Sejarah
Sejarah berdirinya Paroki Santa Sesilia berkaitan dengan perkembangan kawasan permukiman di wilayah Parit H. Husin II, Sungai Raya Dalam, dan sekitarnya. Kawasan ini mulai dihuni oleh sejumlah keluarga Katolik yang pada saat itu merupakan bagian dari Wilayah V Paroki Santo Agustinus Sungai Raya. Wilayah V terdiri atas tiga lingkungan, yakni Lingkungan Lukas, Lingkungan Santo Thomas Aquino, dan Lingkungan Immakulata. Pada masa tersebut, Paroki Santo Agustinus dipimpin oleh Pastor Paroki, yakni R.P. Bartolomeus Janssen, O.F.M. Cap.[1]
Seiring waktu, umat Katolik yang bermukim di wilayah tersebut menghadapi kendala dalam mengikuti perayaan Ekaristi mingguan di Gereja Santo Agustinus, terutama pada masa-masa tertentu seperti perayaan sembahyang kubur. Kepadatan lalu lintas kerap menyebabkan umat terlambat atau mengalami kesulitan untuk hadir tepat waktu dalam perayaan Ekaristi. Situasi ini mendorong munculnya gagasan untuk mendirikan sebuah stasi yang berlokasi lebih dekat dengan tempat tinggal umat. Gagasan tersebut mulai dibahas dalam pertemuan pada bulan Juni 1999 dan mencapai tahap konkret dalam rapat yang diselenggarakan pada 16 November 1999. Dalam pertemuan tersebut diputuskan bahwa kegiatan Misa Mingguan akan dilaksanakan dengan menumpang di Aula SMA Gembala Baik, setelah memperoleh izin dan dukungan dari Pastor Fidelis Sabinus, OFM Cap, yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Gembala Baik. Selain itu, para pengurus lingkungan sepakat mengundang umat Katolik di sekitar wilayah tersebut untuk membentuk Panitia Natal 1999 yang bertugas mempersiapkan dan menyelenggarakan Misa perdana pada 12 Desember 1999 serta perayaan Natal tahun 1999.
Perayaan Ekaristi perdana dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 1999, dan dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Simon Petrus Rostandi, OFM Cap yang berkonselebrasi dengan Pastor Fidelis Sabinus, OFM Cap. Misa tersebut dihadiri sekitar 300 umat, serta perwakilan dari sejumlah paroki lain, antara lain Paroki Gembala Baik (Seng Hie), Paroki Keluarga Kudus (Kota Baru), Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (Pancasila), dan Paroki Santo Yoseph (Katedral). Seusai Misa, diadakan dialog antara umat dan Vikjen KAP yang menjelaskan bahwa komunitas tersebut berstatus sementara sebagai Stasi Gembala Baik dengan konsep gereja mandiri, sekaligus memaparkan persyaratan dan tahapan pembentukan paroki.
Seiring bertambahnya jumlah umat dan meluasnya wilayah pelayanan—mencakup Komplek Universitas Tanjungpura, Gang Sepakat II, Parit H. Husin II, Sungai Raya Dalam, serta kawasan sekitar Jalan Ahmad Yani II—membuat kebutuhan akan struktur organisasi pastoral semakin mendesak. Untuk mendukung pengembangan karya koinonia dan diakonia, pada 5 Maret 2000 Pastor Fidelis Sabinus, OFM. Cap. menerbitkan suatu surat keputusan tentang Penetapan Susunan Pengurus Dewan Stasi Santa Sesilia Pontianak. Dengan pertumbuhan umat yang pesat, Stasi Santa Sesilia kemudian dibagi menjadi delapan kring. Namun, ketersediaan sarana ibadah yang permanen dan memadai belum sebanding dengan kebutuhan pastoral yang terus berkembang. Oleh karena itu, Dewan Stasi Santa Sesilia merencanakan pembangunan gedung gereja sebagai pusat kegiatan ibadat dan pembinaan umat.
Sebagai langkah awal, Pastor Paroki Gembala Baik menerbitkan surat keputusan tentang Penetapan Susunan Personalia Panitia Pembangunan Gereja Santa Sesilia. Setelah melalui proses persiapan yang panjang, pemberkatan tiang pertama pembangunan Gereja Santa Sesilia dilaksanakan pada 20 Juni 2004. Uskup Agung Pontianak kemudian menetapkan peningkatan status Santa Sesilia menjadi paroki pada tanggal 1 Januari 2006. Pemberkatan Gereja Santa Sesilia dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak Hieronimus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap., yang dilaksanakan pada 19 Februari 2006. Wali Kota Pontianak Buchary Abdurrachman meresmikan gedung gereja pada hari yang sama.
Peribadatan
Perayaan Ekaristi di Gereja Santa Sesilia diselenggarakan secara rutin sepanjang pekan. Misa harian dilaksanakan pada hari Senin hingga Kamis pada pukul 05.30 WIB, sementara pada hari Jumat Misa dirayakan pada pukul 18.00 WIB. Selain itu, Misa Jumat Pertama diselenggarakan setiap Jumat pertama pada pukul 18.00 WIB.
Pada akhir pekan, Misa Sabtu senja dirayakan pada pukul 18.00 WIB. Pada hari Minggu, Perayaan Ekaristi dilaksanakan dua kali, yaitu pada pukul 08.00 WIB dan pukul 18.00 WIB. Selain perayaan Ekaristi, Doa Rosario dilaksanakan setiap hari Jumat pada pukul 17.30 WIB. Seluruh perayaan liturgi di Gereja Santa Sesilia menggunakan bahasa Indonesia.