Menurut ingatan sesepuh (yang sudah almarhum), sejak sekitar tahun 1932 sudah ada beberapa umat Katolik di Gresik yang sering merayakan Ekaristi di Gedung Pengadilan Negeri (sekarang Jalan Basuki Rachmat) bersama Pastor Massen, CM.
Kegiatan menuju pembentukan stasi dimulai pada 5 September 1958 dengan penugasan Bapak FX Rahardjo oleh Pastor Van Aarsen, CM untuk menghimpun umat agar dapat merayakan Ekaristi secara teratur. Dirincikan bahwa:
Perayaan diadakan sebulan sekali di Gedung PLN (rumah Bapak Sukodihardjo di Jalan Raden Santri). Sekitar 20 umat hadir dan pelajaran agama untuk anak-anak mulai diadakan.
Pengurus kelompok umat dibentuk dengan Ketua Sukodihardjo, dibantu oleh Dr. F. Kwa Song Djie dan FX. Rahardjo.
Karena jumlah umat semakin bertambah, perayaan diadakan di rumah Liem Kian Ham (Jalan Nyi Ageng Arem-arem) setiap dua minggu sekali. Sehingga sekitar tahun 1960, jumlah umat mencapai lebih kurang 70 orang. Maka Misa diadakan seminggu sekali. Pastor yang bertugas adalah Romo Van Aarsen, CM dan Romo Vindrich, Pr. Setahun kemudian (1961), pelajaran bagi calon Katolik dimulai oleh WKRI Gresik dengan Ketua Ibu Sahid, penulis Ibu Rahardjo, bendahara F. Kwa Song Djie, serta Ibu Sutomo dan Sukodihardjo sebagai pembantu.
Pada tahun 1963, umat berkembang mencapai sekitar 150 orang. Perayaan Natal pertama kali diadakan di Sekolah Dasar Setia Budi. Pastor yang melayani adalah Romo Van Aarsen, CM, Romo Vindrich, Pr, dan Romo Heuvelmans, CM. Tempat misa kemudian pindah ke rumah The Kie Theng di Jalan K.S. Tubun dalam bentuk kapel.
Pada tahun 1964, sekitar 30 anak dipermandikan, sehingga jumlah umat mencapai sekitar 180 orang. Karena kepindahan Bapak Sahid dan Sukodihardjo dari Gresik, pengurus kelompok diganti dengan Ketua Dr. Kwa Song Djie, penulis Bapak FX Rahardjo, bendahara Ibu F. Kwa Song Djie, dan seksi usaha Bapak Liem Ing Tiong (A. Prasetyo). Pada tahun 1965, tempat misa berpindah kembali ke rumah Tjoa Sie Thwan (Jalan Wachid Hasyim). Pada saat itu dilaksanakan baptisan sekitar 40 remaja dan 60 dewasa, sehingga jumlah umat mencapai 280 orang.
Pada tahun 1967, dimotori oleh Pastor A. Ylst, CM dan dibantu oleh Pastor Heuvelmans, CM, gereja mulai dibangun dan diresmikan pada 16 Desember 1967 oleh Bapak Uskup Surabaya Yoh. Klosster, CM. Hari tersebut ditetapkan sebagai hari stasi dan Stasi memilih pelindung Beata Marie Virginae yang berarti "SantaPerawan Maria". Pastor yang bertugas pada waktu itu adalah Romo Heuvelmans, CM, A. Ylst, CM, Tondo, CM dan Harjo, CM.
Ketika Pastor A. Ylst, CM menetap di Gresik, perayaan Ekaristi diadakan empat kali seminggu.
Pada tahun 1975, Pastor A. Ylst, CM digantikan oleh Pastor Th. Tandyasukmana, CM. Pengurus stasi dibentuk dengan Ketua M. Sukardi, Wakil Ketua Suwondo, penulis JA Siswono, dan Bendahara J. Witarsa.
Pada tahun 1981, gereja diperluas karena tidak mampu menampung jumlah umat yang mengikuti perayaan Ekaristi setiap minggu.
Pada tahun 1984, dibangun Gua Maria di belakang gereja dan diresmikan oleh Bapak Uskup Surabaya Mgr. AJ. Dibyokaryono, Pr pada 19 Agustus 1984.
