Sejarah
Umat yang menjadi cikal bakal Gereja Keluarga Kudus berawal dari sekelompok umat Katolik yang berkumpul untuk merayakan Ekaristi di sebuah rumah di Jalan Kakap Raya Nomor 38. Misa kemudian berpindah tempat dan diselenggarakan di Jalan Duyung I Nomor 12. Saat itu Misa dipimpin oleh Pastor Frans van Genuchten, O.F.M. yang bertugas di Gereja Hati Kudus, Kramat. Seiring dengan berkembangnya jumlah umat, misa sempat berpindah ke Aula Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Beberapa imam Kongregasi Serikat Sabda Allah. Misa diadakan di sana dengan keadaan yang sederhana, tetapi umat tetap berkumpul dengan penuh semangat. Para pastor yang melayani pada masa itu berasal dari kongregasi Serikat Sabda Allah, antara lain Pastor C. van Lersel, S.V.D., Pastor Jan Lali, S.V.D., dan Pastor L. Manggas, S.V.D. Pada masa itu, umat menghadapi tantangan dalam kondisi lingkungan yang tidak memadai. Saat hujan turun, jalanan becek dan penuh lumpur sering kali menyulitkan mereka untuk berkumpul.[1]
Perkumpulan umat lain juga terbentuk di kawasan Cipinang yang merupakan bagian dari Gereja Santo Yoseph, Matraman. Mereka merayakan Ekaristi di sebuah ruangan yang merupakan ruang latihan Korps Musik Republik Indonesia.[2]
Pada sekitar tahun 1970, jumlah umat terus berkembang karena pembaptisan dan perpindahan umat. Pada 27 Juli 1970, Paroki Rawamangun didirikan oleh Keuskupan Agung Jakarta, meskipun pada saat itu mereka belum memiliki gedung gereja permanen. Reksa pastoral di paroki ini dijalankan oleh para imam Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Paroki Rawamangun saat itu masih berpindah-pindah lokasi untuk menyelenggarakan Perayaan Ekaristi, termasuk di Jalan Kedondong, Ruang TK di Jalan Wisma Jaya, Aula SD/SMP Budhaya di Cipinang Kebembem, dan di ruang kelas SD/SMP Yayasan Keluarga (saat ini dikenal SMP Tarakanita 4), serta di Aula Sekolah (saat ini dikenal Aula Bethlehem).[1]
Pembangunan gereja
Untuk membangun gereja permanen, pada 21 Juni 1970, dibentuk Panitia Pembangunan Gereja (PPG). PPG berjuang untuk menyelesaikan berbagai tantangan, terutama sengketa tanah yang menghalangi pembangunan gereja. Proses sengketa tanah ini berlangsung selama lebih dari satu dekade, termasuk saat mengalami peralihan PPG, yakni PPG I (1976–1978) dan PPG II (1978–1980). Saat itu, kejelasan status tanah untuk gereja belum juga dapat diperoleh.[1]
Pada tahun 1983, mulai muncul sejumlah kejelasan atas sengketa tanah yang akhirnya dapat diselesaikan. Pada tahun 1984, izin mendirikan bangunan (IMB) diterbitkan, yang menjadi langkah awal untuk pembangunan gereja. Pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama pada 11 Agustus 1985, yang dipimpin oleh Pastor Martosudjito, S.J. Adapun arsitek yang merancang gereja ini adalah Han Awal.[2] Pada 19 Oktober 1986, Gereja Keluarga Kudus Rawamangun resmi diresmikan dan diberkati oleh Uskup Agung Jakarta, Leo Soekoto, S.J. Gereja ini memiliki desain yang fungsional dan dapat menampung banyak umat, menciptakan ruang yang dapat digunakan untuk beribadah dan berkumpul dengan nyaman.[1]
Renovasi
Pada tahun 2025, Gereja Keluarga Kudus mengalami renovasi sehingga peribadatan dilaksanakan di Aula Bethlehem pada Gedung Karya Pastoral. Renovasi gereja selesai pada 29 November 2025, yang ditandai dengan Misa syukur.
Tampak dalam Aula Bethlehem
Panti imam
Patung Keluarga Kudus
Porta Sancta di depan Aula Bethlehem
Porta Sancta di depan Aula Bethlehem
Fasilitas
Di Gereja Keluarga Kudus Rawamangun terdapat Gua Maria Bunda Pemersatu. Gua Maria ini diberkati pada 26 April 1999 oleh R.P. Antonius Gunardi Prayitna, M.S.F. Di gereja ini juga terdapat Taman Doa Pieta. Taman doa ini diberkati oleh R.P. Antonius Suyata, M.S.F. pada 11 Maret 2013.[3] Pada 18 Februari 2023, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo meresmikan dan memberkati Gedung Karya Pastoral Paroki Rawamangun.[4] Gedung karya pastoral ini mulai dibangun pada 12 Februari 2022.[5] Pada 27 Juli 2024, Pastor Kepala Paroki Rawamangun, R.P. Yulius Edyanto, M.S.F. memberkati Kapel Adorasi Martinus.