Govardhan Puja (IAST: Govardhana-pūjā), juga dikenal sebagai Annakut yang berarti “gunungan makanan”,[1][2][3][4] adalah sebuah festival Hindu yang dirayakan pada hari pertama fase terang bulan Kartika, yaitu hari keempat rangkaian Diwali.[5][6] Pada hari ini, para penyembah memuja representasi Bukit Govardhan yang dibuat dari kotoran sapi,[4] serta menyiapkan dan mempersembahkan berbagai macam hidangan vegetarian kepada Dewa Krishna sebagai ungkapan rasa syukur.[7]
Bagi para penganut Vaishnava, hari ini memperingati peristiwa dalam Bhagavata Purana ketika Krishna mengangkat Bukit Govardhan untuk melindungi para penduduk Vrindavan dari hujan badai yang dahsyat. Peristiwa tersebut melambangkan perlindungan ilahi kepada mereka yang sepenuhnya berlindung kepada-Nya.[8] Dalam ritualnya, para penyembah mempersembahkan “gunungan makanan” yang secara simbolis merepresentasikan Bukit Govardhan, sebagai bentuk peringatan sakral dan pembaruan iman dalam berlindung kepada Tuhan.[5]
Festival ini diperingati oleh berbagai denominasi Hindu di seluruh India maupun komunitas Hindu di luar negeri. Govardhan Puja memiliki kedudukan penting dalam berbagai aliran Vaishnava, seperti Pushtimarg Sampradaya, Gaudiya Sampradaya, dan Swaminarayan Sampradaya.
Krishna memegang Govardhan, sebuah legenda bersejarah, digambarkan di banyak kompleks candi Hindu besar. Panel ini berasal dari kuil Hoysaleswara, Halebidu Karnataka (sekitar tahun 1150 M). Blok batu tersebut dipahat untuk menggambarkan legenda Krishna, dan Indra di baliknya.
Awal mula
Krishna menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Braj, sebuah wilayah yang oleh para penyembah dikaitkan dengan berbagai kisah ilahi dan kepahlawanan Krishna bersama sahabat-sahabat masa kecilnya.[4] Salah satu peristiwa terpenting yang dijelaskan dalam Bhagavata Purana[4] adalah peristiwa ketika Krishna mengangkat Bukit Govardhan, sebuah bukit rendah yang terletak di tengah kawasan Braj.[4] Menurut Bhagavata Purana, para gembala penghuni hutan di sekitar Govardhan biasa merayakan musim gugur dengan memberikan penghormatan kepada Indra, dewa hujan dan badai. Krishna, yang ingin meruntuhkan kesombongan Indra, meminta para penduduk desa untuk tidak melakukan pemujaan kepada Indra pada tahun itu.[9] Hal ini membuat Indra murka.[10]
Walaupun Krishna masih sangat muda dan lebih kecil usianya daripada hampir semua orang di desa, ia dihormati karena kebijaksanaan dan kekuatan besar yang dimilikinya. Karena itu, penduduk Gokul mengikuti sarannya. Indra, yang melihat penghormatan mereka beralih dari dirinya kepada Krishna, menjadi semakin marah dan memutuskan untuk menurunkan badai hebat beserta hujan deras sebagai bentuk kemurkaannya. Untuk melindungi penduduk dari bencana tersebut, Krishna mengangkat Bukit Govardhan dengan jari kelingkingnya dan menjadikan bukit itu tempat berlindung bagi seluruh warga dan ternak. Setelah tujuh hari badai tanpa henti, Indra akhirnya mengakui kekalahannya ketika melihat penduduk Gokul tetap selamat, lalu menghentikan hujan. Karena itu, hari tersebut kemudian diperingati sebagai festival penghormatan kepada Bukit Govardhan melalui giriyajña, yaitu persembahan besar berupa aneka makanan dan hidangan. Krishna kemudian menampakkan diri dalam wujud bukit dan menerima persembahan warga.[4][11]
Ritus dan Perayaan
Sejak peristiwa itu, Govardhan menjadi salah satu pusat ziarah utama di wilayah Braj bagi para penyembah Krishna. Pada hari Annakut, para penyembah melakukan parikrama atau mengelilingi bukit sambil membawa persembahan makanan sebuah ritus kuno Braj yang dipopulerkan oleh Chaitanya Mahaprabhu. Parikrama ini menempuh jarak sekitar sebelas mil dan dilalui melalui berbagai kuil kecil tempat para peziarah meletakkan bunga dan persembahan lainnya. Beberapa penyembah melakukan parikrama dengan cara dandavat, yaitu bersujud penuh tubuh secara berulang, yang dapat memakan waktu hingga 10–12 hari.[4][12]
Keluarga-keluarga membuat miniatur Bukit Govardhan dari kotoran sapi, dihias dengan figur sapi kecil serta rumput dan ranting yang melambangkan pepohonan. Menjelang Annakut, biasanya disiapkan 56 jenis hidangan (chappan bhog) untuk dipersembahkan pada waktu malam. Seorang anggota kasta penggembala memimpin ritus tersebut dengan mengelilingi bukit buatan itu bersama seekor sapi dan seekor banteng, kemudian diikuti oleh keluarga-keluarga desa. Setelah persembahan selesai, mereka menyantap makanan suci tersebut. Festival ini sering menarik kerumunan besar, termasuk para brahmana Chaube dari Mathura.[4]
Annakut dirayakan pada hari keempat Diwali, sehingga ritus-ritusnya berkaitan erat dengan rangkaian lima hari perayaan Diwali. Jika tiga hari pertama Diwali berfokus pada doa untuk menyucikan dan mendatangkan kemakmuran, maka hari Annakut menjadi momen untuk mengungkapkan rasa syukur atas anugerah Krishna.[13]