Artikel ini memerlukan pemutakhiran informasi. Harap perbarui artikel dengan menambahkan informasi terbaru yang tersedia.(Oktober 2025)
Global Sumud Flotilla
Negara yang ikut serta menurut daftar resmi GSF[1]
Negara yang tak berada pada daftar partisipan resmi tetapi warga negara atau tokoh masyarakat dari negara mereka ikut serta dalam inisiatif tersebut[a]
Negara yang dianggap ikut serta tetapi tak melakukannya[13]
Global Sumud Flotilla (GSF; bahasa Arab:أسطول الصمود العالميcode: ar is deprecated , translit.Usṭūl aṣ-Ṣumūd al-ʿĀlamī), terkadang disebut sebagai Global Freedom Flotilla[14][15] (bahasa Arab:أسطول الحرية العالميcode: ar is deprecated , translit.Usṭūl al-Ḥurriyya al-ʿĀlamī), adalah sebuah inisiatif maritim pimpinan masyarakat sipil internasional yang diluncurkan pada pertengahan 2025, yang ditujukan untuk mendobrak blokade Israel di Jalur Gaza. Kegiatan tersebut mengambil nama dari ṣumūd, Arab untuk 'keteguhan' atau 'ketahanan'.[16] Inisiatif tersebut dibentuk pada Juli 2025, di tengah genosida Gaza, yang diorganisir oleh Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan lainnya. Flotilla tersebut terdiri dari lebih dari 50 kapal dengan ribuan partisipan dari lebih dari 44 negara. Beberapa upaya untuk mendobrak blokade Israel telah berhasil sebelum 2010, tetapi sejak itu kapal-kapal disergap atau diserang oleh pasukan Israel, yang paling terkini pada Juni dan Juli, dengan kapal lainnya diserang oleh drones pada Mei 2025.
Pembentukan
Gagasan daripada Gerakan GSF muncul setelah Flotilla yang diketuai oleh aktivis asal Brazil, Thiago Ávila ditangkap oleh pihak Israel. Selama empat hari ditawan oleh pasukan IDF, Thiago dan sebelas orang lainnya dari Sao Paulo, Brazil melakukan aksi mogok makan.[17] Setelah dapat bebas, beliau dengan beberapa aktivis lainnya berinisiatif untuk membentuk rombongan kapal yanh lebih besar. Pada bulan Juli 2025, terhimpun beberapa gerakan aktivis dan kemanusiaan seperti Freedom Flotilla Coalition, Gerakan Global ke Gaza, Flotila Sumud Maghreb dan Sumud Nusantara untuk membentuk suatu upaya maritim besar yang dapat saling diselaraskan.[18][19][20]
Bentuk dukungan para mahasiswa Sao Paulo kepada puluhan aktivis Brazil yang akan berangkat
Organisasi Gerakan Sumud Flotilla secara resmi mulai beroperasi pada bulan Juli 2025. GSF mengecam tindakan keji Israel dan perbuatan Genosidal yang dilakukan di Semenanjung Gaza dengan menghalau bahan pangan dan obat-obatan. Pada awal September, rombongan kapal yang bernama Emergency ikut bergabung ke dalam flotilla dengan membawa perlengkapan medis.
Komite pelayaran GSF antara lain Thiago Ávila, Kleoniki Alexopoulou, Melanie Schweizer, Karen Moynihan, Maria Elena Delia, Saif Abukeshek, Nadir Al-Nuri, Marouan Ben Guettaia. Jurubicara gerakan ini adalah Saif Abukeshek and Jeweher Chenna.
