Gerbang asli direkonstruksi lalu diganti dengan gerbang baru.
Gaya arsitektur
Lanna
Pengelola
Munisipalitas Chiang Mai
Gerbang Tha Phae (bahasa Lanna:ᨸᨲᩪᨴ᩵ᩣᩯᨻcode: nod is deprecated ; bahasa Thai:ประตูท่าแพcode: th is deprecated , Pengucapan Thai:[prā.tūː tʰâː pʰɛ̄ː]) adalah gerbang timur dan paling terkenal di kota Chiang Mai, Thailand. Gerbang ini berdiri di sisi timur kota tua yang dikelilingi tembok dan saat ini berfungsi sebagai tengaran utama dan tempat kumpul masyarakat umum. Struktur yang ada saat ini merupakan hasil rekonstruksi pada tahun 1985–1986, yang dibangun di lokasi gerbang bersejarah tersebut.
Sejarah
Gerbang Tha Phae dan Jalan Tha Phae tahun 1949
Gerbang Tha Phae awalnya dibangun pada masa Kerajaan Lanna di abad ke-13 sebagai bagian dari sistem tembok benteng dan parit pertahanan yang mengelilingi kota tua Chiang Mai. Gerbang ini berfungsi sebagai gerbang timur kota bagian dalam, yang dahulu dikenal sebagai Gerbang Chiang Rueak (bahasa Thai:ประตูเชียงเรือกcode: th is deprecated ; bahasa Lanna:ᨸᨲᩪᨩ᩠ᨿᨦᩁᩮᩨᩬᨠcode: nod is deprecated ) yang dinamai dari desa terdekat yakni Chiang Rueak.[1] Gerbang ini pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Raja Mangrai, sang pendiri Chiang Mai, pada tahun 1296. Area di luar gerbang dulunya merupakan zona komersial utama yang terhubung dengan jalur perdagangan dan transportasi air di Sungai Ping.[2][3]
Nama Gerbang Chiang Ruea kemudian diubah menjadi Gerbang Tha Phae Dalam agar sesuai dengan Gerbang Tha Phae Luar, yang terletak di jalan yang sama. Gerbang Tha Phae Luar berdiri di area Wat Saen Fang sebelum dihancurkan saat pembangunan perkotaan. Gerbang Tha Phae Dalam yang tersisa sejak itu dikenal sebagai Gerbang Tha Phae. Gerbang Tha Phae asli (lapisan dalam) adalah gerbang berlapis ganda dengan susunan yang tidak sejajar. Gerbang ini memiliki benteng yang menonjol di samping gerbang, berfungsi sebagai pertahanan semasa perang pada masa lalu (seperti yang terlihat pada peta Nakhon Chiang Mai dari tahun 1893, pada masa pemerintahan Raja Inthawichayanon).[3]
Sejak pembangunan tembok dan gerbang kota Chiang Mai, tembok dan gerbang tersebut telah mengalami beberapa periode pembongkaran dan pembangunan kembali yang tidak lagi mempertahankan bentuk aslinya. Gerbang tersebut direnovasi antara tahun 1966 dan 1967, di bawah pengawasan dan desain Thongyot Suwanprathet, insinyur kota. Struktur Gerbang Tha Phae saat ini merupakan hasil pembangunan ulang yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Chiang Mai dan Departemen Seni Rupa antara tahun 1985 dan 1987. Restorasi tersebut didasarkan pada catatan sejarah, bukti arkeologis, dan foto lama salah satu gerbang kota di Chiang Mai, yang diyakini menggambarkan Gerbang Tha Phae Luar atau, menurut beberapa sumber, Gerbang Chiang Mai. Proyek restorasi bertujuan untuk melestarikan konstruksi batu bata tradisional bergaya Lanna dan bentuk asli gerbang tersebut.[3][4] Menurut buku Tembok Kota Chiang Mai, Gerbang Tha Phae mungkin telah direkonstruksi sebelum restorasi resminya pada tahun 1985 dengan tanpa mengandalkan bukti arkeologis.[5]
Pada tanggal 2 November 2023, Kantor Regional Departemen Seni Rupa 7 di Chiang Mai mengumumkan penemuan prasasti kuno yang dikenal sebagai Prasasti Gerbang Tha Phae yang tersembunyi di dalam struktur gerbang. Prasasti tersebut telah hilang atau tidak teramati selama hampir empat dasawarsa setelah dipindahkan ketika renovasi gerbang sekitar tahun 1985–1987. Prasasti ini ditulis dalam aksara Lanna, aksara lokal Thailand Utara.[6]
Arsitektur
Gerbang ini dibangun dengan bahan utama batu bata merah dan dirancang dengan gaya arsitektur Lanna. Gerbang ini memiliki pintu kayu di tengah yang diapit oleh tembok benteng yang membentang ke arah sudut-sudut kota. Tha Phae adalah satu-satunya gerbang tembok dalam kota tua yang masih mempertahankan pintu kayunya yang utuh (bantabaan). Alun-alun di dekatnya merupakan tempat yang populer untuk kegiatan publik dan fotografi.[7]
Signifikansi budaya
Gerbang Tha Phae secara luas dianggap sebagai jantung kota Chiang Mai. Gerbang Tha Phae sering menjadi tempat penyelenggaraan festival budaya dan keagamaan besar, termasuk:
Perayaan Songkran (Tahun Baru Thailand), yang menampilkan parade, pertunjukan, dan festival air.
Festival Bunga Chiang Mai, perayaan tahunan yang menampilkan aneka bunga dan tanaman hias.
Pasar Hari Minggu (ถนนคนเดินท่าแพ), yang dimulai dari gerbang lalu membentang di sepanjang Jalan Ratchadamnoen.[8]
Demonstrasi publik
Pada 19 Juli 2020, sekelompok warga Chiang Mai dan mahasiswa berkumpul di Gerbang Tha Phae untuk berdemonstrasi menentang PM Prayut Chan-o-cha dan pemerintahannya sebagai bagian dari unjuk rasa Thailand 2020. Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri perdana menteri dan amendemen konstitusi, menggemakan seruan yang sama yang dibuat oleh Gerakan Pemuda Merdeka (เยาวชนปลดแอก) dan Persatuan Mahasiswa Thailand, yang berunjuk rasa di Monumen Demokrasi di ibu kota Bangkok pada hari yang sama.[9]