Perkembangan Bekasi sebagai daerah penyangga Jakarta, semakin berkembang pada akhir tahun 1950-an. Uskup Agung Jakarta, Adrianus Djajasepoetra, S.J. mengambil kebijakan di mana Bekasi masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Jakarta. Pada tahun 1958, sebuah tanah di kawasan Jalan Ir. H. Juanda dibeli dan didirikan Sekolah Strada Budi Luhur. Sekolah tersebut selesai dibangun pada tahun 1967.[1]
Sejumlah umat kemudian melaksanakan Perayaan Natal pertama pada tahun 1966, yang disusul dengan pelaksanaan Misa secara lebih teratur sejak tahun 1967 hingga 1970 di Sekolah Strada Budi Luhur. Perkembangan umat di wilayah Bekasi membawa peningkatan status Bekasi menjadi stasi dari Gereja Santa Maria Dipamarga, Klender. Sejak saat itu, kegiatan liturgis dan pastoral semakin ditingkatkan intensitasnya. Perkembangan semakin terjadi sejak tahun 1975 sejak berbagai perumahan dibangun di Bekasi. Sejak 20 Juni 1978, Pastor Antonius Maria van den Braak, S.J. mulai datang secara teratur di kawasan Bekasi. Rapat pleno stasi berlangsung pada 19 Desember 1978 yang dipimpin oleh Pastor van den Braak.[1]
Uskup Agung Jakarta, Leo Soekoto, S.J. menetapkan Stasi Bekasi menjadi Paroki pada tanggal 25 Februari 1979. Dalam surat keputusan itu, ditetapkan nama pelindung Paroki Bekasi ialah Santo Arnoldus Janssen, yang merupakan pendiri Serikat Sabda Allah. Dalam surat itu juga, ditetapkan pastor kepala paroki pertama adalah R.P. Jan Lali, S.V.D.[1][2]
Prasasti pembangunan gereja oleh Bupati KDH Tingkat II Bekasi, H. Suko Martono tertanggal 22 November 1987
Pendirian gedung gereja
Guna memiliki sarana peribadatan yang lebih memadai, pembangunan gedung gereja mulai direncanakan. Gedung gereja dirancang memiliki bentuk joglo dengan daya tampung 1.500 orang. Izin prinsip berupa surat rekomendasi dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bekasi Suko Martono terbit pada 15 Juli 1986. Izin pelaksanaan pembangunan gereja berupa Izin Mendirikan Bangunan juga kemudian terbit pada tahun yang sama.[1][2]
Setelah melakukan pembangunan, gedung gereja selesai dibangun pada tanggal 22 November 1987, bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bekasi, Suko Martono meresmikan gedung gereja ini. Pemberkatan gedung gereja juga dilakukan pada hari yang sama oleh Uskup Agung Soekoto.[1][2]
Tampak luar gereja
Tampak dalam gereja
Menara gereja
Renovasi gereja
Setelah gedung gereja dipergunakan selama 22 tahun, pengurus Gereja merencanakan untuk melaksanakan renovasi. Renovasi gereja selesai pada 25 September 2011 yang diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo.
Setelah renovasi usai pada tahun 2011, panti umat utama di dalam gedung gereja mampu menampung hingga setidaknya 1.500 orang, tanpa balkon. Narteks gereja terdapat tiga bagian panti umat, utama di tengah, serta dua di sisi panti imam. Di sebelah kiri panti imam, panti umat sebagian digunakan sebagai panti paduan suara. Sementara di sebelah kanan panti imam, panti umat sebagian digunakan sebagai tempat duduk pada pro-diakon dan petugas liturgi.
Panti umat
Tampak dalam pada panti umat
Panti imam
Altar
Jendela kaca patri tepat di atas panti imam bergambarkan Yesus
Selain itu, terdapat berbagai sarana rohani juga di dalam bangunan gereja. Terdapat sebuah ceruk khusus untuk pembaptisan atau baptisterium, bersebelahan dengan bilik pengakuan dosa. Terdapat pula beberapa patung rohani, seperti Patung Hati Kudus Yesus, Patung Bunda Maria, Patung Keluarga Kudus, Patung Pieta, Patung Bunda Maria dengan Yesus, Lukisan Kerahiman Ilahi, serta jendela kaca patri menggambarkan santo pelindung gereja, Arnoldus Janssen.
