sebelumnya, yaitu ABC, dan berusaha menciptakan sesuatu yang akan memikat para pegiat Unix/C". Dia memilih nama Python untuk bahasa pemrograman ini bukan untuk merujuk jenis ular, melainkan serial komedi Monty Python's Flying Circus.[17]
Dia menjelaskan bahwa pendahulu Python, yaitu ABC terinspirasi oleh SETL, dan dia memberikan catatan bahwa salah satu pencipta ABC lainnya Lambert Meertens pernah "menghabiskan satu tahun dengan grup SETL di NYU sebelum menciptakan desain final ABC."[18]
Pada 1999, Van Rossum mengajukan sebuah proposal hibah "Computer Programming for Everyone" atau "Pemrograman Komputer untuk Semua" kepada DARPA yang memuat beberapa visinya tentang bahasa pemrograman Python, antara lain: bahasa pemrograman yang mudah dan intuitif yang tidak kalah dengan bahasa pemrograman lainnya, bersumber terbuka sehingga setiap orang dapat berpartipasi dalam pengembangannya, baris kode yang sederhana dan mudah dipahami seperti penggunaan bahasa Inggris, dan kecocokannya dengan tugas sehari-hari yang memungkinkan waktu pengembangan yang singkat.[19]
Pada 12 Juli 2018, Van Rossum mengumumkan bahwa ia akan mundur dari posisinya sebagai BNFL bahasa pemrograman Python.[20]
Pada 2018, Van Rossum dijadikan sebagai Fellow di Museum Sejarah Komputer[23] dan gelar kehormatan Dijkstra Fellow oleh CWI pada tahun berikutnya.[24] Pada 10 Oktober 2023, ia kembali meraih penghargaan C&C Prize oleh NEC atas jasanya dalam pengembangan bahasa pemrograman Python dan penggunaannya sebagai perangkat lunak sumber terbuka.[25]