Artikel ini membutuhkan penyuntingan lebih lanjut mengenai tata bahasa, gaya penulisan, hubungan antarparagraf, nada penulisan, atau ejaan. Anda dapat membantu untuk menyuntingnya.
Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Juli 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris.
Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
Artikel ini memerlukan pemutakhiran informasi. Alasannya: DeepMind merger. Harap perbarui artikel dengan menambahkan informasi terbaru yang tersedia.(December 2024)
Sejak didirikan, Google AI telah memperluas jangkauannya dengan membuka fasilitas penelitian di berbagai kota dunia, seperti Zurich, Paris, Israel, dan Beijing.[3]
Reorganisasi dan Pembentukan Google DeepMind
Pada April 2023, Google mengumumkan sebuah reorganisasi besar yang menggabungkan tim Google AI (khususnya unit Google Brain) dengan DeepMind, sebuah laboratorium AI yang diakuisisi Google pada tahun 2014. Penggabungan ini membentuk satu unit tunggal yang kuat bernama Google DeepMind.[4]
Langkah ini diambil untuk mengakselerasi pengembangan AI di Google dan menyatukan talenta-talenta riset di bawah satu kepemimpinan. Sebagai bagian dari perubahan ini, pimpinan lama Google AI, Jeff Dean, diangkat ke posisi Chief Scientist untuk Google Research dan Google DeepMind.[5]
Isu dan Kontroversi
Dewan Penasihat Etika (ATEAC)
Pada Maret 2019, Google membentuk Dewan Penasihat Eksternal Teknologi Lanjutan (Advanced Technology External Advisory Council atau ATEAC) untuk memberikan panduan terkait isu-isu etika dalam pengembangan AI. Namun, dewan ini dibubarkan hanya selang seminggu setelah dibentuk menyusul protes dari ribuan karyawan Google terhadap salah satu anggotanya, Kay Coles James.[6]
Perubahan Kebijakan Etika AI
Pada Februari 2024, Alphabet, perusahaan induk Google, memperbarui halaman "Prinsip-Prinsip AI" mereka. Salah satu perubahan yang disorot adalah penghapusan kalimat yang secara eksplisit melarang penggunaan AI untuk pengembangan senjata. Perubahan ini memicu kekhawatiran dari sejumlah pihak, meskipun Google menyatakan bahwa prinsip utama dan praktik mereka tidak berubah.[7][8]
Reorganisasi dan Pembentukan Google DeepMind
Pada April 2023, Google mengumumkan sebuah reorganisasi besar yang menggabungkan tim Google AI (khususnya unit Google Brain) dengan DeepMind, sebuah laboratorium AI yang diakuisisi Google pada tahun 2014. Penggabungan ini membentuk satu unit tunggal yang kuat bernama Google DeepMind.[9]
Langkah ini diambil untuk mengakselerasi pengembangan AI di Google dan menyatukan talenta-talenta riset di bawah satu kepemimpinan. Sebagai bagian dari perubahan ini, pimpinan lama Google AI, Jeff Dean, diangkat ke posisi Chief Scientist untuk Google Research dan Google DeepMind.[10]
Isu dan Kontroversi
Dewan Penasihat Etika (ATEAC)
Pada Maret 2019, Google membentuk Dewan Penasihat Eksternal Teknologi Lanjutan (Advanced Technology External Advisory Council atau ATEAC) untuk memberikan panduan terkait isu-isu etika dalam pengembangan AI. Namun, dewan ini dibubarkan hanya selang seminggu setelah dibentuk menyusul protes dari ribuan karyawan Google terhadap salah satu anggotanya, Kay Coles James.[11]
Perubahan Kebijakan Etika AI
Pada Februari 2024, Alphabet, perusahaan induk Google, memperbarui halaman "Prinsip-Prinsip AI" mereka. Salah satu perubahan yang disorot adalah penghapusan kalimat yang secara eksplisit melarang penggunaan AI untuk pengembangan senjata. Perubahan ini memicu kekhawatiran dari sejumlah pihak, meskipun Google menyatakan bahwa prinsip utama dan praktik mereka tidak berubah.[12][13]