Jendela kaca patri di salah satu sudut gereja, menggambarkan Santo Arnoldus Janssen
Pemekaran paroki
Sebagai gereja perdana di Bekasi, sejumlah gereja yang awalnya merupakan bagian dari Paroki Bekasi telah dimekarkan menjadi paroki mandiri. Beberapa paroki yang dimekarkan dari Paroki Bekasi, antara lain Kranji (1991), Taman Galaxi (1995), Bekasi Utara (1996), dan Cikarang (2004).[1][2]
Fasilitas rohani
Di kompleks gereja ini terdapat sebuah gua maria yang bernama Gua Maria Fatima. Gua Maria ini diresmikan oleh Uskup Bandung, Alexander Djajasiswaja pada 13 Mei 2000 yang merupakan hari Penampakan Bunda Maria di Fatima. Di sebelah Gua Maria, juga terdapat sebuah kapel kecil.
Gua Maria Fatima
Gua Maria Fatima
Tampak dekat Gua Maria Fatima
Jalan Salib
Prasasti peresmian Kapel Maria Fatima
Di kompleks gereja ini juga terdapat berbagai sarana dan prasarana rohani lainnya untuk menunjang kehidupan umat di paroki ini. Berdiri sebuah gedung pastoran, sebagai tempat tinggal para pastor yang melayani di Paroki Bekasi, berselebahan dengan Aula dan Gedung Sekretariat Paroki.
Pastoran
Pastoran
Aula
Ruang adorasi di pastoran
Prasasti renovasi pastoran
Prasasti pembangunan aula
Persis di sebelah kompleks gereja, terdapat pula kompleks persekolahan KB dan TK Strada Budi Luhur Bekasi.
Kompleks persekolahan KB dan TK Strada Budi Luhur Bekasi
Dalam rangka merayakan Tahun Yubileum 2025, Gereja Santo Arnoldus Janssen juga memasang Porta Sancta di pintu utama gereja
Porta Sancta (Pintu Suci) dalam rangka Yubileum 2025
Porta Sancta dalam rangka Yubileum 2025
Porta Sancta dalam rangka Yubileum 2025
Porta Sancta dalam rangka Yubileum 2025
Stasi
Di wilayah Paroki Bekasi terdapat dua stasi, yaitu Gereja Santo Petrus Rasul - Stasi Cibitung dan Gereja Santo Yohanes Paulus II - Rawalumbu.
Gereja Santo Petrus Rasul, Stasi Cibitung
Gereja Santo Petrus Rasul, Stasi Cibitung.
Gereja Santo Petrus Rasul terletak di Wanasari, Cibitung, Bekasi. Umat Stasi Cibitung setidaknya telah mencapai 7000 jiwa per 2024, terbagi ke dalam 17 wilayah, melayani umat Katolik di wilayah Cibitung dan Tambun. Stasi ini dilayani para imam dari Serikat Sabda Allah.
Peribadatan dilaksankan setiap hari Minggu pukul 7 pagi, Jumat Pertama serta Hari Raya Gereja Katolik lainnya.
Bangunan gereja ini masih berupa bangunan bedeng atau saung sementara, sebuah ruang terbuka yang digunakan sebagai tempat peribadatan, karena umat belum memiliki dana yang cukup untuk membangun bangunan gereja permanen. Bangunannya disangga tiang-tiang besi tanpa fasad.
Seperti pada umumnya, gereja ini memiliki panti umat yang cukup setidaknya menampung hingga 500 umat. Sebuah panti imam sederhana, dihiasi dengan sebuah Gunungan, karena mayoritas umat Stasi Cibitung didominasi umat Katolik dari etnis Jawa. Terdapat pula sebuah panti paduan suara di depan sebuah dinding ikonostasis yang dipenuhi gambar-gambar para orang kudus, serta potret dari Paus petahana Paus Leo XIV dan Uskup Agung Jakarta petahana, Ignatius Kardinal Suharyo. Di belakang panti imam terdapat sebuah sakristi.
Gereja ini menempati lahan yang luas. Terdapat toko rohani, Gua Maria Ibu Penolong Abadi, Jalan Salib di sekitar kompleks, ukiran Santo Petrus sang pelindung stasi, sebuah aula berbentuk saung, lahan parkir dan tempat kegiatan umat.