Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Sentrum Manado, atau lebih dikenal sebagai Gereja Sentrum Manado, adalah sebuah bangunan gereja bersejarah dan merupakan gereja tertua yang terletak di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Berdiri sejak masa kolonial VOC pada abad ke-17, gereja ini berada di Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, yang dahulunya merupakan pusat Kota Manado. Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan aktif bagi umat Kristen, Gereja Sentrum Manado juga ditetapkan sebagai situs cagar budaya serta destinasi wisata religi dan sejarah yang penting di Indonesia.[1]
Sejarah
Masa Kolonial VOC dan Hindia Belanda (1677–1942)
Gereja Sentrum Manado didirikan pertama kali pada tahun 1677 Masehi oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pembangunan awal gereja ini diprakarsai oleh seorang pendeta asal Belanda bernama Zacharias Coheng yang ditempatkan di Manado oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Pada awal berdirinya, tempat ibadah ini diberi nama Gereja Besar atau dalam bahasa Belanda disebut Oude Kerk Manado. Sebagai institusi keagamaan, gereja ini merupakan Gereja Protestan yang bernaung di bawah binaan Indische Kerk (Gereja Negara). Pada masa itu, seluruh pelayanan administrasi gereja untuk wilayah Minahasa dan Bitung dipusatkan di gereja ini di Manado. Seiring berjalannya waktu, restrukturisasi organisasi gereja terjadi. Sejak tanggal 30 September 1934, Gereja Protestan di wilayah Manado, Minahasa, dan Bitung secara resmi dinyatakan berdiri sendiri dan membentuk sinode mandiri dengan sebutan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Bersamaan dengan kemandirian tersebut, kedudukan kantor administrasi atau pusat sinode dipindahkan dari Manado ke Kota Tomohon.[2]
Masa Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II (1942–1945)
Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945), fungsi gereja sempat beralih. Bangunan ini dijadikan sebagai markas Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai (MSKK), yaitu sebuah organisasi Kristen yang dibentuk pada masa pemerintahan militer Jepang. Organisasi dan markas ini dipimpin oleh seorang pendeta berkebangsaan Jepang bernama Hamasaki. Ketika Perang Dunia II (khususnya Perang Pasifik) sedang berkecamuk, kawasan ini menjadi salah satu target militer. Bangunan gereja sempat hancur akibat terkena serangan bom yang dijatuhkan oleh pasukan udara Belanda beserta sekutunya.[1]
Pasca-Kemerdekaan Indonesia (1945–Sekarang)
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, nama Oude Kerk atau Gereja Besar secara resmi diganti menjadi Gereja Sentrum Manado. Pasca-perang, aktivitas peribadatan di gereja ini sempat mengalami masa sepi dan terbengkalai. Hal ini disebabkan karena masyarakat di kampung-kampung sekitar telah membangun gedung gereja mereka sendiri-sendiri. Kondisi tersebut mendorong para pendeta setempat untuk melakukan upaya persuasif dan mengajak jemaat kembali guna menghidupkan kembali aktivitas kerohanian di Gereja Sentrum.[1] Gedung gereja yang rusak akibat pengeboman Perang Dunia II kemudian mulai dibangun kembali secara menyeluruh pada tahun 1952. Setelah proses rekonstruksi selesai, gedung baru tersebut ditahbiskan pada tanggal 10 Oktober 1952.
Arsitektur dan Renovasi
Gereja Sentrum Manado memiliki gaya arsitektur dan ornamen khas yang mengadopsi corak gereja-gereja Protestan di Belanda. Desain denah bangunan berbentuk persegi simetris, yang filosofinya merupakan simbol dari empat penjuru mata angin. Meskipun telah berdiri selama ratusan tahun dan melewati berbagai dinamika sejarah, struktur asli seperti keaslian dinding dan pilar-pilar penyangga utama tetap dipertahankan hingga saat ini. Kendati demikian, gereja ini tercatat telah mengalami beberapa kali renovasi untuk pemeliharaan dan penyesuaian fungsi tata ruang. Perubahan paling mencolok terdapat pada tata letak interior, di mana posisi mimbar khotbah yang pada awalnya menghadap ke arah Utara, kini telah dipindahkan menjadi menghadap ke arah Timur.[2]
Monumen Perang Dunia II
Tepat di samping gedung Gereja Sentrum, berdiri sebuah monumen bersejarah yang dinamakan Monumen Perang Dunia II. Monumen ini dibangun persis di titik lokasi bekas ledakan bom yang menghancurkan gereja pada masa perang. Pembangunan monumen ini dilakukan oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA), badan penghubung pemerintah kolonial Belanda dengan Komando Tertinggi Sekutu di Pasifik, dengan mempekerjakan seorang arsitek asal Belanda bernama Ir. Van den Bosch. Monumen ini didirikan dengan tujuan untuk mengenang dan menghormati seluruh korban yang gugur dalam Perang Pasifik, baik dari pihak Sekutu, pihak Jepang, maupun warga sipil/rakyat setempat.[2]
Status Cagar Budaya dan Pariwisata
Sebagai salah satu artefak budaya dan saksi sejarah perkembangan masyarakat di Sulawesi Utara, Gereja Sentrum Manado secara resmi dinobatkan dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya Berbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2007. Keberadaan gereja ini turut mengukuhkan identitas Kota Manado yang kerap dijuluki sebagai "Kota 1.000 Gereja" dengan tingkat toleransi antarumat beragama yang tinggi. Selain menjadi tempat ibadah rutin mingguan bagi jemaat GMIM, kompleks sejarah ini menjadi daya tarik pariwisata budaya dan religi. Gereja ini sering dikunjungi oleh wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara. [2]