Peserta
Dengan lebih dari 15.000 orang di 44 negara yang menyatakan dukungannya dan 500 aktivis yang ikut langsung berlayar, flotilla GSF adalah konvoi maritim atau mungkin dapat dikatakan sebuah armada masyarakat sipil terbesar dalam sejarah. Konvoi itu dipecah menjadi beberapa rombongan yang lebih kecil dan tersebar di titik-titik pelabuhan wilayah Mediterannia. Tujuan akhir dari setiap peserta konvoi besar itu adalah menembus blokade Gaza dan mengirimkan bantuan logistik. Anggota GSF yang terkenal di antaranya: Greta Thunberg, Samuel Leason, Rima Hassan, Yasemin Acar, Muhammad Husein Gaza, Muhammad Fathur Rahman, Rezamaisalah, Ada Colau, Robert Martin, Tony La Piccirella, Emma Fourreau, Adèle Haenel, Mandla Mandela, Tadhg Hickey, Cele Fierro, Sofia Aparício, Zainal Rashid Ahmad, Mikako Yasumura dan Omar al-Hassi.
Gerakan GSF mengecam tindakan ilegal Israel memblokade wilayah darat dan laut Palestina, tidak menghargai kedaulatan negara Palestina yang merdeka dan mengganggu bahkan membunuh warga Palestina dalam sekedar bertani atau mencari ikan di lautan. GSF mengajak dengan aksi damai kepada komunitas internasional untuk menghentikan kejahatan-kejahatan dan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh Israel.
Keberangkatan peserta
Flotilla direncanakan untuk berlayar dari Agustus hingga September 2025, dengan konvoi tersendiri yang akan berangkat dari Kota Genoa pada 30 Agustus dan Barcelona sehari setelahnya. Kota Tunis serta Catania akan berangkat pada 7 September. Armada gabungan dengan nama Flotilla Sumud Nusantara yang terdiri dari Indonesia, Malaysia dan Brunei mulai berangkat pada 23 Agustus 2025. Sebenarnya aktivis India juga ikut bergabung ke dalam Sumud Nusantara dan mereka menunggu penjemputan di Kalkutta, tetapi tiba-tiba mereka mengundurkan diri.
Pelayaran konvoi
Rute rencana konvoi bagi kelompok-kelompok Global Sumud Flotilla
Spanyol
Greta Thunberg berangkat mengikuti konvoi dari Spanyol di Barcelona, pelayaran mereka sempat ditunda karena keadaan cuaca buruk dengan angin kencang sekitar 56km/h (35mph).[21][22][23] Kapal-kapal itu baru dapat berlayar semula pada sore hari 1 September.[24] Pada malam pertamanya, konvoi itu telah berlayar sejauh 92,6km (57,5mi) dari Barcelona, menuju ke pesisir selatan Spanyol.[25] Kira-kira satu hari setelah berlayar, para anggota flottila dikejutkan dengan kehadiran drone jelajah dari negara tidak diketahui yang terus mengikuti mereka di wilayah perairan internasional.[26] Beberapa buah kapal telah berhenti di Minorca dan Mallorca pada pagi 3 September untuk membaiki masalah mesin, sebanyak lima buah kapal kembali ke Barcelona karena keadaan cuaca.[27][28] Pada tanggal yang sama, dua buah kapal dilaporkan masih berada di pelabuhan Barcelona serta tidak pernah meninggalkan pelabuhan itu dengan masalah mesin yang serupa dengan kapal yang berhenti di Menorca dan Mallorca.
