Sejarah
Pada 14 April 1964 yang bertepatan dengan Hari Raya Paskah, Uskup Purwokerto Willem Schoemaker, M.S.C. menetapkan wilayah Purwokerto Timur sebagai paroki baru yang akan dibangun secara mandiri. Tanggung jawab paroki dipercayakan kepada Theodorus J. Padmowidjojo, MSC. Ia segera menggerakkan umat untuk pengadaan tanah dan pembangunan gereja, didukung sejumlah awam pionir. Karena belum memiliki gedung, misa awal dilaksanakan di rumah umat, kemudian berpindah ke Gedung Balai Pertemuan Pradjurit dan Umum (BBPU) dan serambi Sekolah Dasar St. Yoseph. Seiring pertumbuhan umat, katekese dilakukan di rumah umat dan sekolah. Pembangunan gereja selesai pada Natal tahun 1968, dan pada 26 Januari 1969 gereja ditahbiskan dengan pelindung Santo Yoseph. Hal ini menandai berdirinya Paroki Santo Yoseph Purwokerto Timur di Jalan Kenanga Nomor 24.
Dalam periode awal, Rm. Padmowidjojo dibantu oleh beberapa imam Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), hingga akhirnya penggembalaan diserahkan kepada tarekat Oblat Maria Imakulata (OMI). Pada masa imam-imam OMI (1972–1992), paroki berkembang pesat dengan mencakup wilayah Purwokerto Timur, Sokaraja, Banyumas, dan Krumput. Karya pastoral meluas ke bidang sosial-karitatif, pelayanan kesehatan (Adidharma), pembinaan kaum muda melalui musik, drama, dan paduan suara bersama Bruder FIC dan Suster OP, serta pelatihan keterampilan melalui Wanita Katolik. Struktur pastoral diperkuat dengan pembentukan lingkungan (kring) dan Dewan Pastoral Paroki sejak 1974, serta dukungan tokoh awam termasuk dari kalangan ABRI dan instansi pemerintah.
Pengembangan infrastruktur juga menonjol, terutama pada masa Rm. Pat Mac Anally, OMI (1982–1990), dengan pembangunan gereja yang lebih terbuka dan gedung pertemuan. Perhatian juga diberikan pada stasi-stasi seperti Sokaraja dan Banyumas, serta pengembangan kawasan Kaliori yang mencakup tempat ziarah, jalan salib, rumah retret Maria Immaculata, mausoleum imam, dan pemakaman umat, bahkan didukung usaha peternakan ulat sutera. Selain itu didirikan SMA Yos Sokaraja dan Balai Pengobatan Yos Sudarso di Sokaraja dan Teluk. Dalam bidang rohani, berkembang pula beberapa gerakan kategorial.
Setelah masa tugas OMI berakhir sekitar 1992, paroki dilayani oleh imam-imam MSC dan diosesan, dibantu frater Tahun Orientasi Pastoral. Fokus pengembangan diarahkan pada pemberdayaan umat melalui Kursus Pelayan Umat (KPU), penambahan prodiakon, pemekaran wilayah lingkungan, serta berbagai seminar pastoral. Kehidupan doa umat juga diperkaya melalui praktik ofisi pagi, adorasi Sakramen Mahakudus (hora sancta), dan gerakan Legio Maria, sementara peran aktif awam tetap menjadi penopang utama perkembangan paroki.[2]