Pada tahun 1991, gereja (sekarang bangsal stasi) diperluas sehingga bentuknya seperti sekarang ini, seiring dengan bertambahnya umat.
Untuk mempersiapkan Gereja Paroki, pada 26 Juli hingga 3 Agustus 1994, tim yang terdiri dari 15 frater CM dan 3 Suster Puteri Kasih (PK) melaksanakan misi umat di Stasi Gresik. Untuk mendukung persiapan menjadi Paroki, sejak Oktober 1996 Romo E. Rahmat, CM ditugaskan sebagai Romo Stasi dan kemudian diangkat menjadi Romo Paroki yang pertama.
Dengan persiapan, penantian, doa, karya, harapan, dan kasih dari seluruh umat di Gresik, akhirnya pada 22 Desember 1996 diresmikan Gereja Stasi Gresik menjadi Paroki oleh Uskup Surabaya Mgr. J. Hadiwikafia, Pr dengan tetap memilih nama pelindung "Santa Perawan Maria", yang perayaannya jatuh pada 31 Mei bertepatan dengan Pesta Santa Maria mengunjungi Elizabeth.
Masa Perkembangan Paroki (1996 - Sekarang)
Sejak diresmikan sebagai paroki pada 22 Desember 1996, gereja berkembang seiring dengan bertambahnya umat.
Pada tahun 1999, Romo E. Rachmat menggagas pembangunan gereja baru.
Sejak 1 Oktober 2011, Romo L. Karsiyanto ditugaskan di Gresik untuk membantu Romo D. Suwadji, CM. Semangat umat beriman untuk hidup menggereja semakin meningkat, dan digagaslah pembangunan Rumah Pastor yang baru.
Menanggapi perkembangan gereja di Gresik dan kebijakan pastoral Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr, sejak 1 Oktober 2014, Romo D. Suwadji, CM digantikan oleh Romo Stefanus Fanny Hure, dan Romo L. Karsiyanto, CM dipindah ke GerejaParokiVincentius a Paulo, Widodaren, Surabaya.
Pada tahun 2018, berdasarkan SK Keuskupan Surabaya No. 95/G.113/II/2018 tentang pemekaran Cepu dan pembagian wilayah di Keuskupan Surabaya, ParokiGresik yang sebelumnya tergabung dalam Vikep Surabaya Barat menjadi Kevikepan Mojokerto bersama ParokiMojokerto, Tuban, dan Bojonegoro. Pada tahun yang sama, Paroki Gresik mengalami pergantian Pastor Paroki dengan rincian:
RD. St. Fanny Hure kepada RP. Lukas Kilatwono, SVD.
RP. Lukas Kilatwono, SVD digantikan oleh RP. Silas Wayan Eka Suyasa, SVD dari Paroki Yohanes Pemandi, Surabaya.
Paroki Gresik mendapatkan satu imam tambahan, RP. Paulus Ranto Lumban Tobing, SVD.
Saat ini, Paroki Gresik memiliki tiga imam, yaitu RP. Silas Wayan Eka Suyasa, SVD; RP. Paulus Ranto Lumban Tobing, SVD; dan RP. Donatus Suwadji, CM.
Selama pandemi COVID-19 yang berlangsung mulai Maret 2019 sampai tulisan ini dibuat, Paroki Gresik memulai kenormalan baru dengan menjalankan protokol kesehatan yang berlaku, sebagai berikut:
Selain fasilitas cuci tangan yang disediakan di sepanjang pintu masuk gereja, juga masih diberlakukan kehadiran umat terbatas sesuai kapasitas yang ditentukan selama masa pandemi.
Pelayanan misa selain secara langsung yang terbatas juga dilaksanakan secara daring.
Kegiatan pastoral dan pendampingan sedapat mungkin dilaksanakan secara daring.[2]
Karya Pastoral
Stasi
Gereja Stasi Santo Fransiskus Xaverius, Jetis - Lamongan
Jadwal Misa
Misa Rabu Abu (Kamis): Sore / Malam 18.00
Misa Harian (Senin, Rabu, Jumat): Sore / Malam 18.00