Beberapa sarjana menganggap hak asasi pria atau bagian-bagian dari gerakan tersebut merupakan timbal balik dari feminisme.[1] Beberapa aktivis hak asasi pria menantang klaim-klaim dari kaum feminis bahwa pria memiliki kekuatan, hak atau kemajuan yang lebih besar ketimbang wanita dan berpendapat bahwa feminisme modern terlalu kebablasan dan perhatian tambahan harus ditempatkan pada hak asasi pria.
Klaim dan kegiatan terkait dengan gerakan hak asasi pria dikritik oleh banyak ahli, Southern Poverty Law Center,[2] dan komentator. Beberapa unsur dari gerakan tersebut dianggap misoginistik.[3] Yang lainnya beranggapan bahwa "kerugian" yang dirasa terjadi sebenarnya dipicu oleh terhapusnya keistimewaan laki-laki.[4]
Gerakan di Barat
Paul Elam, pendiri dan operator forum A Voice for Men (AVFM), yang dianggap sebagai teman dekat dan anak didik Warren Farrell, dianggap sebagai salah satu tokoh sentral dalam kancah hak asasi pria di negara berbahasa Inggris. Roy Den Hollander, yang merupakan pengacara terkemuka dalam gerakan hak-hak laki-laki Amerika, juga menerbitkan artikel di situs tersebut pada tahun 2010.[5]