Selain masalah mesin dan cuaca, banyak dari peserta konvoi Spanyol yang tidak familiar dengan lautan. Mereka mengalami mabuk laut dan muntah, beberapa kapal mengalami kebocoran air, masalah listrik dan lainnya.[28] Komite GSF Thiago Avila dari Kapal Alma mengumumkan bahwa pada 5 September, konvoi Spanyol akan dibagi menjadi dua kelompok. Satu akan terus menuju ke Tunis, manakala yang lain akan menunggu di Menorca untuk kapal-kapal yang masih mau bergabung bersama mereka di Barcelona.[29]
Italia
Menjelang 1 September 2025, Konvoi Italia dari Genoa akan berangkat pada 30 Agustus. Italia mengirimkan tiga kelompok utama: Ligurian, Sicillian dan San Apulia yang terdiri hampir 30 kapal. Pelayaran dari Genoa berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Dilaporkan empat anggota dewan Italia bergabung ke dalam iring-iringan konvoi. Mereka adalah Arturo Scotto, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Italia dan petinggi Partai Article One, Annalisa Corrado, Marco Croatti dan Benedetta Scuderi. Mereka berlayar ke Catania dan dari sana organisasi Emergency akan mengirimkan timnya untuk bergabung dan membawa obat-obatan. Mereka tiba di Sicily dan berlabuh di bandar pelabuhan Siracusa pada 3 September, sambil menunggu arahan dari Thiago Ávila.[30]
Pada 3 September 2025, kapal Tunisia pertama dari pelabuhan selatan Djerba dan Zarzis mulai bekumpul di pelabuhan Tunis. Seluruh konvoi mulai berlayar pada 7 September sembari menunggu kedatangan Sumud Nusantara yang sudah tiba dari Mesir. Mereka juga menunggu Maghreb Flotilla dari Aljazair dan Konvoi Omar Al-Mukhtar yang diketuai Omar al-Hassi, mantan Perdana Mentri dari Libya.[31] Pada 9 September, Kapal Familia da Madeira dan Alma dari Spanyol/Portugal yang telah berlabuh di Tunis tiba-tiba mendapat serangan bom api oleh drone tidak dikenal. Banyak dari aktivis GSF percaya bahwa serangan itu ditujukan untuk melumpuhkan gerakan dengan menciderai atau membunuh Thiago Ávila yang sedang berada di dalam dek.[32]
Pihak dari pemerintah Tunisia mengatakan bahwa pernyataan GSF terlalu mengada-ada. Tidak ada drone yang terlihat sejak tadi. Mereka mengatakan bahwa kobaran api berasal dari puntung rokok peserta GSF sendiri.[33]
Negara lainnya
Pada 11 September, kelompok aktivis Mesir mengatakan bahwa mereka ingin ikut bergabung ke dalam Maghreb Flotilla dan menunggu izin dari pemerintah Mesir untuk berangkat. Konvoi dari Mesir tidak mendapatkan izin dan pada 30 September, dua anggota mereka ditangkap Kepolisian Mesir.
Berlayarnya Kapal Mikeno
Jarak antara kapal-kapal GSF dengan pesisir Gaza
Pada 30 September 2025, setibanya flotilla tiba di laut internasional, di dekat perairan Libya, Armada Italia yang mengawal mereka menarik pasukan setelah sampai pada jarak 150 mil nautikal. Armada Spanyol juga melakukan hal yang sama pada tengah malam keesokan harinya. Tanpa pengawalan dari Armada Laut, para peserta GSF memutuskan untuk tetap berusaha untuk mendobrak blokade Israel. Kapal Alma, Sirius dan kapal-kapal lainnya dihalau oleh angkatan laut Israel di wilayah perairan Internasional, dekat dengan wilayah Mesir.
Mendengar penangkapan Alma, kapal Mikeno yang berada paling depan mulai mempercepat mesin. Muhammad Küçüktigin, selaku Nakhoda dari Turki mematikan seluruh alat komunikasi awak kapal dan berusaha untuk mendaratkan kapalnya di tepian. Akan tetapi ketika telah berhasil memasuki teritori perairan Palestina, Mikeno dihalau oleh kapal perang Israel.[34] Hamas sebagai representif dari pemerintah Palestina di Gaza mengecam penangkapan kapal Mikeno yang dilakukan oleh Israel. Hal itu adalah bukti bahwa IDF Israel tidak lebih adalah kelompok perompak, penjahat dan pembunuh berantai yang tidak mau mengerti dan tidak mau peduli apa itu hukum internasional. Zona Laut Teritorrial adalah 12 kilometer dari tepi pantai.[35]
Penahanan peserta GSF
Pada 3 Oktober, kapal terakhir GSF yaitu Marinette (dengan bendera Polandia) ditahan oleh sebuah kapal perang Israel di lautan internasional, kira-kira 43-60 nautikal dari perairan Gaza[36][37][38] dan Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan tidak ada satu pun kapal GSF yang mampu mendobrak blokade tentara laut mereka.[39] Semua tahanan daripada GSF dibawa ke Penjara Ketziot, selatan Israel.[40]