Grebeg Lentheng merupakan tradisi budaya tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Gunung Bakal, Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tradisi ini adalah wujud ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen, sekaligus menjadi media pelestarian budaya dan penghormatan terhadap leluhur yang diyakini berjasa dalam membuka dan menjaga wilayah tersebut.[1]
Sebagai tokoh agama, K.R. Sayyid Abdullah kemudian melakukan pendekatan dakwah kultural dengan mengubah praktik slametan menjadi sedekah berupa gunungan hasil bumi dan gunungan kerupuk yang disebut Lentheng.[1] Perubahan ini bertujuan untuk mengarahkan praktik budaya lokal agar lebih selaras dengan ajaran Islam, khususnya dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak saat itu, tradisi Grebeg Lentheng mulai berkembang sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi, sekaligus sebagai bentuk pelestarian budaya dan media dakwah yang damai.[butuh rujukan]
Pelaksanaan
Pelaksanaan Grebeg Lentheng diawali dengan pembuatan lentheng, yakni kerupuk tradisional yang terbuat dari beras ketan.[3] Proses pembuatan lentheng dilakukan secara tradisional oleh warga Dusun Gunung Bakal. Beras ketan yang telah dikukus kemudian ditumbuk menggunakan lesung batu (lumpang) dan alu hingga menjadi adonan yang halus tetapi masih bertekstur. Adonan tersebut lalu dipipihkan dengan botol kaca, dijemur hingga kering, dan digoreng menjadi kerupuk. Setiap rumah warga membuat lentheng, kemudian dikumpulkan di masjid setempat. Kerupuk-kerupuk tersebut ditusuk menggunakan lidi dari pohon aren dan disusun membentuk gunungan lentheng, yang memiliki makna simbolis sebagai perekat tali silaturahmi.[1] Lidi dari pohon aren dipercaya memiliki khasiat sebagai penolak bala dan membawa kecerdasan bagi anak-anak.[butuh rujukan]
Rangkaian acara dimulai dengan pengajian dan tausiyah oleh ustaz yang diundang khusus.[4] Setelah itu dilanjutkan dengan doa bersama sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas nikmat dan rezeki dari Allah SWT. Para peserta kemudian mengelilingi gunungan lentheng sambil melantunkan shalawat. Puncak acara ditandai dengan momen ketika warga berdesak-desakan untuk mengambil lentheng dari gunungan. Lentheng tersebut diyakini membawa keberkahan dan kemudahan dalam kehidupan. Seusai acara, warga juga menjamu tamu di rumah masing-masing dan saling mengunjungi sanak saudara, menambah nuansa kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian
Sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang sarat nilai spiritual dan sosial, Grebeg Lentheng telah mendapat perhatian dari berbagai pihak untuk dijaga keberlangsungannya. Masyarakat Dusun Gunung Bakal secara aktif melestarikan tradisi ini melalui pelibatan lintas generasi dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembuatan lentheng secara tradisional, penyusunan gunungan, hingga pelaksanaan ritual keagamaan seperti pengajian dan pembacaan shalawat.[butuh rujukan]
Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan juga turut mendorong pelestarian Grebeg Lentheng dengan upaya dokumentasi, pembinaan kelompok masyarakat adat, serta pencatatan tradisi ini sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.[5] Pengusulan Grebeg Lentheng ke dalam daftar WBTb dilakukan untuk menjamin pengakuan formal terhadap nilai budaya yang dikandungnya serta membuka peluang perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya tersebut secara berkelanjutan.[6]
Dengan masuknya dalam kategori WBTb, tradisi Grebeg Lentheng diharapkan mendapat dukungan yang lebih luas, baik dari sisi regulasi, pendidikan budaya, maupun promosi di tingkat lokal dan nasional. Hal ini menjadi langkah strategis agar tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat dikenal dan dihargai oleh generasi mendatang serta masyarakat luar daerah.[butuh rujukan]