Golok tarisi (Sunda: ᮌᮧᮜᮧᮊ᮪ ᮒᮛᮤᮞᮤ, romanized:golok tarisicode: su is deprecated ) adalah senjata tradisional masyarakat Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Golok ini diproduksi di Kampung Cublek dan Kampung Tarisi, Desa Bagoang, yang merupakan sentra pembuatan golok yang diyakini merupakan warisan turun temurun milik leluhur Tionghoa Benteng bernama Tan Cheng Lim.
Sejarah
Menurut masyarakat Jasinga, konon golok buatan Tan Cheng Lim muncul pada masa penjajahan Belanda tahun 1883, sejak kedatangan Lim dan keluarga besarnya dari Batavia. Kemudian pada tahun 1942, setelah kedatangan Jepang ke Pulau Jawa, banyak pabrik karet swasta dihancurkan dan diambil alih oleh Jepang, penduduk mengambil alih semua bekas pabrik Belanda, yang mayoritas pekerjanya adalah etnis Tionghoa dari Tangerang.[1]
Para pekerja tersebut tinggal di sebuah desa bernama Tarisi dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa kepala keluarga. Konon, kepala desa Tarisi, Sanusi, diminta oleh penjajah Jepang untuk membuat bayonet guna memenuhi kebutuhan militer Jepang. Sanusi menunjuk Tan Cheng Lim, seorang pekerja etnis Tionghoa, untuk membuat senjata tersebut.
Pada Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerah, dan produksi pisau digantikan oleh produksi golok. Golok buatan Tan Cheng Lim memiliki bentuk dan desain yang khas. Perpaduan motif Sunda dan Tionghoa merupakan ciri khas golok ini. Begitu pula dengan sangkar dan gagangnya yang secara khusus menggunakan kayu jenis ki areng.[2]
Namun, tidak ada label atau merek yang tertera pada golok tersebut, hanya kode dengan tulisan "𝐈𝐈𝐗𝐈𝐈" di bagian belakang golok. Lim berpikir, jika sesuatu yang fatal terjadi dan golok ini ditemukan sebagai bukti, maka akan sulit untuk melacak dari mana golok ini berasal. Setelah kematian Tan Cheng Lim, produksi golok dilanjutkan oleh putranya, Tan Soe Hay.[3]
Deskripsi
Golok tarisi memiliki ciri khas berupa titik-titik putih berbentuk kembang pada gagang dan sarungnya. Selain itu, golok ini juga memiliki ketebalan dan kerapian yang sangat baik.[4]